Komunitas Sijum, Keliling Masjid Banyuwangi dengan Sedekah Nasi Jumat Gratis

0
176
Loading...
Sekelompok ibu-ibu berbagi nasi Jumat (Si-Jum) secara gratis di sejumlah masjid di Banyuwangi

Sudah delapan pekan terakhir ibu-ibu muda yang bergabung dalam Komunitas Sijum Banyuwangi beraksi. Setiap Jumat mereka mendatangi masjid-masjid untuk membagikan nasi gratis.

SIGIT HARIYADI, Banyuwangi

BELASAN perempuan berkumpul di halaman depan sebelah utara Masjid Agung Baiturrahman (MAB) Banyuwangi, Jumat siang (1/12). Tak lama berselang, satu mobil warna hitam menghampiri mereka.

Begitu mobil jenis station wagon itu berhenti, dua di antara belasan perempuan yang tengah berkumpul itu langsung menghampiri. Satu perempuan membuka tengah mobil sebelah kiri. Satu yang lain membuka pintu tengah sebelah kanan.

Ternyata dua perempuan itu tidak masuk ke mobil. Keduanya hanya mengambil tas plastik besar dari dalam mobil. Tas kresek itu kemudian diserahkan ke teman-temannya. ”Ayo tulungono. Ning mobil jek akeh. (Ayo bantu. Di dalam mobil masih banyak, Red),” ujar salah satu perempuan.

Kresek-kresek yang dikeluarkan dari dalam mobil itu ternyata berisi puluhan bungkus nasi. Bungkusan nasi itu kemudian ditata rapi pada satu meja kayu berukuran jumbo tepat di belakang pintu masuk halaman MAB sebelah utara.

Selanjutnya, satu mobil yang lain datang. Kesibukan serupa pun terulang. Bahkan, ada pula ratusan bungkus nasi yang diangkut sepeda motor niaga beroda tiga. Selain diletakkan di belakang pintu gerbang sebelah utara MAB, bungkusan nasi tersebut juga ditata di sekitar pintu sebelah selatan. Totalnya mencapai 1.500 bungkus lebih.

Ternyata, ribuan bungkus nasi tersebut tidak hendak dijual. Melainkan untuk dibagikan secara cuma-cuma usai salat Jumat.

Ya, para perempuan yang membagikan nasi secara gratis tersebut adalah para anggota Komunitas Berbagi Nasi Hari Jumat alias ”Sijum”. Gerakan bagi-bagi nasi tersebut sudah dilakukan sedikitnya delapan kali. Seluruhnya dipusatkan di masjid-masjid di Banyuwangi.

Rinciannya, tiga kali kegiatan berbagi nasi gratis digelar di Masjid Kodim 0825 Banyuwangi. Tiga kali digelar di masjid kompleks kantor Pemkab Banyuwangi. Satu kali di masjid jalan MH. Thamrin Banyuwangi, dan Jumat kemarin digelar di MAB.

Anggota Komunitas Sijum Banyuwangi siap membagikan nasi di Masjid Agung Baiturrahman

Koordinator Komunitas Sijum Banyuwangi Wulandari mengatakan, kegiatan berbagi nasi gratis sengaja dipusatkan di masjid-masjid. Alasannya, sedekah yang mereka bagikan tidak banyak. Karena itu, sedekah tersebut harus benar-benar tepat. ”Dengan dibagikan di masjid usai salat Jumat, sedekah bisa tepat tempat, tepat waktu, dan tepat sasaran,” ujarnya.

Menurut Wulandari, pembagian nasi secara cuma-cuma itu dia nilai tepat tempat karena sedekah disalurkan di masjid sekaligus memuliakan rumah Allah. Juga tepat waktu karena ada banyak keistimewaan bersedekah di hari Jumat.

”Selain itu, kami berharap sedekah tepat sasaran. Yakni diberikan kepada para jamaah salat. Selain diberikan kepada para jamaah salat Jumat, kalau ada kelebihan, nasi juga kami bagikan on the spot, misalnya dibagikan ke para tukang becak, dan lain-lain,” kata perempuan yang karib disapa Wulan tersebut.

Wulan menambahkan, cita-cita Komunitas Sijum Banyuwangi sederhana. Dia berharap, umat Islam semakin sadar bahwa semua permasalahan, solusinya ada di masjid. ”Termasuk jika merasa lapar. Dengan datang ke masjid, bisa dapat makanan secara cuma-cuma,” tutur warga Perum Villa Bukit Mas Blok FF-16 tersebut.

Lebih lanjut Wulan mengatakan, Komunitas Sijum memang telah melakukan gerakan bagi-bagi nasi sebanyak kurang lebih delapan kali setiap Jumat. Namun, komunitas tersebut baru resmi terbentuk pada 13 November lalu. ”Saat ini anggota Sijum Banyuwangi sekitar 26 orang. Ada yang berasal dari wilayah Kota Banyuwangi dan sekitarnya. Ada pula yang berasal dari wilayah selatan Banyuwangi. Termasuk dari Kecamatan Genteng,” imbuhnya.

Masih menurut Wulan, Komunitas Sijum telah ada di sekitar 65 kota se-Indonesia. Komunitas ini diinisiasi oleh penulis buku Rezeki Level 9 Ustad Andre Raditya.

Lantas, dari mana dana yang digunakan untuk bagi-bagi nasi secara cuma-cuma tersebut didapat?

Humas Komunitas Sijum Banyuwangi Evi Setyaningsih mengatakan, selain berasal internal anggota, ada pula warga Banyuwangi yang bekerja di luar daerah yang ikut berdonasi. Bentuk donasinya pun beragam. Ada yang mendonasikan uang tunai, ada pula yang mendonasikan nasi bungkus.

Bahkan, imbuh Evi, ada pula warga yang berdonasi dalam bentuk pakaian bekas layak pakai maupun pakaian baru. Untuk sementara, pakaian bekas layak pakai tersebut dijual kepada masyarakat umum dengan harga seikhlasnya.

”Namun, ke depan kami berencana mengumpulkan pakaian bekas layak pakai tersebut. Setelah terkumpul banyak, kami akan menggelar semacam bazar baju bekas di daerah-daerah yang ditinggali banyak warga miskin. Jadi, selain mendapatkan dana tambahan untuk membagikan nasi gratis, kami juga bisa membantu warga kurang mampu memiliki pakaian layak pakai dengan harga yang tidak ditentukan. Mereka bisa membayar se-ikhlas mereka,” kata dia.

Sementara itu, Wulan menambahkan, pihaknya tidak menentukan nominal minimal donasi. Masyarakat yang ingin menyumbang satu bungkus nasi pun akan diterima. Begitu juga dengan donasi dalam bentuk uang tunai. Tidak ada batas minimal. ”Kami mengusung spirit the power of receh. Namun, jika dikumpulkan, uang receh yang terkumpul bisa memberikan manfaat yang berarti bagi orang yang membutuhkan,” ujarnya.

Begitulah gerakan yang dilakukan Komunitas Sijum Banyuwangi. Meski mungkin Anda tidak tertarik bergabung, semoga apa yang mereka lakukan bisa menginspirasi kita untuk berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan.

Loading...