Melin Alfi Nurjannah, Santriwati Jago Empat Bahasa Asing

0
292


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Sore Ngajar Bahasa Mandarin, Magrib Belajar Mengaji

DILIHAT sekilas, sosok Melin Alfi Nurjannah tampak seperti halnya perempuan lokal Banyuwangi umumnya. Logat bicaranya pun Indonesia banget. Tidak kebarat-baratan. Tidak pula kemandarin-mandarinan. Juga tidak kentara logat Jepangnya.

Tak heran, ketika dia dimasukkan ke Pondok Pesantren (Ponpes) Adz-Dzikra pertengahan November lalu, para pengurus dan para santri tidak mengetahui kepiawaiannya berbahasa Mandarin, Inggris, dan Jepang. Jangankan kecakapan berbicara bahasa asing, banyak pengurus dan teman-temannya sesama santri yang tidak mengetahui Melin  merupakan cewek blasteran  Taiwan-Indonesia.

Kecakapan Melin berbahasa Mandarin baru terungkap dalam acara peresmian ponpes yang diasuh H. Ahmad Wahyudi  tersebut 26 November 2016. Padahal, prosesi peresmian itu berlangsung sekitar sepekan  setelah anak kedua pasangan  Huang Shi Chun asal Kota Gao Xiong, Taiwan, dan Qona’ah, warga asli Banyuwangi, itu mondok di ponpes yang di dalamnya terdapat Masjid Muhammad  Cheng Hoo tersebut.

Ceritanya, peresmian ponpes  tersebut dihadiri Konsul Jenderal (Konjen) Tiongkok di Surabaya,  Gu Jingqi. Bukan hanya Gu Jingqi,  beberapa ustad asal negeri tirai bambu rela jauh-jauh pergi ke  Banyuwangi untuk menghadiri peresmian ponpes yang bangunannya mengusung arsitektur khas Tiongkok tersebut.

Nah, saat itu Melin melihat beberapa ustad asal Tiongkok dan staf konjen duduk di kursi undangan. Dia mendekat dan  berbicara menggunakan bahasa  Mandarin untuk meminta izin berfoto bersama mereka. “Orang- orang asli Tiongkok itu tampak  terkejut. Termasuk sang konjen,”  kenangnya.

Bukannya langsung melayani  permintaan foto bersama, para  ustad asal Tiongkok itu malah sibuk “mewawancarai” Melin. Mereka bertanya banyak hal.  Mulai pertanyaan apakah di Banyuwangi ada sekolah yang mengajarkan bahasa Mandarin?Dari mana kemampuan berbahasa Mandarin didapat Melin?  dan lain sebagainya.

Singkat cerita, tanya jawab Melin  dan orang-orang Tiongkok itu  diketahui beberapa pengurus  Ponpes Adz-Dzikra. Hingga akhirnya, sang pengasuh ponpes, HA.  Wahyudi, mendengar kabar  tersebut. Bahkan, belakangan  terkuak bahwa selain piawai berbahasa Mandarin, Melin juga  cakap berbahasa Inggris dan  Jepang.

“Tetapi untuk bahasa Jepang, saya baru menguasai  beberapa percakapan umumnya  saja. Karena sebelum pindah ke  Banyuwangi, saya baru enam bulan  belajar bahasa Jepang,” akunya.  Ya, sejak kecil Melin bersama  ayah dan ibunya tinggal di Bali.

Selama menetap di Pulau Dewata,  dia menempuh pendidikan di  sekolah internasional, yakni Universal School, Denpasar. “Saya belajar di Universal School sejak  jenjang SD hingga semester pertama kelas XI SMA,” kata dia. Setelah pindah ke Banyuwangi  sekitar empat bulan lalu, Melin  mondok di Ponpes Adz-Dzikra.

Selain menempuh pendidikan  agama di ponpes, dia juga melanjutkan pendidikan formal. Saat ini Melin bersekolah di SMA 17 Agustus 1945 Banyuwangi.  Sementara itu, setelah mengetahui kepiawaian Melin berbahasa Mandarin, pengurus pondok  memintanya menularkan ilmunya  kepada para santri, khususnya  santri jenjang TK, SD, dan SMP.   Pelajaran bahasa Mandarin dia  berikan tiga kali dalam sepekan, tepatnya setelah salat asar.

“Saya senang mengajari adik-adik belajar bahasa Mandarin. Sebab,  menurut saya, dengan menguasai bahasa Mandarin, peluang mengakses lapangan kerja  semakin besar,” kata dia. Menurut Melin mengajar bahasa  Mandarin kepada anak-anak bisa  dikatakan gampang-gampang susah.

“Ada anak yang mudah memahami  pelajaran yang saya berikan. Ada pula yang lambat. Kuncinya harus   sabar dan telaten,” terangnya.  Di sisi lain, setelah mengajar santri usia SD sampai SMP, giliran  Melin belajar mengaji. Melin bersama para santri jenjang SMP,  SMA, dan perguruan tinggi, mengaji setiap bakda magrib.

Selain belajar pengetahuan  agama, dia juga intens belajar bahasa Arab. Hasilnya, Melin kini piawai berkomunikasi dengan  bahasa Arab.  Menariknya, selain menjadi  pengajar bahasa Mandarin, Melin  kerap kali menjadi guide dadakan  bagi para wisatawan asal Tiongkok  yang berkunjung ke kompleks Ponpes Adz-Dzikra.

“Mungkin  karena arsitektur bangunan  ponpes ini khas Tiongkok, banyak  orang asal Tiongkok dan keturunan Tiongkok yang ke sini  (Ponpes Adz-Dzikra),” akunya.  Kemampuan Melin berbicara, membaca, dan menulis bahasa Mandarin tidak hanya didapat  dari bangku sekolah. Sejak masih  kecil dia sudah diajari berkomunikasi menggunakan bahasa  Mandarin oleh ayahnya.

“Tetapi,  agak jarang diajari ayah. Karena ayah saya bekerja di bidang pelayaran, jadi jarang pulang. Namun,  sejak kelas lima SD, ayah mendesak saya belajar bahasa Mandarin lebih intens,” tuturnya.

Ayah Melin semakin menggenjot  kemampuan bahasa Mandarin  buah hatinya tersebut lantaran  akan memboyong istri dan anak- anaknya mengunjungi keluarga besarnya di Taiwan. “Sebetulnya  saat masih kecil saya sering diajak mengunjungi keluarga besar di Taiwan. Tetapi, karena masih sangat kecil, papa tidak mempermasalahkan saya tidak bisa   berbahasa Mandarin,” pungkasnya. (radar)

Loading...