Bertahan Hidup dengan Usaha Servis Elektro

0
232
Hariyanto memperbaiki lampu pendeteksi uang milik pelanggan di rumahnya Dusun Suko, Desa Benelan Kidul, Kacamatan Singojuruh, kemarin (21-7).

USAI salat Jumat, rumah Hariyanto, 34, di Dusun Suko, Desa Benelan Kidul, Kecamatan Singojuruh, terlihat sepi. Rumah sederhana itu, pintunya tampak tertutup dan terkunci. Setelah beberapa kali namanya dipangil, pria tuna daksa dengan kedua kakinya lumpuh itu keluar dari rumah tetangganya.

Sambil senyum, pemuda itu mengajak Jawa Pos Radar Banyuwangi untuk ke rumah yang ditempati itu. “Ke sini saja, ini rumah paman saya. Kebetulan saya di suruh menjaga karena paman kerja di Bali. Rumah saya itu kotor karena kurang dibersihkan,” cetus Hariyanto.

Hariyanto terlihat duduk di salah satu kursi di rumah yang disebut milik pamannya sambil memegangi kakinya yang cacat. Sesekali, dia menarik salah satu kakinya untuk memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman.

“Saat lahir, saya sebenarnya normal,” katanya memulai perbincangan. Hariyanto yang masih suka membujang itu terlahir kembar. Kembarannya, Hariyadi, 34, kini sudah menikah dan tinggal di daerah Kecamatan Genteng.

Adiknya itu, bekerja dengan jualan pecahan kaca. “Saya mulai cacat saat umur dua tahun, saat itu saya terjatuh dan sakit,” ujarnya. Selain Hariyadi, Hariyanto mengaku masih punya adik lagi, Endri, 28.

Adiknya itu bekerja tukang ojek dan mindring (menjual barang dengan keliling). Kedua saudaranya sempat sekolah tapi hanya lulus SD. “Saya tidak pernah sekolah sama sekali, oleh orang tua pernah diajari menulis dan membaca,” ungkapnya.

Sambil menahan napas, Hariyanto mengungkapkan kalau selama ini bersama adiknya Endri, harus banting tulang untuk bertahan hidup. “lbu saya meninggal tahun 2000, dan bapak tahun 2015. Sejak itu, saya dan adik tinggal berdua,” terangnya.

Kedua orang tuanya yang tergolong miskin, tidak meninggalkan harta warisan. Sehingga, keduanya harus berusaha mencari ekonomi sendiri. Adiknya berusaha mencari pekerjaan, tapi hanya bisa menjadi tukang ojek dan mindring dengan penghasilan yang pas-pasan.

Sedang dirinya yang tidak bisa keluar rumah, harus berusaha untuk bisa membantu adiknya. “Dulu, saya bekerja memasang monte, setahun lalu berhenti,” katanya. Tanpa sengaja Hariyanto kenal dengan Wasir, warga Desa Sraten, Kecamatan Cluring.

Wasis yang juga tunadaksa dan mahir dalam elektro, itu mengajari cara memperbaiki televisi, lampu, dan kipas angin. Tak hanya itu, dengan bekal semangat, di tahun 2015 ikut kursus keterampilan di Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan.

“Saat itu bapak masih ada, saya belajar di Bangil hingga beberapa bulan sampai bisa menservis elektronik. Saya juga diberi alat dari sana,” ungkapnya. Dengan banting tulang dari pemasang monta menjadi tukang elektro, Hariyanto mengaku bisa bertahan hidup.

“Dengan bekerja seperti ini, dan adik sebagai tukang ojek, alhamdulillah cukup untuk dimakan, kalau yang masak, ya adik saya,” cetusnya. Hariyanto berharap bisa terus menjalani hidup dengan berkreasi.

Usaha servis barang elektro yang ditekuni, sebenarnya akan dikembangkan. Tapi, itu sangat sulit karena tidak punya modal. “Rumah saya sering difoto-foto, tapi bantuan tetap belum pernah ada,” katanya. (radar)

Loading...