Alat Musik Hadrah di Kedungliwung

0
1626

Seluruh proses dari awal hingga akhir dikerjakan sendiri oleh bapak-anak M. Sholeh dan Nur Hakim. Setelah Sholeh meninggal dunia setahun lalu, Nur Hakim mengaku kerepotan mengurus usaha kerajinan tersebut. “Dari awal berdiri, usaha kerajinan kami tidak menggunakan karyawan, karena mengunggulkan kualitas,” jelas Nur Hakim. Selama ini usaha pembuatan alat musik tersebut tidak kesulitan bahan baku.

Mereka sudah memiliki langganan kulit kambing dan kulit sapi di Kecamatan Genteng. Mereka yang selalu memasok. Begitu juga dengan kayu frame rebana, mereka sudah menggandeng pengusaha kayu gelondongan di Kecamatan Genteng. Kayu yang digunakan adalah kayu mahoni dan kayu nangka. “Dulu, kami pernah menggunakan kayu trembesi dan kayu sawo. 

Namun, karena sekarang kayu tersebut susah dicari, kami beralih menggunakan kayu mahoni dan nangka,” jelas Nur Hakim. Bukan tanpa pertimbangan dia memilih kayu mahoni dan kayu nangka untuk frame rebana. Dua jenis kayu tersebut ternyata memiliki kepadatan yang baik. Selain itu, serat kayunya besar, sehingga kualitas suara yang dihasilkan baik. Yang menarik, rebana made in Singojuruh sudah dikenal di penjuru Nusantara. Konsumen yang memesan rebana tak hanya berasal dari Banyuwangi dan sekitarnya.

Ternyata, pemesan rebana made in Kedungliwung itu juga datang dari berbagai wilayah di Indonesia,bahkan dari luar negeri.  Terbaru, pemesan rebana made ini Kedungliwung adalah warga Malaysia. Sejauh ini, perbulan produsen rebana itu sedikitnya menerima order tiga set alat musik. Satu set alat musik tersebut biasanya terdiri atas sembilan rebana, tiga jidor, dua kendang, satu pasang gong, dan satu pasang kethuk. (radar)

Lanjutkan Membaca : 1 | 2