Peluang Bisnis Kembang Maulud Jelang Peringatan Maulid Nabi SAW

0
4003

maulidSetiap bulan Rabiul Awal, masyarakat Banyuwangi pasti tak bisa lepas dengan budaya endhog-endhogan. Tradisi menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW yang digelar tiap tahun itu rasanya kurang afdhol jika tidak disertai pawai telur hias. Kini, hiasan telur itu menjadi ladang bisnis menggiurkan bagi tangantangan kreatif.

TIDAK dapat dimungkiri, kembang maulud selalu menjadi primadona masyarakat Banyuwangi setiap menjelang perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Apalagi, nyaris se tiap daerah di seantero Bumi Blambangan menggelar pawai endog-endogan keliling kampung untuk memeriahkan peringatan kelahiran Rasulullah itu. Peluang usaha yang cukup menjanjikan itu di sadari betul oleh Halili, 40, warga Lingkungan Karangbaru, Kelurahan Panderejo, Kecamatan Banyuwangi. Sejak lima bulan terakhir, dia sibuk mengkreasi kembang maulud aneka bentuk untuk dipasarkan menjelang perayaan Maulid Nabi Muhammad.

Bahkan, Halili meninggalkan pekerjaannya se bagai penjual pakaian di kawasan Pasar Banyuwangi sejak beberapa pekan terakhir. Alasannya, dia ingin total mempersiapkan kembang maulud yang dia nilai memiliki prospek pemasaran yang lebih baik. “Tahun ini saya memproduksi 50 ribu unit kembang maulud. Saya optimistis semua habis terjual,” ujarnya. Halili mengungkapkan, untuk mengkreasi 50 ribu unit kembang maulud, dia mempekerjakan enam tetangganya. Mereka dibayar borongan sebesar Rp 30 ribu perseribu unit. “Para tetangga itu hanya bertugas mengelem Sedangkan proses pemotongan kertas, meraut bambu, dan lain-lain, saya kerjakan sendiri,” paparnya.

Dikatakan, total biaya yang dia keluarkan untuk membuat 50 ribu unit kembang maulud mencapai Rp 10 juta. Rinciannya, biaya bahan baku yang meliputi kertas, bambu, gelas bekas air mineral, dan lem, sebesar Rp 7 juta. Upah buruh senilai Rp 3 juta. “Kalau kembang maulud ini habis terjual, pendapatan yang saya peroleh sekitar Rp 15 juta,” terang Halili. Menurut Halili, sudah tujuh tahun terakhir dia mengkreasi kem bang maulud setiap menjelang perayaan Maulid. Awalnya, dia hanya membuat seribu unit kembang maulud. Namun, hasil penjualan yang dia kantongi dinilai tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan.

Setahun kemudian, Halili mengkreasi lima ribu unit kembang maulud. Sadar keuntungan yang dia peroleh menjanjikan, dari tahun ketahun dia menambah volume produksinya. “Kembang maulud hasil produksi saya, saya jual seharga Rp 500 sampai Rp 1.000 per unit. Saat ini pangsa pasarnya sudah menyebar tidak hanya di kawasan kota Banyuwangi. Para penjual asal Srono, Genteng, dan be berapa daerah lain, banyak yang kulakan kepada saya,” pungkasnya. (radar)

Lanjutkan Membaca : 1 | 2