Puas Lihat Blue Fire, Makan Sahur di Paltuding

0
572

puasMendaki puncak Ijen pada malam hari memang mengasyikkan. Butuh perjuangan keras untuk bisa sampai ke puncak. Kerlap-kerlip kota Banyuwangi terlihat dari ketinggian 2386 m/dpl itu. Ijen memang punya daya pikat bagi siapa saja yang menyapanya. Pelan-pelan kami mulai mendaki Ijen. Untuk mengusir rasa capek, rombongan ada yang memutar lagu-lagu yang tersimpan di Black Berry (BB).


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Praktis selama me nempuh perjalanan, kami tidak men jumpai wisatawan lokal mau pun mancanegara. Yang kami jumpai hanya beberapa penambang be lerang naik-turun memikul belerang dalam keranjang. Mereka seolah tak mengenal lelah demi mendapatkan rupiah. ”Saya baru satu PP (pulang-pergi) ngang kut belerang, Mas. Ini mau naik lagi ke puncak,” ujar Saman, sa lah seorang penambang belerang yang mengaku asal Desa Telemung, Kecamatan Kalipuro.

Daya tahan tubuh rombongan pendakian berbeda-beda. Ada yang bisa jalan cepat, ada pula yang lambat se hingga ketinggalan di belakang. Rom bongan Kapolres Nanang dan Wa kapolres Agus Widodo berada di de pan. Saya termasuk rombongan paling belakang Babinkamtibmas Polsek Licin Aiptu Pri yambodo sempat terkapar di jalan. Nya ris Pak Pri tidak bisa melanjutkan per jalanan karena masuk angin. Sekujur tu buhnya dingin.

Beruntung ada teman yang mengolesi minyak kayu putih. ”Saya nggak bisa kentut. Tubuh ini terasa dingin. Be runtung, setelah keluar angin dan buang air besar, tubuh terasa fi t lagi,” ujar Pak Pri. Tantangan pendakian malam memang ber beda dengan siang hari. Malam hari tak terasa lelah. Apalagi, kami tak bisa melihat ka nan-kiri jalan yang kami lalui. Sepanjang per jalanan, yang terlihat hanya pohon-po hon dan jurang.

Untuk mengusir lelah, be berapa rombongan ada yang memutar lagu-lagu. Kasatnarkoba AKP Watiyo tak henti-hentinya memutar lagu Tutupe Wirang yang didendangkan penyanyi yang kini tengah naik daun, Demi. Berbeda dengan Watiyo, Kanit Pamobvit Ipda Sugiarto malah menyalakan kembang api. Ledakan keras kem bang api membuat pemandangan di langit benar-benar spektakuler. Kilatan kem bang api itu seolah-olah menembus bu lan.

Suaranya pun menggelegar hingga ter dengar ke mana-mana. Tepat pukul 00.30, kami menginjakkan kaki di Pos Bunder, tempat penimbangan be lerang. Lima belas menit kami istirahat sem bari menikmati perbekalan dan menunggu rombongan lain tiba. Untuk bisa ke puncak, butuh waktu setengah jam lagi. Kali ini medan yang kami lalui cukup berat. Se lain embusan angin dan suhu dingin, bau belerang juga sangat menyengat hidung.

Masker pun mulai kami pasang. ”Hati-hati sebentar lagi kita sampai ke pun cak. Tinggal 500 meter lagi sampai,” ujar Kasatsabhara AKP Sudarmaji. Perjalanan ke puncak akhirnya minta ”tumbal”. Mendadak kaki kanan Kabagops Ko m pol Sujarwo kram. Perwira polisi dengan satu mawar di pundak itu akhirnya ber henti di jalan setapak. Penderitaannya ber tambah setelah satu gebok gembok ru mah yang dibawa Pak Jarwo hilang.

”Kaki saya gangguan. Silakan lanjutkan per jalanan. Saya istirahat di sini saja,” ujar Pak Jarwo sembari memegangi kakinya yang kram. Tepat pukul 01.00, rombongan sampai di puncak gunung yang memiliki ketinggian 2386 m/dpl itu. Ada yang berhenti di puncak, ada pula yang nekat turun ke de kat kaldera untuk melihat blue fi re (api biru). Konon blue fi re hanya ada dua di du nia, salah satunya di Indonesia, yakni ka wah Ijen.

Keindahan blue fi re Gunung Ijen benar-benar eksotis.  ”Saya nggak be rani turun. Medannya cukup berat. Apa lagi malam hari, takut terpeleset. Cu kup melihat kawah saja dari sini,” ujar Ka satintelkam AKP Sofyan yang berdiri di dekat plang larangan masuk ke area kal dera. Hanya beberapa orang yang turun ke pe nambangan belerang. Mereka ada lah Kapolres Nanang, kasatnarkoba, ka satreskrim, kasatsabhara, anggota medis polr es, dan Babinkamtibmas Polsek Licin.

Di tempat itu, kapolres sempat foto-foto dengan background penambang belerang dan blue fi re. ”Ijen memang menakjubkan.  Kalau boleh bilang, Ijen ini merupakan bukti kebesaran Allah SWT, kerja keras, dan kebutuhan hidup,” ucap Nanang yang mengaku baru pertama kali ini ke kawah Ijen. Bukti kebesaran Allah, karena tidak mungkin manusia bisa menciptakan keelokan Ijen yang begitu spektakuler.

Kerja keras, lanjut Nanang, artinya butuh perjuangan keras untuk bisa sampai ke puncak. Satu lagi kebutuhan hidup, ka rena kawah Ijen jadi sumber ekonomi para penambang belerang. ”Lihat itu para penambang, dengan beban berat di pun dak, mereka naik-turun mengangkut belerang demi kebutuhan hidup,” ujar Nanang. Rombongan yang tidak berani mendekat ke kawah hanya bisa leyeh-leyeh di atas sem bari menyalakan kembang api.

Kali ini ledakan keras kembang api membuat pe mandangan di atas kaldera benar-benar me nyala. Suaranya juga menggema hingga me nembus dinding-dinding kawah. ”Saya lega bisa sampai ke puncak pada malam hari. Ini pengalaman pertama saya selama bertugas di Banyuwangi,’’ ujar Wakapolres Kompol Agus Widodo. Pukul 01.30, rombongan memutuskan kem bali ke Paltuding.

Dalam perjalanan turun, kami mulai berpapasan dengan turis. Ada wisman dari Malaysia, Hongkong, dan Australia. Wisatawan lokal juga banyak. Mereka melakukan perjalanan malam hari dengan harapan bisa menyaksikan blue fi re. Maklum, cahaya kebiruan dari tumpukan belerang itu hanya bisa disaksikan pada malam hari. Sampai di Paltuding, jumlah rombongan Pol res berjumlah 20 orang, selamat semua.

Se gebok gembok milik Kompol Sujarwo yang hilang ditemukan di tempat duduk Pos Bunder. Wajah lelah berubah menjadi senang. Di tengah kelelahan menempuh per jalanan kaki tersebut, rombongan san tap sahur dengan menu ikan bakar dan nasi tempong. Tepat  pukul 03.30, rom bongan meninggalkan Paltuding dan pu lang ke rumah masing-masing. ”Lain kali kita taklukkan puncak Ijen lagi. Kami masih penasaran belum bisa turun ke dekat kaldera,’’ ujar Kasatlantas AKP Irawan Wicaksono. (radar)

Loading...

Kata kunci yang digunakan :