Masih Belum Stabil, Minta Ijen Disterilkan

BANYUWANGI – Keputusan para penambang belerang di Gunung Ijen yang nekat bekerja saat status gunung tersebut waspada (level II) menjadi atensi berbagai kalangan. Salah satunya adalah Forum Peduli Bencana Indonesia (FPBI) Banyuwangi. Ketua FPBI Banyuwangi, Zaenal Aris Masruchi, mendesak pemkab melakukan sterilisasi segala aktivitas manusia di radius satu kilometer (km) dari kawah gunung. Alasannya, pemkab selaku penanggung jawab penanggulangan bencana wajib melindungi warga dan kawasan dari segala bentuk ancaman bencana.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

“Itu sesuai Pasal 5, 6, dan 26, Undang-Undang (UU) Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana,” ujarnya kemarin (22/5). Zaenal menjelaskan, sterilisasi tersebut diperlukan untuk menghindari jatuhnya korban jiwa. Sterilisasi juga diperlukan untuk menghindari risiko ben- cana yang lebih besar yang sering kali datang tiba-tiba. “Selaku pemangku kepentingan, pemkab, BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam), dan PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), wajib memberikan informasi yang benar kepada masyarakat luas tentang status Gunung Ijen yang masih fluktuatif,” kata dia.

Zaenal juga mendesak alokasi satu persen Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) digunakan untuk meminimalkan risiko bencana. “Pengurangan risiko bencana dapat diproteksi dengan minimal satu persen APBD,” ungkapnya. Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Banyuwangi, Suprayogi mengatakan, beberapa waktu lalu pihaknya sudah melakukan rapat koordinasi dengan instansi terkait.

Rapat tersebut melibatkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Badan Koordinasi Penanggulangan Bencana (BKPB), Polres Banyuwangi, Kodim 0825, dan perwakilan PVMBG. “Dari paparan petugas PVMBG, kita menyimpulkan bahwa pengunjung sementara diimbau tidak naik ke puncak Gunung Ijen,” terangnya. Menurut Suprayogi, BKSDA juga sudah mengedarkan surat imbauan kepada travel agent agar tidak membawa turis ke puncak gunung dengan ketinggian 2,386 meter di atas permukaan laut (dpl) tersebut.

“Surat edaran itu juga disebarkan ke seluruh institusi terkait,” pungkasnya. Tetapi, kenyataan di lapangan berkata lain. Ratusan penambang di Gunung Ijen sudah banyak yang mulai bekerja. Bahkan, para wisatawan sudah banyak yang nekat mendaki puncak gunung tersebut. Kemarin juga dilaporkan bahwa belum ada satu pun kejadian atau kecelakaan yang mengancam keselamatan para penambang dan turis yang mendaki gunung tersebut.

Diberitakan sebelumnya, setelah enam bulan tak bekerja, para penambang belerang di Gunung Ijen tampaknya sudah tidak mampu menahan diri untuk bekerja. Meski status gunung dengan ketinggian 2,386 meter di atas permukaan laut (dpl) tersebut masih waspada (level II), tapi mereka sudah mulai menambang. Itu berarti mereka tidak menghiraukan rekomendasi PVMBG Bandung yang menegaskan bahwa wilayah yang berjarak satu kilometer (km) dari kawah aktif steril dari aktivitas manusia.

Informasi yang berhasil dikumpulkan wartawan koran ini menyebutkan, dari 397 penambang yang bekerja pada PT. Candi Ngrimbi, 115 orang di antaranya sudah mulai bekerja sejak Senin pekan lalu (14/5). Mereka nekat menambang karena tidak memiliki pekerjaan lain. Apalagi, larangan mendaki gunung Ijen sudah berlangsung sejak Desember 2011 lalu. Kepala Bagian Keuangan PT. Candi Ngrimbi, Budiyo Prawito, juga membenarkan adanya aktivitas para penambang tersebut. Dia juga mengakui bahwa ratusan penambang belerang sudah kembali bekerja. “Kemarin (Minggu, 20/5), sebanyak 132 penambang sudah mulai bekerja,” ujarnya. (radar)