Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Jenazah ABK KMP Tunu Pratama Jaya Ditemukan di Selat Bali, Istri Kenali Lewat Identitas dan Cerita Pengorbanan

jenazah-abk-kmp-tunu-pratama-jaya-ditemukan-di-selat-bali,-istri-kenali-lewat-identitas-dan-cerita-pengorbanan
Jenazah ABK KMP Tunu Pratama Jaya Ditemukan di Selat Bali, Istri Kenali Lewat Identitas dan Cerita Pengorbanan

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Tujuh hari proses pengangkatan bangkai KMP Tunu Pratama Jaya di perairan Selat Bali akhirnya membuahkan hasil.

Satu jenazah berhasil ditemukan dan dipastikan sebagai anak buah kapal (ABK).

Korban teridentifikasi bernama I Wayan Teja Setiawan, kelasi KMP Tunu Pratama Jaya yang tenggelam pada awal Juli 2025 lalu.

Kabar penemuan jenazah itu tidak serta-merta disambut tangis histeris oleh sang istri, Ratna, 33.

Bersama mertuanya, Nyoman Suteja, 53, Ratna justru memilih memastikan lebih dulu kebenaran identitas jenazah yang ditemukan pada Minggu pagi (1/2).

Keduanya mendatangi kamar jenazah RSUD Blambangan, Banyuwangi.

Berbekal foto yang diterimanya dari petugas, Ratna kian yakin bahwa jasad tersebut adalah almarhum suaminya.

Kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi, Ratna mengaku perasaannya campur aduk. Ada rasa lega setelah penantian panjang, namun juga duka mendalam yang kembali menyeruak.

“Perasaan saya campur aduk. Ada lega, tapi juga sedih. Setelah berbulan-bulan menunggu, akhirnya Mas Wayan ditemukan. Dari awal kami sudah yakin itu Mas Wayan,” ucap Ratna lirih.

Keyakinan itu bukan tanpa dasar. Celana hitam yang dikenakan jenazah, handphone merek Realme, hingga dompet berisi KTP dan SIM milik Wayan, semuanya sesuai dengan ciri-ciri suaminya.

Setelah memastikan identitas, Ratna langsung menghubungi warga di lingkungan tempat tinggalnya, Perumahan Griya Giri Mulya (GGM), Kelurahan Klatak, untuk menyiapkan prosesi pemakaman.

Ratna mengungkapkan, secara batin dirinya sebenarnya sudah lama mengikhlaskan kepergian sang suami.

Bahkan, keluarga telah menggelar tahlilan mulai dari tujuh hari hingga seratus hari wafatnya Wayan.

Namun, kabar penemuan jenazah tetap menghadirkan kelegaan tersendiri.


Page 2

Namun, alih-alih bergegas, Wayan memilih membagikan pelampung kepada para penumpang.

Ia mengira kapal masih akan bertahan cukup lama sebelum benar-benar karam.

“Itu yang diceritakan teman-temannya. Mas Wayan lebih memilih membagikan pelampung,” kenang Ratna.

Seperti diberitakan sebelumnya, satu jenazah yang diduga kuat korban tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya ditemukan pada Minggu (1/2), saat proses wreck lifting atau pengangkatan bangkai kapal di Selat Bali.

Jenazah ditemukan sekitar pukul 06.30 WIB, mengambang dan menempel di dekat lambung kapal crane.

“Kami mendapat laporan dari kru yang bertugas, ada jenazah mengambang di dekat kapal,” ujar perwakilan PT Buto, Jonathan Chandra.

Jenazah kemudian dievakuasi menuju Pantai Gilimanuk, dibawa ke Posko Satpolairud Banyuwangi, dan selanjutnya ke kamar jenazah RSUD Blambangan.

Dari dompet yang ditemukan di celana korban, petugas mendapati identitas berupa SIM dan STNK atas nama I Wayan Teja Setiawan, yang menguatkan dugaan bahwa korban merupakan ABK KMP Tunu Pratama Jaya. (fre/aif)


Page 3

“Sedih dan senang bercampur jadi satu. Sejak awal saya sudah ikhlas,” tuturnya.

Ia mengaku tidak memiliki firasat apa pun sebelum jenazah suaminya ditemukan.

Hanya sang ibu mertua yang sempat merasa gelisah pada malam sebelumnya, seolah ada sesuatu yang akan terjadi.

“Saya tidak ada firasat apa-apa. Tapi ibu mertua cerita sempat merasa tidak tenang,” imbuh Ratna.

Tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya meninggalkan luka mendalam bagi Ratna.

Saat musibah itu terjadi, ia tengah mengandung anak kedua. Sang buah hati lahir pada 12 Desember 2025, tanpa kehadiran sosok ayah.

Ratna menyebut, suaminya baru sekitar dua tahun bekerja sebagai kelasi di kapal tersebut.

Sejak kejadian nahas itu, Ratna terus mengikuti perkembangan proses pengangkatan bangkai kapal.

Ia tergabung dalam grup WhatsApp keluarga korban KMP Tunu Pratama Jaya yang belum ditemukan. Dari grup itulah ia memantau kabar hari demi hari.

“Saya selalu melihat update di grup,” katanya.

Sebelum jenazah Wayan dibawa pulang, Ratna harus menunggu berjam-jam di RSUD Blambangan.

Seluruh jenazah korban kecelakaan kapal wajib melalui proses identifikasi tim DVI Polda Jatim.

Menjelang malam, barulah jenazah dinyatakan teridentifikasi dan diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan secara layak.

Di tengah penantian itu, Ratna teringat cerita Riko Krafsanjani, rekan suaminya yang selamat dari tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya.

Menurut cerita Riko, saat kapal mulai tenggelam, Wayan sempat diajak menyelamatkan diri.