sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Kabar gembira datang bagi sebagian Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di September 2025.
Pemerintah resmi menyalurkan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) senilai Rp600 ribu per keluarga, yang sudah bisa dicairkan melalui Bank Mandiri, BSI, dan BRI.
Namun, di balik pencairan ini, masih ada masalah klasik yang membayangi.
Sejumlah warga penerima yang menggunakan Bank BNI mengaku hingga Minggu (31/8) pagi belum melihat saldo bertambah.
Baca Juga: Cara Daftar Penerima Bansos Atensi YAPI Bulan September, Cek Syarat dan Panduan Lengkapnya di Sini!
Pola ini bukan hal baru, sebab BNI kerap terlambat mencairkan bansos, membuat warga gelisah.
“Dari kemarin saya cek saldo, masih kosong. Padahal tetangga di Mandiri sudah masuk sejak kemarin,” keluh seorang penerima BPNT di Bekasi, seperti dikutip dari Radar Bogor.
Dana Cair Tak Serentak
Meski disebut cair merata, distribusi BPNT faktanya tidak berlangsung serentak. Keterlambatan pencairan ini sering memicu keresahan, bahkan spekulasi, di kalangan masyarakat yang sangat bergantung pada bantuan.
Baca Juga: Cek Sendiri NIK KTP Kamu Terdaftar Bansos 2025? Begini Cara Mudah Lewat HP Tanpa Ribet!
Nominal Rp600 ribu tentu membantu, tapi muncul pertanyaan besar. Cukupkah jumlah itu menutup kebutuhan keluarga sebulan penuh?
Harga beras, minyak, gula, hingga biaya sekolah anak terus merangkak naik. Bagi keluarga dengan tiga hingga empat anak, dana ini hanya menutup sebagian kebutuhan pokok.
Masalah Data dan Risiko Salah Sasaran
Selain keterlambatan teknis, persoalan akurasi data juga masih menghantui.
Tidak sedikit warga yang secara ekonomi cukup justru tercatat sebagai penerima, sementara keluarga miskin yang lebih membutuhkan justru terlewat.
Baca Juga: Program MBG di Banyuwangi Menjadi Simbol Kemerdekaan dari Gizi Buruk
Page 2
Pengamat menilai, pemerintah perlu memperbarui Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) agar bansos benar-benar tepat sasaran. Tanpa perbaikan data, risiko salah sasaran akan terus terjadi.
Edukasi dan Pengawasan Jadi Kunci
Dana bantuan tunai juga berpotensi digunakan untuk hal konsumtif yang tidak penting. Tanpa edukasi dan pendampingan, tujuan pemerintah untuk mengurangi angka kemiskinan bisa terhambat.
“Transparansi penyaluran, keterlibatan masyarakat dalam pengawasan, serta program pemberdayaan ekonomi harus diperkuat,” kata seorang pengamat kebijakan sosial.
Presiden Prabowo Subianto juga mengingatkan agar bantuan Rp600 ribu ini digunakan dengan bijak.
Ia menegaskan, bansos hanya bisa menjadi solusi jangka pendek. Untuk jangka panjang, pemerintah perlu menyiapkan kebijakan penciptaan lapangan kerja, stabilisasi harga pangan, serta pendidikan keterampilan agar warga bisa mandiri.
Tanpa langkah itu, bansos hanya akan jadi “obat sementara” bagi luka kemiskinan, sementara akar masalah belum benar-benar terselesaikan. (*)
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Kabar gembira datang bagi sebagian Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di September 2025.
Pemerintah resmi menyalurkan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) senilai Rp600 ribu per keluarga, yang sudah bisa dicairkan melalui Bank Mandiri, BSI, dan BRI.
Namun, di balik pencairan ini, masih ada masalah klasik yang membayangi.
Sejumlah warga penerima yang menggunakan Bank BNI mengaku hingga Minggu (31/8) pagi belum melihat saldo bertambah.
Baca Juga: Cara Daftar Penerima Bansos Atensi YAPI Bulan September, Cek Syarat dan Panduan Lengkapnya di Sini!
Pola ini bukan hal baru, sebab BNI kerap terlambat mencairkan bansos, membuat warga gelisah.
“Dari kemarin saya cek saldo, masih kosong. Padahal tetangga di Mandiri sudah masuk sejak kemarin,” keluh seorang penerima BPNT di Bekasi, seperti dikutip dari Radar Bogor.
Dana Cair Tak Serentak
Meski disebut cair merata, distribusi BPNT faktanya tidak berlangsung serentak. Keterlambatan pencairan ini sering memicu keresahan, bahkan spekulasi, di kalangan masyarakat yang sangat bergantung pada bantuan.
Baca Juga: Cek Sendiri NIK KTP Kamu Terdaftar Bansos 2025? Begini Cara Mudah Lewat HP Tanpa Ribet!
Nominal Rp600 ribu tentu membantu, tapi muncul pertanyaan besar. Cukupkah jumlah itu menutup kebutuhan keluarga sebulan penuh?
Harga beras, minyak, gula, hingga biaya sekolah anak terus merangkak naik. Bagi keluarga dengan tiga hingga empat anak, dana ini hanya menutup sebagian kebutuhan pokok.
Masalah Data dan Risiko Salah Sasaran
Selain keterlambatan teknis, persoalan akurasi data juga masih menghantui.
Tidak sedikit warga yang secara ekonomi cukup justru tercatat sebagai penerima, sementara keluarga miskin yang lebih membutuhkan justru terlewat.
Baca Juga: Program MBG di Banyuwangi Menjadi Simbol Kemerdekaan dari Gizi Buruk