sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Proses pengangkatan bangkai KMP Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di perairan Selat Bali hampir rampung.
Hingga Senin (9/2), progres pekerjaan dilaporkan telah mencapai sekitar 80 persen dan ditargetkan tuntas dalam dua pekan ke depan, apabila kondisi cuaca dan arus laut mendukung.
Sejak operasi evakuasi dimulai sekitar dua pekan lalu, tim telah berhasil mengangkat sejumlah bagian kapal dan kendaraan ke permukaan.
Namun demikian, arus laut yang kuat serta kondisi cuaca ekstrem di Selat Bali selama sepekan terakhir masih menjadi tantangan utama dalam proses pengangkatan bangkai kapal.
Bagian Depan Kapal Sudah Terangkat
Berdasarkan laporan di lapangan, lebih dari setengah bagian depan kapal telah berhasil diangkat menggunakan kapal crane BC Pioner 88.
Saat ini, tim evakuasi masih terus berupaya mengangkat sisa bagian kapal yang berada di dasar laut.
Selama proses berlangsung, kondisi perairan Selat Bali terpantau cukup ekstrem.
Gelombang tinggi dan arus kencang beberapa kali memaksa tim menghentikan sementara proses pengangkatan demi keselamatan.
Bahkan, kapal crane yang telah diposisikan dengan lima jangkar sempat mengalami larat atau pergeseran akibat kuatnya arus dan cuaca buruk.
Meski demikian, pihak pelaksana optimistis target penyelesaian tetap bisa tercapai.
“Arus yang kuat membuat crane tidak bisa bekerja maksimal. Padahal, kemampuan crane bisa mengangkat beban hingga 600 ton. Dalam praktiknya, alat itu hanya mampu mengangkat beban sekitar 20 sampai 50 ton, atau maksimal 100 ton,” ujar perwakilan PT Buto, Diajeng.
Kendaraan di Dalam Kapal Rusak Parah
Diajeng menjelaskan, kondisi kendaraan yang berada di dalam kapal sebagian besar telah hancur. Kerusakan itu terjadi karena bangkai kapal terus bergerak dan bergeser di dasar laut akibat arus.
Demi alasan keselamatan, tim tidak menurunkan penyelam manual ke dalam bangkai kapal. Risiko terbawa arus kuat atau terhantam muatan di dalam kapal dinilai terlalu besar.
“Sebagai gantinya, pemantauan kami lakukan menggunakan sonar milik Pioneer yang mampu membaca kondisi bawah laut,” imbuhnya.
Page 2
Untuk memastikan seluruh bagian kapal dan muatannya dapat terangkat sempurna, PT Buto berencana menurunkan Remotely Operated Vehicle (ROV) pada Rabu (11/2).
Alat tersebut diharapkan mampu memberikan gambaran visual yang lebih detail mengenai kondisi bangkai kapal di dasar laut.
Selain itu, penggunaan ROV juga bertujuan memastikan tidak ada bagian kapal maupun kendaraan yang tertinggal dan berpotensi mengganggu jalur pelayaran di Selat Bali.
“Struktur kapal juga sudah kami kunci untuk meminimalkan pergeseran. Meski begitu, faktor alam tetap sulit diprediksi. Kami berupaya semua bagian kapal dan komponennya, termasuk kendaraan, bisa diangkat seluruhnya,” tegas Diajeng.
Sementara itu, Kasi Keselamatan Berlayar Penjagaan dan Patroli KSOP Tanjung Wangi, Ni Putu Cahyani, mengatakan pihaknya terus melakukan pengawasan ketat di sekitar area pengangkatan bangkai kapal.
Pengawasan dilakukan bersama Satpolairud, Lanal, dan Basarnas untuk memastikan proses evakuasi berjalan aman hingga tuntas.
“Kendala selama pengangkatan umumnya karena cuaca dan arus kencang. Kondisi tersebut kerap mempersulit proses pengangkatan bagian kapal,” pungkasnya.
Dengan pengawasan lintas instansi dan dukungan teknologi, proses evakuasi bangkai KMP Tunu Pratama Jaya diharapkan dapat segera rampung, sehingga keamanan dan kelancaran pelayaran di Selat Bali kembali optimal. (fre/aif)
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Proses pengangkatan bangkai KMP Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di perairan Selat Bali hampir rampung.
Hingga Senin (9/2), progres pekerjaan dilaporkan telah mencapai sekitar 80 persen dan ditargetkan tuntas dalam dua pekan ke depan, apabila kondisi cuaca dan arus laut mendukung.
Sejak operasi evakuasi dimulai sekitar dua pekan lalu, tim telah berhasil mengangkat sejumlah bagian kapal dan kendaraan ke permukaan.
Namun demikian, arus laut yang kuat serta kondisi cuaca ekstrem di Selat Bali selama sepekan terakhir masih menjadi tantangan utama dalam proses pengangkatan bangkai kapal.
Bagian Depan Kapal Sudah Terangkat
Berdasarkan laporan di lapangan, lebih dari setengah bagian depan kapal telah berhasil diangkat menggunakan kapal crane BC Pioner 88.
Saat ini, tim evakuasi masih terus berupaya mengangkat sisa bagian kapal yang berada di dasar laut.
Selama proses berlangsung, kondisi perairan Selat Bali terpantau cukup ekstrem.
Gelombang tinggi dan arus kencang beberapa kali memaksa tim menghentikan sementara proses pengangkatan demi keselamatan.
Bahkan, kapal crane yang telah diposisikan dengan lima jangkar sempat mengalami larat atau pergeseran akibat kuatnya arus dan cuaca buruk.
Meski demikian, pihak pelaksana optimistis target penyelesaian tetap bisa tercapai.
“Arus yang kuat membuat crane tidak bisa bekerja maksimal. Padahal, kemampuan crane bisa mengangkat beban hingga 600 ton. Dalam praktiknya, alat itu hanya mampu mengangkat beban sekitar 20 sampai 50 ton, atau maksimal 100 ton,” ujar perwakilan PT Buto, Diajeng.
Kendaraan di Dalam Kapal Rusak Parah
Diajeng menjelaskan, kondisi kendaraan yang berada di dalam kapal sebagian besar telah hancur. Kerusakan itu terjadi karena bangkai kapal terus bergerak dan bergeser di dasar laut akibat arus.
Demi alasan keselamatan, tim tidak menurunkan penyelam manual ke dalam bangkai kapal. Risiko terbawa arus kuat atau terhantam muatan di dalam kapal dinilai terlalu besar.
“Sebagai gantinya, pemantauan kami lakukan menggunakan sonar milik Pioneer yang mampu membaca kondisi bawah laut,” imbuhnya.







