sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Papua dikenal sebagai salah satu wilayah dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.
Hamparan hutan hujan tropisnya bukan hanya menjadi rumah bagi ribuan spesies flora dan fauna endemik, tetapi juga memainkan peran strategis dalam menjaga keseimbangan iklim global.
Di tengah tantangan deforestasi, degradasi lingkungan, serta kompleksitas tata kelola kawasan hutan, keberadaan sumber daya manusia yang kompeten dan berpengalaman menjadi kunci utama keberhasilan konservasi.
Salah satu sosok yang konsisten mendedikasikan diri dalam upaya pelestarian hutan Papua adalah Johanes Wiharisno, alumni Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 1996.
Saat ini, Johanes mengemban amanah sebagai Kepala Bidang Teknis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua Barat Daya.
Dalam perannya tersebut, Johanes aktif terlibat dalam berbagai kegiatan konservasi, pengelolaan sumber daya alam, hingga penguatan basis data kehutanan sebagai fondasi penting dalam penyusunan kebijakan yang berkelanjutan.
Inventarisasi Hutan Berbasis Tipe Ekosistem
Dalam kurun waktu kurang dari satu tahun terakhir, Johanes menjadi penggagas inisiasi Rancangan Teknis Inventarisasi Hutan berbasis tipe ekosistem di Papua.
Inisiatif ini dinilai sebagai langkah strategis untuk menjawab kebutuhan data kehutanan yang lebih akurat, kontekstual, dan sesuai dengan karakteristik unik hutan Papua.
“Papua tidak bisa diperlakukan dengan pendekatan inventarisasi yang seragam. Keragaman tipe ekosistemnya—mulai dari hutan dataran rendah, rawa gambut, mangrove, hingga hutan pegunungan—membutuhkan rancangan teknis yang spesifik dan berbasis karakter ekosistem,” ujar Johanes, seperti dilansir dari laman kagama.id.
Pendekatan ini dirancang untuk menghasilkan data yang tidak hanya bersifat kuantitatif, tetapi juga mampu menggambarkan kondisi ekologis, potensi keanekaragaman hayati, serta tingkat kerentanan masing-masing ekosistem hutan.
Fondasi Kebijakan Konservasi Berkelanjutan
Johanes menegaskan bahwa inventarisasi hutan bukan sekadar kegiatan teknis pengumpulan data.
Lebih dari itu, inventarisasi merupakan fondasi utama dalam menentukan arah kebijakan pengelolaan dan perlindungan hutan Papua dalam jangka panjang.
Page 2
“Data yang baik akan melahirkan kebijakan yang baik. Tanpa inventarisasi yang kuat dan berbasis ekosistem, kita berisiko salah dalam menentukan arah pengelolaan hutan Papua,” tegasnya.
Data hasil inventarisasi tersebut diharapkan dapat menjadi dasar dalam perencanaan pengelolaan kawasan, pengawasan hutan, penyusunan peta kerawanan, hingga penguatan kawasan konservasi, khususnya di wilayah Papua Barat Daya yang memiliki bentang alam dan ekosistem sangat beragam.
Peran Masyarakat Adat dan Pengetahuan Lokal
Sebagai rimbawan lulusan UGM, Johanes membawa nilai-nilai keilmuan, integritas, dan pengabdian yang selama ini menjadi ciri khas alumni Kehutanan UGM.
Ia meyakini bahwa ilmu kehutanan tidak boleh berhenti di ruang akademik, tetapi harus hadir langsung di lapangan dan menyatu dengan realitas sosial serta budaya masyarakat setempat.
“Konservasi di Papua tidak bisa dilepaskan dari masyarakat adat. Rancangan teknis inventarisasi ini juga harus menghormati pengetahuan lokal dan menjadi jembatan antara sains kehutanan dan kearifan tradisional,” ungkap Johanes.
