Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Profil Rachmat Pambudy, Akademisi IPB di Balik Pernyataan MBG Lebih Mendesak dari Lapangan Kerja

profil-rachmat-pambudy,-akademisi-ipb-di-balik-pernyataan-mbg-lebih-mendesak-dari-lapangan-kerja
Profil Rachmat Pambudy, Akademisi IPB di Balik Pernyataan MBG Lebih Mendesak dari Lapangan Kerja

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Nama Rachmat Pambudy mendadak ramai diperbincangkan publik.

Pernyataannya yang menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lebih mendesak dibanding penciptaan lapangan kerja memantik diskusi luas, bahkan pro dan kontra, di ruang publik.

Namun, di balik pernyataan yang terdengar kontroversial itu, terdapat perjalanan panjang seorang akademisi yang sejak puluhan tahun lalu berkutat pada isu pangan, gizi, dan pembangunan desa.

Cara pandang Rachmat bukanlah gagasan yang lahir seketika setelah duduk di kursi menteri, melainkan hasil akumulasi pengalaman akademik dan lapangan yang panjang.

Sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat membawa perspektif pembangunan yang berangkat dari kebutuhan paling dasar masyarakat.

Pandangan itu terbentuk jauh sebelum ia masuk kabinet Presiden Prabowo Subianto.

Akar Akademik dari Kampus IPB

Rachmat Pambudy lahir di Yogyakarta pada Desember 1956. Meski tumbuh di lingkungan perkotaan dan memiliki peluang menempuh jalan karier yang lebih “gemerlap”, ia justru memilih jalur pertanian.

Selepas SMA pada 1979, Rachmat memutuskan melanjutkan pendidikan ke Institut Pertanian Bogor (IPB University).

Ia meraih gelar sarjana di Fakultas Peternakan IPB pada 1983.

Minatnya pada pembangunan masyarakat kemudian membawanya melanjutkan studi magister di bidang Komunikasi Pembangunan pada 1988, dan menyelesaikan pendidikan doktoral di bidang Penyuluhan Pembangunan pada 1999, juga di IPB.

IPB menjadi rumah intelektual yang membentuk Rachmat. Di kampus inilah ia matang sebagai akademisi dan peneliti yang memusatkan perhatian pada persoalan dasar masyarakat pedesaan: pangan, gizi, akses hidup layak, serta penguatan petani.

Dari Kampus ke Lapangan

Sejak dekade 1980-an, Rachmat aktif mengkaji persoalan pembangunan desa.

Pada 1988, ia mendirikan Unit for Socio and Economic Study and Evaluation (USESE) Foundation, sebuah lembaga riset sosial ekonomi yang fokus pada kajian pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

Di tahun yang sama, ia juga terlibat sebagai pendiri dan komisaris di sejumlah perusahaan serta koperasi agribisnis. Baginya, teori di ruang kelas harus bertemu dengan praktik di lapangan.

Sumber: Dari berbagai sumber, Kaltim Post, alumniipbpedia.id


Page 2

Dalam orasi ilmiahnya bertajuk “Transformasi Dari Petani Menjadi Wiratani (Agripreneur): Strategi Kebangkitan Ekonomi Inklusif Indonesia”, ia menegaskan pentingnya menjadikan petani sebagai pelaku utama ekonomi.

Masuk Kabinet dan Kontroversi MBG

Ketika Presiden Prabowo Subianto menunjuk Rachmat Pambudy sebagai Menteri PPN/Bappenas pada Oktober 2024, banyak pihak melihatnya sebagai representasi kalangan akademisi dalam kabinet.

Pengalaman panjang di sektor pangan dan pedesaan menjelaskan mengapa ia menilai Makan Bergizi Gratis sebagai program yang lebih mendesak dibanding penciptaan lapangan kerja.

Bagi Rachmat, persoalan gizi bukan sekadar isu kesehatan, melainkan fondasi kualitas sumber daya manusia.

“Orang lapar tidak bisa menunggu solusi jangka panjang,” ujarnya dalam sebuah forum, kalimat yang kemudian menjadi sorotan nasional.

Bagi sebagian kalangan, pandangan tersebut memicu kontroversi.

Namun bagi Rachmat Pambudy, prioritas pembangunan selalu berangkat dari satu titik yang sama: kebutuhan paling dasar masyarakat.

Dari sanalah, menurutnya, pembangunan berkelanjutan dapat benar-benar dimulai. (*)

Sumber: Dari berbagai sumber, Kaltim Post, alumniipbpedia.id


Page 3

Kariernya kemudian merambah ke pemerintahan. Pada awal 2000-an, Rachmat dipercaya menjadi Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Pengembangan Agribisnis, lalu diangkat sebagai Staf Ahli Menteri Pertanian RI Bidang Hubungan Antar Lembaga hingga 2004.

Ia juga pernah menjabat sebagai anggota Dewan Pengawas Perum BULOG pada 2003–2007, posisi strategis yang memberinya pandangan langsung tentang tata kelola pangan nasional.

Membela Petani dan Agribisnis Daerah

Selepas dari Kementerian Pertanian, Rachmat semakin aktif dalam pengembangan organisasi petani.

Ia bergabung dengan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), bahkan sempat menjabat sebagai Sekretaris Jenderal sebelum kemudian menjadi Wakil Ketua Dewan Pembina HKTI sejak 2015.

Di organisasi inilah ia banyak berinteraksi langsung dengan aktivis agribisnis dari berbagai daerah, terutama di kawasan Indonesia Timur.

“Saya berkesempatan membantu pengembangan agribisnis di daerah-daerah Timur,” ungkapnya.

Namanya juga dikenal luas di kalangan petani tebu, khususnya di Blora, Jawa Tengah.

Saat menjabat sebagai Direktur Utama PT Gendis Multi Manis Bulog, Rachmat dikenal dekat dengan petani. Ia bahkan dijuluki sebagai “Bapaknya Petani Tebu Blora”.

Di Pabrik Gula (PG) Gendis Multi Manis, ia berani memasang target rendemen hingga 10 persen—angka yang kala itu dinilai ambisius.

“Kami ingin kebangkitan industri gula Indonesia dimulai dari Blora, agar petani menikmati hasil yang lebih baik,” ujarnya pada musim giling 2018.

Salah satu inovasinya, konsep MBS (Masak, Bersih, Segar) Potlot, bahkan dipatenkan dan menjadi pembeda PG tersebut dibanding pabrik gula lain di Jawa Tengah.

Akademisi, Praktisi, dan Guru Besar

Di dunia akademik, Rachmat juga memiliki rekam jejak panjang. Ia pernah menjadi Kepala Bagian Bisnis dan Kewirausahaan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB pada 2008.

Namanya bahkan sempat masuk bursa pemilihan rektor IPB pada 2007.

Selain mengajar, ia aktif sebagai peneliti di Pusat Studi Pembangunan IPB, serta terlibat di Jonggol Animal Science Teaching and Research Unit (JASTRU). Sejumlah karya ilmiah dan penelitian telah ia terbitkan sepanjang kariernya.

Pada 2022, Rachmat dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Penyuluhan Pembangunan IPB University.

Sumber: Dari berbagai sumber, Kaltim Post, alumniipbpedia.id