Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

KBRI Teheran Lobi Iran demi Kapal Pertamina, Pakar Ingatkan Kerentanan Cadangan Energi RI

kbri-teheran-lobi-iran-demi-kapal-pertamina,-pakar-ingatkan-kerentanan-cadangan-energi-ri
KBRI Teheran Lobi Iran demi Kapal Pertamina, Pakar Ingatkan Kerentanan Cadangan Energi RI

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Indonesia menggerakkan jalur diplomasi untuk menyelamatkan dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping yang terjebak di Selat Hormuz sejak Iran menutup jalur strategis tersebut pasca serangan AS-Israel pada 28 Februari 2026. Kementerian Luar Negeri memastikan upaya lobi intensif tengah berlangsung di Teheran.

Direktur Jenderal ASPASAF Kemlu Santo Darmosumarto menegaskan bahwa komunikasi diplomatik menjadi satu-satunya jalan yang tersedia saat ini.

“Terkait dengan dua tanker dari pihak Pertamina, hal tersebut sedang di-follow up oleh teman-teman kita di KBRI Teheran. Saat ini sedang dilakukan upaya diplomasi untuk memastikan bahwa kepentingan Indonesia terkait dengan Pertamina itu dapat terus diberikan perlindungan, dari sisi dapat melintas Selat Hormuz dengan aman,” ujarnya di Gedung Kemlu, Jakarta Pusat, Jumat (6/3/2026).

Santo mengakui kondisi di Iran masih belum kondusif, namun koordinasi terus diupayakan. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya mengonfirmasi kedua kapal Pertamina kini bersandar di kawasan tersebut sembari menunggu negosiasi membuahkan hasil.

Situasi ini sekaligus menyoroti kerentanan ketahanan energi Indonesia. Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira mengingatkan bahwa cadangan energi Indonesia masih sangat terbatas dan rentan terhadap gejolak global.

“Cadangan energi Indonesia rentan. Itu kenapa krisis minyak bisa picu stok BBM langka. Tapi solusi menambah cadangan dari 20 hari jadi 3 bulan bukan solusi,” tegasnya.

Bhima mendorong percepatan elektrifikasi transportasi sebagai jawaban struktural jangka panjang.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menambahkan bahwa membangun cadangan energi besar membutuhkan biaya yang tidak kecil.

“Untuk stok BBM selama satu hari saja dibutuhkan alokasi anggaran sekitar Rp2,5 triliun hingga Rp3 triliun,” jelasnya, sembari menekankan bahwa kesiapan fiskal dan infrastruktur menjadi kendala nyata bagi Indonesia.