Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Tak Mau Kecolongan, KAI Siapkan Ratusan Petugas Hadapi Cuaca Ekstrem

tak-mau-kecolongan,-kai-siapkan-ratusan-petugas-hadapi-cuaca-ekstrem
Tak Mau Kecolongan, KAI Siapkan Ratusan Petugas Hadapi Cuaca Ekstrem

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus memperkuat kesiapan operasional guna menghadapi potensi curah hujan ekstrem yang diperkirakan terjadi di sejumlah wilayah pada akhir Januari 2026.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan keselamatan perjalanan kereta api sekaligus menjaga keandalan layanan transportasi berbasis rel di tengah dinamika kondisi cuaca yang semakin menantang.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyampaikan bahwa perusahaan telah menyiagakan sumber daya manusia, peralatan, serta sistem manajemen krisis secara terpadu melalui skema Manajemen Alat Material Untuk Siaga (AMUS).

Menurut Anne, keselamatan perjalanan kereta api menjadi prioritas utama KAI.

Seluruh jajaran di lapangan telah disiapkan untuk merespons setiap potensi gangguan secara cepat, terukur, dan terkoordinasi, terutama yang berkaitan dengan risiko banjir dan gangguan prasarana akibat hujan ekstrem.

Penguatan Sumber Daya Manusia Siaga 24 Jam

Sebagai bagian dari penguatan kesiapsiagaan, KAI menyiapkan 355 tenaga ekstra, 861 Petugas Jaga Lintasan (PJL) tambahan, serta Petugas Penjaga Daerah Rawan yang ditempatkan di titik-titik dengan tingkat kerawanan tinggi di berbagai wilayah operasional.

Para petugas tersebut bekerja dengan sistem siaga 24 jam yang terbagi dalam tiga shift.

Dengan pola ini, pengawasan terhadap kondisi jalur rel dapat dilakukan secara berkelanjutan, baik pada siang maupun malam hari, sehingga potensi gangguan dapat dideteksi sejak dini.

AMUS, Sistem Manajemen Krisis Berbasis Antisipasi

Selain penguatan sumber daya manusia, KAI juga menyiagakan Alat Material untuk Siaga (AMUS) di sejumlah lokasi strategis.

AMUS merupakan sistem manajemen krisis berbasis pre-positioning, di mana alat, material, dan sarana pendukung telah ditempatkan lebih awal di titik-titik rawan untuk mempercepat penanganan apabila terjadi gangguan prasarana.

Secara umum, AMUS memiliki empat pilar utama, yaitu kesiapan alat kerja seperti mesin pemadat badan jalan rel, ekskavator, dan genset; ketersediaan material berupa karung pasir, batu balas, bantalan, potongan rel, serta perlengkapan pendukung lainnya; kesiapan sarana angkut seperti gerbong datar, gerbong balas, dan kendaraan pemeliharaan jalur; serta kesiapan personel yang siaga 24 jam dengan sistem komando terintegrasi antara pusat dan wilayah.

Keberadaan AMUS memungkinkan KAI tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga proaktif dan preventif dalam mengelola risiko cuaca ekstrem.

Setiap potensi gangguan telah dipetakan lengkap dengan skenario penanganannya, sehingga respons di lapangan dapat dilakukan lebih cepat dan aman.

Pemantauan Cuaca dan Inspeksi Intensif Jalur Rel

Dalam mendukung kesiapsiagaan tersebut, KAI secara rutin memantau data prakiraan cuaca dari instansi terkait serta melakukan inspeksi intensif pada titik-titik rawan banjir, genangan, dan pergerakan tanah.


Page 2


Page 3

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus memperkuat kesiapan operasional guna menghadapi potensi curah hujan ekstrem yang diperkirakan terjadi di sejumlah wilayah pada akhir Januari 2026.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan keselamatan perjalanan kereta api sekaligus menjaga keandalan layanan transportasi berbasis rel di tengah dinamika kondisi cuaca yang semakin menantang.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyampaikan bahwa perusahaan telah menyiagakan sumber daya manusia, peralatan, serta sistem manajemen krisis secara terpadu melalui skema Manajemen Alat Material Untuk Siaga (AMUS).

Menurut Anne, keselamatan perjalanan kereta api menjadi prioritas utama KAI.

Seluruh jajaran di lapangan telah disiapkan untuk merespons setiap potensi gangguan secara cepat, terukur, dan terkoordinasi, terutama yang berkaitan dengan risiko banjir dan gangguan prasarana akibat hujan ekstrem.

Penguatan Sumber Daya Manusia Siaga 24 Jam

Sebagai bagian dari penguatan kesiapsiagaan, KAI menyiapkan 355 tenaga ekstra, 861 Petugas Jaga Lintasan (PJL) tambahan, serta Petugas Penjaga Daerah Rawan yang ditempatkan di titik-titik dengan tingkat kerawanan tinggi di berbagai wilayah operasional.

Para petugas tersebut bekerja dengan sistem siaga 24 jam yang terbagi dalam tiga shift.

Dengan pola ini, pengawasan terhadap kondisi jalur rel dapat dilakukan secara berkelanjutan, baik pada siang maupun malam hari, sehingga potensi gangguan dapat dideteksi sejak dini.

AMUS, Sistem Manajemen Krisis Berbasis Antisipasi

Selain penguatan sumber daya manusia, KAI juga menyiagakan Alat Material untuk Siaga (AMUS) di sejumlah lokasi strategis.

AMUS merupakan sistem manajemen krisis berbasis pre-positioning, di mana alat, material, dan sarana pendukung telah ditempatkan lebih awal di titik-titik rawan untuk mempercepat penanganan apabila terjadi gangguan prasarana.

Secara umum, AMUS memiliki empat pilar utama, yaitu kesiapan alat kerja seperti mesin pemadat badan jalan rel, ekskavator, dan genset; ketersediaan material berupa karung pasir, batu balas, bantalan, potongan rel, serta perlengkapan pendukung lainnya; kesiapan sarana angkut seperti gerbong datar, gerbong balas, dan kendaraan pemeliharaan jalur; serta kesiapan personel yang siaga 24 jam dengan sistem komando terintegrasi antara pusat dan wilayah.

Keberadaan AMUS memungkinkan KAI tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga proaktif dan preventif dalam mengelola risiko cuaca ekstrem.

Setiap potensi gangguan telah dipetakan lengkap dengan skenario penanganannya, sehingga respons di lapangan dapat dilakukan lebih cepat dan aman.

Pemantauan Cuaca dan Inspeksi Intensif Jalur Rel

Dalam mendukung kesiapsiagaan tersebut, KAI secara rutin memantau data prakiraan cuaca dari instansi terkait serta melakukan inspeksi intensif pada titik-titik rawan banjir, genangan, dan pergerakan tanah.