Berkat Kekompakan PNS Senior dan Junior

  • Bagikan

berkatKeberhasilan Meraih Grand Champion

BANYUWANGI – Kerja keras Pemkab Banyuwangi meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah berbuah penghargaan dalam ajang Otonomi Awards 2013 yang digelar The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi (JPIP) yang dilaksanakan di JX International, Surabaya, Sabtu malam (30/11). Kabupaten paling timur Pulau Jawa ini berhasil meraih penghargaan kategori khusus daerah dengan terobosan inovatif bidang pertumbuhan ekonomi.

Selain bidang pertumbuhan ekonomi, Banyuwangi juga menerima penghargaan dalam bidang partisipasi publik. Atas dua penghargaan yang diterima itu, JPIP menganugerahkan grand champion dalam kinerja politik. Dengan tiga penghargaan itu, Banyuwangi menjadi penerima award terbanyak kedua setelah Kabupaten Malang yang menerima dua grand champion.

Award dari JPIP ini diterima Pemkab Banyuwangi setelah tujuh tahun lamanya tidak menerima penghargaan yang sama. JPIP merupakan lembaga independen yang fokus pada peningkatan kapasitas dan inovasi pemerintah daerah di Jatim. Lembaga yang mendapat kepercayaan dari banyak pihak ini, melakukan pemantauan dan penilaian otonomi daerah sejak 2001.” Masyarakat Banyuwangi kompak dan hebat.

Berkat kekompakan itu, kita bisa meraih Otonomi Awards,” ujar Anas. Tanpa sinergi yang baik di antara seluruh elemen, mustahil sebuah program pembangunan bisa dijalankan dengan baik. Banyuwangi terus mengembangkan sinergi antar stakeholder, tokoh masyarakat, tokoh agama, masyarakat luas, ormas, TNI, polri, hingga birokrasi. Kunci sukses pembangunan, kata Anas, ada pada kekompakan semua elemen. “Saya sebagai kepala daerah hanya menjalankan apa yang sudah menjadi kewajiban saya,” katanya.

Di internal birokrasi, lanjut Anas, kekompakan terus dipupuk antara sumber daya manusia (SDM) senior dan junior, mereka berpadu membangun Banyuwangi. Otonomi Awards untuk Banyuwangi ini, kata dia, merupakan bukti betapa kompaknya birokrasi, antara yang senior dan junior saling melengkapi. “Saya banyak didukung oleh jajaran pemkab ini, khususnya anakanak muda di birokrat. Mereka ini tanpa terekspos, mampu berlari mengikuti ritme kerja saya,” tuturnya.

Penghargaan di kategori pertumbuhan ekonomi, partisipasi publik, dan politik menunjukkan meningkatnya kinerja pembangunan di Banyuwangi. Dalam sektor pembangunan ekonomi, kinerja pertu mbuhan cukup menggembirakan. Pada tahun 2010, pertumbuhan ekonomi Banyuwangi mencapai 6,22 persen di atas pertumbuhan nasional sebesar 6,1 persen. Pada tahun 2011, pertumbuhan ekonomi Banyuwangi meroket menjadi 7,02 persen atau jauh melampaui pertumbuhan nasional sebesar 6,5 persen.

Pada 2012, pertumbuhan Banyuwangi naik lagi ke angka 7,27 persen, juga melampaui pertumbuhan nasional yang hanya 6,23 persen. Keberhasilan Banyuwangi meraih penghargaan di dukung langkah strategis. Pertumbuhan ekonominya tinggi, karena dinilai berhasil mengkolaborasikan strategi peningkatan investasi dengan peningkatan pariwisata, seni, dan budaya.

Pada kategori ini, Banyuwangi berhasil menyisihkan empat kabupaten/ kota yang juga memiliki inovatif dalam mendorong pertumbuhan ekonominya, Kabupaten Tuban, Ponorogo, Blitar, dan Kota Probolinggo Anas menambahkan, pihaknya akan terus konsisten membangun infrastruktur, memproteksi dan membangkitkan usaha kecil menengah, mendorong pariwisata, menggerakkan sektor riil, dan menjalin kemitraan dengan swasta.

Untuk mewujudkan pembangunan yang tepat sasaran, partisipasi publik sangat diperlukan. Karena itu, pembangunan yang dilaksanakan di Banyuwangi berbasis asas partisipatoris. Secara umum, program pembangunan yang dijalankan dengan prinsip transparan, akuntabel, dan partisipatif. Transparan artinya penyusunan program dilakukan secara terbuka. Akuntabel artinya pengambil kebijakan dapat dimintai pertanggungjawaban oleh publik. (radar)

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: