Tradisi Makan Nasi Golong Jelang Unas

0
589

tradisiNasi Putih Jernihkan Jiwa, Telur Putihkan Hati Puluhan siswa SMP/MTs kelas IX terlihat duduk bersila di atas tikar yang dibeber di halaman salah satu lembaga pendidikan yang ada di Jalan Kolonel Sugiono, Kelurahan Tukang Kayu, Kecamatan  Banyuwangi. Dengan mengenakan pakaian busana muslim, mereka tampak berjejer rapi. Dengan dibimbing salah satu ustadz berpakaian serba putih, para siswa yang pagi ini akan mengikuti ujian nasional (unas), itu tampak khusu mengikuti setiap bacaan kalimah toyyibah yangdipandu oleh sang ustadz.

“Mari kita berdoa bersama, semoga lulus dengan nilai baik dalam ujian nanti,” ajak ustadz Abdul Fatah. Sembari menundukkan wajah, puluhan siswa itu membaca kalimah toyyibah bersama sang ustadz hingga 30 menit lamanya. Selama doa bersama ini berlangsung, tidak terdengar ada celoteh dari mereka. “Mari kita pejamkan mata sambil berdoa,” seru ustadz Sidiq yang didaulat memimpin doa. 

Ustadz yang biasa disapa Gus Sidiq ini, mengajak pada para siswa untuk minta maaf pada sang Kholik, atas perbuatannya yang telah berani pada kedua orang tua. “Ibu telah mengandung kita, merawat kita dengan kasih sayang, tapi kita sering berbohong dan berani,” kata Gus Sidiq.Kata-kata sentuhan yang meluncur dari Gus Sidiq, ternyata membuat para siswa tersentuh. Tetesan air mata mengucur dari kedua mata mereka.

Saling berangkulan dan minta maaf pada sesama, dilakukan pada akhir doa bersama ini. “Mari kita berangkulan dan saling minta maaf pada teman,” pinta Gus Sidiq. Puncak doa bersama dalam tradisi ini adalah membagi nasi golong. Setiap siswa yang hadir, mendapat sebungkus nasi yang di dalamnya ada telur godog. Selanjutnya, mereka makan bersama bungkusan itu sembari duduk melingkar. “Makan nasi golong ini merupakan tradisi turun temurun,” cetus ustadz Abdul Fatah. 

Nasi golong itu berupa bungkusan nasi yang di dalamnya ada telur rebus. Untuk makan, menggunakan sayur daun kelor yang dilengkapi dengan sambal. “Semuanya itu memiliki makna sendiri,” cetus tokoh masyarakat yang tinggal di Kelurahan Tukang Kayu itu. Nasi putih yang disuguhkandalam tradisi ini, bagi warga Using bermakna menjernihkan jiwa. Sedang putih telur, dipercaya bisa memutihkan hati. “Kalau sayur kelor itu untuk melunturkan hal yang gaib dan menangkal gangguan dari luar,” bebernya.

Pada tradisi nasi golong juga disuguhkan jenang abang (merah). Makanan ini, untuk menjaga keselamatan bagi semua, terutama yang akan mengikuti ujian. “Orang dulu, itu sering melaksanakan makan nasi golong ini. Akan masuk sekolah atau masuk pesantren, juga melaksanakan makan nasi golong,” cetusnya. Meski sudah melaksanakan tradisi nasi golong, Ustadz Fatah tetap menekankan pada para siswa untuk tidak lupa belajar. Sebab, belajar itu yang paling penting dalam menghadapi ujian. “Jangan lupa belajarnya,”cetusnya. (radar)