BANYUWANGI, KOMPAS.com – Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, mengalami lonjakan penularan kasus tuberkulosis (TBC/TB paru) pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.
Jumlah kasus TBC di Banyuwangi tercatat meningkat dari 2.940 kasus pada 2024 menjadi 3.057 penderita pada 2025.
Tiga kecamatan dengan angka penularan tertinggi yakni Kecamatan Banyuwangi, Kecamatan Muncar, dan Kecamatan Kalipuro.
Baca juga: Kasus TBC Indonesia Tinggi, Wamenkes: Angkanya Lebih Parah dari India
Banyuwangi juga menjadi salah satu wilayah penerima bantuan 60.000 sachet susu pendamping bagi pasien TBC dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI.
Bantuan tersebut merupakan bagian dari pilot project nasional untuk mendukung percepatan penyembuhan pasien TBC.
Seiring meningkatnya kasus TBC, upaya screening kesehatan mulai digencarkan. Salah satunya dilakukan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Singonegaran yang berlokasi di Jalan Letkol Istiqlah, Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (31/1/2026).
Di lokasi tersebut, para relawan menjalani pemeriksaan kesehatan secara bergiliran, mulai dari pemeriksaan tekanan darah hingga tes dahak untuk mendeteksi potensi infeksi tuberkulosis.
“Kita lagi cek kesehatan untuk TBC bagi relawan. Untuk menjaga dan memonitor kesehatan relawan,” kata Kepala SPPG Singonegaran, Tiara Dewi.
Baca juga: Indonesia Peringkat Pertama Kasus TBC Dunia, Ini Kelompok yang Paling Berisiko
Bekerja sama dengan RS Al Huda, sebanyak 45 relawan mengikuti pemeriksaan kesehatan yang dilakukan atas inisiatif mandiri SPPG Singonegaran.
Antisipasi penularan penyakit
Tiara menilai kesehatan relawan menjadi faktor penting karena sangat memengaruhi keberlangsungan dan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Tim dokter RS Al Huda, Chusnul Imama, menjelaskan pemeriksaan kesehatan tersebut meliputi pemeriksaan fisik, nadi, saturasi, serta pemeriksaan penyakit menular.
“Kita mengambil dahak dari relawan SPPG. Karena seperti kita tahu, resiko penularan cepat karena mereka berkumpul dalam satu ruangan,” kata Chusnul.
Baca juga: Tingkat Kesadaran Warga Rendah, Penularan Kasus TBC di Ambon Naik 131 Persen
Menurut dia, dapur berpotensi menjadi lokasi penularan berbagai penyakit menular, seperti TBC, tifoid, dan hepatitis A, karena berkaitan langsung dengan pengelolaan makanan.
“Peningkatan kasus TBC masih terjadi dan penyakit ini masih menjadi program nasional karena tingkat penularannya yang tinggi di Indonesia, yang merupakan daerah endemis TBC,” tuturnya.
Ke depan, Chusnul menganjurkan agar SPPG secara berkala melakukan pemeriksaan kesehatan yang berkaitan dengan pengelolaan makanan, termasuk hepatitis A dan tifoid, sebagai langkah pencegahan penularan penyakit.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang








