Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

BC Pioner 88 Kembali Angkat Sisa Bangkai KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali, Ditarget Tuntas 17 Februari

bc-pioner-88-kembali-angkat-sisa-bangkai-kmp-tunu-pratama-jaya-di-selat-bali,-ditarget-tuntas-17-februari
BC Pioner 88 Kembali Angkat Sisa Bangkai KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali, Ditarget Tuntas 17 Februari

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Kapal crane BC Pioner 88 kembali berlayar ke perairan Selat Bali, Jumat (13/2).

Setelah sehari sebelumnya meletakkan ratusan ton besi hasil evakuasi, kapal tersebut kembali mengambil sisa bangkai KMP Tunu Pratama Jaya yang masih berada di dasar laut.

Perusahaan pengangkat bangkai kapal, PT Buto, menargetkan seluruh proses pengangkatan dapat tuntas maksimal pada Selasa (17/2).

Saat ini, sekitar 20 persen bagian kapal masih tersisa di kedalaman laut, berupa satu komponen besar yang diduga bagian lambung depan kapal.

“Setelah meletakkan muatan, kapal crane kembali untuk mengambil sisa kapal yang masih ada,” kata perwakilan PT Buto, Jonathan Chandra.

Target Tiga Hari, Sekali Angkat

Jonathan menegaskan, pihaknya menargetkan sisa bangkai kapal bisa diangkat dalam waktu tiga hari. Jika kondisi cuaca mendukung, proses pengangkatan diperkirakan dapat dilakukan dalam sekali angkat.

“Kalau tidak ada gangguan cuaca, tiga hari sudah selesai. Itu (pengangkatan sisa kapal) bisa dilakukan dalam sekali angkat,” imbuhnya.

Setelah seluruh bagian kapal terangkat, bangkai akan kembali dibawa ke daratan seperti sebelumnya. Selanjutnya, material besi tersebut dikirim ke Surabaya untuk dilebur.

Ia menambahkan, setelah menyelesaikan misi pengangkatan KMP Tunu, kapal BC Pioner 88 akan segera bergeser ke perairan Masalembo untuk operasi berikutnya. Karena itu, proses di Selat Bali dikebut agar sesuai jadwal.

Sebelumnya, pengangkatan bangkai kapal yang dimulai sejak 26 Januari itu ditargetkan rampung dalam dua pekan. Namun, sejumlah faktor teknis dan kondisi laut membuat proses memerlukan waktu lebih panjang.

Pastikan Tak Ada Sisa di Dasar Laut

Jonathan memastikan tim akan melakukan pengecekan menyeluruh sebelum menyatakan proses evakuasi selesai.

Pihaknya akan menurunkan robot bawah laut atau Remotely Operated Vehicle (ROV) guna memastikan tidak ada bagian kapal maupun muatan yang tertinggal di dasar laut.

“Kita akan turunkan robot bawah laut (ROV) untuk melihat kondisi di bawah laut. Jadi kita pastikan dulu sudah tidak ada bagian yang tertinggal di bawah laut,” tegasnya.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan keselamatan pelayaran serta kebersihan lingkungan laut tetap terjaga.


Page 2

Sehari sebelumnya, Kamis (12/2), ratusan ton besi kerangka KMP Tunu Pratama Jaya tiba di dermaga Pantai Marina Boom, Banyuwangi.

Setelah 18 hari proses pengangkatan, kapal crane BC Pioner 88 akhirnya merapat membawa hasil evakuasi.

Sebagian besar bangkai kapal telah dijagal atau dipotong di dasar laut untuk memudahkan pengangkatan. Akibatnya, bentuk kapal dan muatan nyaris tak lagi utuh, didominasi kerangka besi berkarat.

Jonathan menyebutkan, sekitar 80 persen bagian kapal telah berhasil diangkat. Total estimasi muatan yang dibawa mencapai 300 ton.

“Estimasi muatan yang dibawa sekitar 300 ton, terdiri dari bagian kapal, 14 truk, 2 mobil, dan empat motor. Semuanya kita ambil dari kedalaman 56 meter,” ujarnya.

Proses pemindahan muatan dari kapal crane ke truk pengangkut diperkirakan memakan waktu dua hingga tiga hari. Rangka kapal akan dipotong lebih kecil untuk mempermudah distribusi ke Surabaya.

“Bangkai kapal akan dipotong dulu, setelah itu kita akan pindahkan ke Surabaya, mungkin menggunakan 15 sampai 20 truk,” tegasnya.

Dikebut Sebelum Pindah ke Masalembo

Dengan sisa 20 persen yang masih berada di dasar laut, PT Buto optimistis seluruh proses pengangkatan KMP Tunu Pratama Jaya dapat segera dirampungkan.

Target penyelesaian maksimal 17 Februari menjadi batas waktu sebelum BC Pioner 88 melanjutkan tugas ke lokasi lain.

Jika tak ada kendala cuaca maupun teknis, Selat Bali akan kembali bersih dari sisa bangkai kapal dalam beberapa hari ke depan.

Proses akhir akan memastikan tidak ada lagi potongan rangka maupun kendaraan yang tertinggal di kedalaman 56 meter tersebut. (fre/aif)


Page 3

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Kapal crane BC Pioner 88 kembali berlayar ke perairan Selat Bali, Jumat (13/2).

Setelah sehari sebelumnya meletakkan ratusan ton besi hasil evakuasi, kapal tersebut kembali mengambil sisa bangkai KMP Tunu Pratama Jaya yang masih berada di dasar laut.

Perusahaan pengangkat bangkai kapal, PT Buto, menargetkan seluruh proses pengangkatan dapat tuntas maksimal pada Selasa (17/2).

Saat ini, sekitar 20 persen bagian kapal masih tersisa di kedalaman laut, berupa satu komponen besar yang diduga bagian lambung depan kapal.

“Setelah meletakkan muatan, kapal crane kembali untuk mengambil sisa kapal yang masih ada,” kata perwakilan PT Buto, Jonathan Chandra.

Target Tiga Hari, Sekali Angkat

Jonathan menegaskan, pihaknya menargetkan sisa bangkai kapal bisa diangkat dalam waktu tiga hari. Jika kondisi cuaca mendukung, proses pengangkatan diperkirakan dapat dilakukan dalam sekali angkat.

“Kalau tidak ada gangguan cuaca, tiga hari sudah selesai. Itu (pengangkatan sisa kapal) bisa dilakukan dalam sekali angkat,” imbuhnya.

Setelah seluruh bagian kapal terangkat, bangkai akan kembali dibawa ke daratan seperti sebelumnya. Selanjutnya, material besi tersebut dikirim ke Surabaya untuk dilebur.

Ia menambahkan, setelah menyelesaikan misi pengangkatan KMP Tunu, kapal BC Pioner 88 akan segera bergeser ke perairan Masalembo untuk operasi berikutnya. Karena itu, proses di Selat Bali dikebut agar sesuai jadwal.

Sebelumnya, pengangkatan bangkai kapal yang dimulai sejak 26 Januari itu ditargetkan rampung dalam dua pekan. Namun, sejumlah faktor teknis dan kondisi laut membuat proses memerlukan waktu lebih panjang.

Pastikan Tak Ada Sisa di Dasar Laut

Jonathan memastikan tim akan melakukan pengecekan menyeluruh sebelum menyatakan proses evakuasi selesai.

Pihaknya akan menurunkan robot bawah laut atau Remotely Operated Vehicle (ROV) guna memastikan tidak ada bagian kapal maupun muatan yang tertinggal di dasar laut.

“Kita akan turunkan robot bawah laut (ROV) untuk melihat kondisi di bawah laut. Jadi kita pastikan dulu sudah tidak ada bagian yang tertinggal di bawah laut,” tegasnya.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan keselamatan pelayaran serta kebersihan lingkungan laut tetap terjaga.