Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Plengsengan Sungai Badeng Singojuruh Ambrol 15 Meter, Bangunan Warga Terancam

plengsengan-sungai-badeng-singojuruh-ambrol-15-meter,-bangunan-warga-terancam
Plengsengan Sungai Badeng Singojuruh Ambrol 15 Meter, Bangunan Warga Terancam

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Intensitas hujan deras yang kerap mengguyur wilayah Banyuwangi, Jawa Timur, kembali memicu kerusakan infrastruktur.

Kali ini, plengsengan Sungai Badeng yang berada di Desa sekaligus Kecamatan Singojuruh dilaporkan ambrol akibat tergerus aliran air sungai.

Ambrolnya plengsengan tersebut cukup mengkhawatirkan. Panjang struktur penahan tebing sungai yang runtuh mencapai sekitar 15 meter.

Kondisi ini berpotensi membahayakan bangunan warga yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian.

Ketua Koordinator Sumber Daya Air (Krosda) Singojuruh, Warsini, mengatakan pihaknya telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi plengsengan yang ambrol.

Dari hasil pengecekan awal, ambrolnya struktur tersebut dipicu oleh pohon beringin berukuran besar yang tumbuh tepat di atas plengsengan.

“Pohon beringin itu roboh ke sungai. Akar-akarnya selama ini terus dihantam aliran air sungai, sehingga lama-kelamaan tidak kuat menahan beban dan akhirnya tumbang. Saat roboh, plengsengan ikut ambrol,” ujar Warsini, kemarin (10/2).

Menurut Warsini, kondisi plengsengan tersebut sebelumnya memang sudah mengalami pengikisan tanah atau growong.

Erosi yang terus terjadi membuat struktur penahan tebing sungai semakin rapuh, hingga akhirnya runtuh saat akar pohon tak lagi mampu menahan tekanan aliran air.

Yang lebih mengkhawatirkan, lokasi plengsengan yang ambrol berada sangat dekat dengan bangunan milik warga. Jika pengikisan tanah terus berlanjut, bukan tidak mungkin bangunan di atasnya ikut terdampak.

“Tanah di bawahnya sudah growong kurang lebih sepanjang 15 meter. Kalau terus terkikis air sungai, lama-kelamaan bangunan di atasnya bisa ikut ambrol,” tegasnya.

Sebagai langkah awal penanganan, anggota Krosda Singojuruh langsung melakukan kerja bakti membersihkan pohon beringin yang roboh ke aliran sungai.

Pembersihan dilakukan untuk mencegah terjadinya penyumbatan aliran air Sungai Badeng yang dapat memicu luapan saat debit air meningkat.

“Kami langsung bersih-bersih, mengangkat batang dan ranting pohon beringin yang roboh agar aliran sungai tidak tersumbat. Setelah dibersihkan, aliran air kembali normal,” jelas Warsini.


Page 2

Selain itu, pihak Krosda juga telah melaporkan kejadian tersebut kepada Daerah Aliran Sungai (DAS) Bate sebagai pihak pengawas Sungai Badeng.

Laporan tersebut diharapkan dapat segera ditindaklanjuti dengan langkah penanganan lebih lanjut.

Warsini juga mengimbau masyarakat agar tidak mendirikan bangunan di atas aliran sungai maupun di sempadan sungai. Pasalnya, pengikisan akibat aliran air bersifat alami dan sulit diprediksi, terutama saat musim hujan.

“Kami harap warga lebih waspada dan tidak membangun terlalu dekat dengan sungai. Erosi bisa terjadi kapan saja, apalagi saat curah hujan tinggi,” imbaunya.

Sementara itu, Juru Dam Garit, Heru Mayangkoro, menjelaskan bahwa selama musim hujan kali ini debit air Sungai Badeng sebenarnya tidak pernah berada pada kondisi ekstrem. Ketinggian air relatif stabil.

“Selama musim hujan, debit Sungai Badeng tidak pernah terlalu tinggi. Ketinggian air stabil di atas 30 sentimeter dari alat ukur dam,” jelas Heru.

Meski demikian, Heru menduga ambrolnya plengsengan lebih disebabkan oleh kondisi tanah yang sudah lama mengalami growong. Ditambah lagi, tekanan aliran air yang terus menerus meski tidak ekstrem.

“Diduga plengsengan sudah lama growong, lalu ditambah ketinggian air yang selalu berada di atas 30 sentimeter. Kombinasi itu yang akhirnya membuat struktur tidak kuat,” pungkasnya. (why/sgt)


Page 3

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Intensitas hujan deras yang kerap mengguyur wilayah Banyuwangi, Jawa Timur, kembali memicu kerusakan infrastruktur.

Kali ini, plengsengan Sungai Badeng yang berada di Desa sekaligus Kecamatan Singojuruh dilaporkan ambrol akibat tergerus aliran air sungai.

Ambrolnya plengsengan tersebut cukup mengkhawatirkan. Panjang struktur penahan tebing sungai yang runtuh mencapai sekitar 15 meter.

Kondisi ini berpotensi membahayakan bangunan warga yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian.

Ketua Koordinator Sumber Daya Air (Krosda) Singojuruh, Warsini, mengatakan pihaknya telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi plengsengan yang ambrol.

Dari hasil pengecekan awal, ambrolnya struktur tersebut dipicu oleh pohon beringin berukuran besar yang tumbuh tepat di atas plengsengan.

“Pohon beringin itu roboh ke sungai. Akar-akarnya selama ini terus dihantam aliran air sungai, sehingga lama-kelamaan tidak kuat menahan beban dan akhirnya tumbang. Saat roboh, plengsengan ikut ambrol,” ujar Warsini, kemarin (10/2).

Menurut Warsini, kondisi plengsengan tersebut sebelumnya memang sudah mengalami pengikisan tanah atau growong.

Erosi yang terus terjadi membuat struktur penahan tebing sungai semakin rapuh, hingga akhirnya runtuh saat akar pohon tak lagi mampu menahan tekanan aliran air.

Yang lebih mengkhawatirkan, lokasi plengsengan yang ambrol berada sangat dekat dengan bangunan milik warga. Jika pengikisan tanah terus berlanjut, bukan tidak mungkin bangunan di atasnya ikut terdampak.

“Tanah di bawahnya sudah growong kurang lebih sepanjang 15 meter. Kalau terus terkikis air sungai, lama-kelamaan bangunan di atasnya bisa ikut ambrol,” tegasnya.

Sebagai langkah awal penanganan, anggota Krosda Singojuruh langsung melakukan kerja bakti membersihkan pohon beringin yang roboh ke aliran sungai.

Pembersihan dilakukan untuk mencegah terjadinya penyumbatan aliran air Sungai Badeng yang dapat memicu luapan saat debit air meningkat.

“Kami langsung bersih-bersih, mengangkat batang dan ranting pohon beringin yang roboh agar aliran sungai tidak tersumbat. Setelah dibersihkan, aliran air kembali normal,” jelas Warsini.