Pendekatan ini dinilai penting agar kebijakan konservasi tidak hanya bersifat teknokratis, tetapi juga memiliki legitimasi sosial dan budaya di tingkat tapak.
Dukungan Pemangku Kepentingan
Inisiatif inventarisasi hutan berbasis tipe ekosistem yang digagas Johanes mendapat perhatian dari berbagai pemangku kepentingan.
Pendekatan tersebut dinilai sejalan dengan upaya penguatan tata kelola kehutanan, perlindungan keanekaragaman hayati, serta pencegahan deforestasi dan degradasi hutan di Papua.
Selain itu, data berbasis ekosistem diyakini mampu mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti (evidence-based policy), baik di tingkat teknis lapangan maupun perumusan kebijakan strategis.
Dedikasi untuk Hutan Papua
Melalui dedikasi dan konsistensinya sebagai pejabat teknis di lingkungan konservasi, Johanes Wiharisno menunjukkan bahwa peran alumni kehutanan tidak berhenti di dunia akademik.
Pengabdian nyata di lapangan menjadi bukti bahwa konservasi membutuhkan kombinasi ilmu pengetahuan, pengalaman praktis, dan komitmen moral.
Kiprah Johanes di Papua Barat Daya menjadi contoh bahwa menjaga hutan Papua berarti menjaga masa depan, bukan hanya bagi masyarakat setempat, tetapi juga bagi generasi mendatang dan dunia secara global. (*)
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Papua dikenal sebagai salah satu wilayah dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.
Hamparan hutan hujan tropisnya bukan hanya menjadi rumah bagi ribuan spesies flora dan fauna endemik, tetapi juga memainkan peran strategis dalam menjaga keseimbangan iklim global.
Di tengah tantangan deforestasi, degradasi lingkungan, serta kompleksitas tata kelola kawasan hutan, keberadaan sumber daya manusia yang kompeten dan berpengalaman menjadi kunci utama keberhasilan konservasi.
Salah satu sosok yang konsisten mendedikasikan diri dalam upaya pelestarian hutan Papua adalah Johanes Wiharisno, alumni Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 1996.
Saat ini, Johanes mengemban amanah sebagai Kepala Bidang Teknis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua Barat Daya.
Dalam perannya tersebut, Johanes aktif terlibat dalam berbagai kegiatan konservasi, pengelolaan sumber daya alam, hingga penguatan basis data kehutanan sebagai fondasi penting dalam penyusunan kebijakan yang berkelanjutan.
Inventarisasi Hutan Berbasis Tipe Ekosistem
Dalam kurun waktu kurang dari satu tahun terakhir, Johanes menjadi penggagas inisiasi Rancangan Teknis Inventarisasi Hutan berbasis tipe ekosistem di Papua.
Inisiatif ini dinilai sebagai langkah strategis untuk menjawab kebutuhan data kehutanan yang lebih akurat, kontekstual, dan sesuai dengan karakteristik unik hutan Papua.
“Papua tidak bisa diperlakukan dengan pendekatan inventarisasi yang seragam. Keragaman tipe ekosistemnya—mulai dari hutan dataran rendah, rawa gambut, mangrove, hingga hutan pegunungan—membutuhkan rancangan teknis yang spesifik dan berbasis karakter ekosistem,” ujar Johanes, seperti dilansir dari laman kagama.id.
Pendekatan ini dirancang untuk menghasilkan data yang tidak hanya bersifat kuantitatif, tetapi juga mampu menggambarkan kondisi ekologis, potensi keanekaragaman hayati, serta tingkat kerentanan masing-masing ekosistem hutan.
Fondasi Kebijakan Konservasi Berkelanjutan
Johanes menegaskan bahwa inventarisasi hutan bukan sekadar kegiatan teknis pengumpulan data.
Lebih dari itu, inventarisasi merupakan fondasi utama dalam menentukan arah kebijakan pengelolaan dan perlindungan hutan Papua dalam jangka panjang.








