sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Penetapan Durian Merah Banyuwangi sebagai produk Indikasi Geografis (IG) pertama untuk komoditas buah durian di Indonesia menjadi kebanggaan besar bagi masyarakat Bumi Blambangan.
Pengakuan ini menegaskan keunikan rasa, warna, dan karakter durian merah yang tak dimiliki daerah lain.
Namun, di balik kabar membanggakan tersebut, terselip fakta yang cukup mengejutkan.
Salah satu pohon durian merah legendaris yang selama ini menjadi rujukan sejarah durian merah Banyuwangi di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, rupanya telah mati sejak 2019.
Pohon Si Wayut, Warisan Ratusan Tahun
Pohon durian merah yang dimaksud adalah durian Si Wayut, milik almarhum Mbah Serad.
Pohon ini dikenal sebagai durian merah tertua di Kemiren dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi buyut (wayut).
Selama bertahun-tahun, Si Wayut menjadi acuan utama dalam berbagai penelitian tentang durian merah Banyuwangi.
Kepala Desa Kemiren, M Arifin, membenarkan bahwa pohon durian merah tertua di desanya tersebut telah lama mati.
“Pohon itu memang sudah mati. Itu durian warisan buyut, Si Wayut namanya. Selama ini dikenal sebagai rujukan awal durian merah Banyuwangi,” kata Arifin.
Diduga Mati Akibat Perlakuan yang Kurang Tepat
Menurut Arifin, pohon Si Wayut sempat beberapa kali dijadikan objek penelitian. Selain itu, pohon tersebut juga mendapat perlakuan pemupukan dari dinas pertanian.
“Niatnya mungkin agar berbuah lebih optimal. Tapi justru pohonnya tidak kuat dan akhirnya mati,” ujarnya.
Tak hanya pemupukan, pengambilan bagian pohon untuk keperluan stek juga diduga memperparah kondisi tanaman.
Kombinasi perlakuan tersebut membuat pohon yang selama ratusan tahun tumbuh secara alami akhirnya tidak mampu bertahan.
Masih Ada Peranakan dengan Warna Oranye
Meski pohon induk Si Wayut telah mati, Arifin menyebut masih terdapat beberapa pohon durian milik warga lain yang diduga merupakan turunan atau peranakan.
Page 2
Salah satunya adalah durian milik Pak Asmad, yang daging buahnya mulai mengarah ke warna merah-oranye.
Ada pula pohon durian milik Samsul, cucu dari almarhum Mbah Serad, yang kini sudah mulai berbuah.
“Kalau yang masih muda biasanya warnanya oranye. Durian merah itu merahnya akan muncul kuat saat pohonnya sudah tua,” jelas Arifin.
Potensi Durian Merah Kemiren Dinilai Belum Hilang
Meski pohon legendaris telah tiada, Arifin tetap optimistis potensi durian merah di Desa Kemiren belum sepenuhnya hilang.
Ia meyakini masih ada sejumlah lokasi lain yang menyimpan pohon durian merah.
“Selama ini lokasi pohon-pohon durian merah memang cenderung disembunyikan. Yang tahu justru para pedagang durian karena banyak pembeli yang inden lewat mereka,” imbuhnya.
Kesaksian Keluarga: Mati Sejak 2019
Sementara itu, Samsul, cucu menantu almarhum Mbah Serad, mengungkapkan bahwa pohon Si Wayut telah mati sejak 2019.
Ia menuturkan, pohon yang telah ratusan tahun tumbuh alami itu tidak kuat menerima perlakuan pemupukan rutin.
“Dulu pohon itu tumbuh alami. Setelah sering dipupuk tiap bulan, akhirnya mati dan roboh,” tuturnya.
Di sekitar lokasi pohon induk, masih tumbuh durian lain yang diyakini merupakan keturunan Si Wayut.
Pohon tersebut berusia sekitar 35 tahun dan sudah berbuah dengan warna daging pink.
“Setahu saya, di Kemiren sudah tidak ada lagi durian merah seperti milik Mbah Serad dulu,” pungkas Samsul.
Tantangan Pelestarian di Tengah Status IG
Penetapan status Indikasi Geografis menjadi pengakuan penting bagi durian merah Banyuwangi.
Namun, fakta hilangnya pohon induk legendaris Si Wayut menjadi pengingat pentingnya pelestarian sumber genetik asli.
Ke depan, upaya konservasi, perbanyakan bibit secara tepat, serta perlakuan budidaya yang sesuai karakter alami tanaman menjadi kunci agar durian merah Banyuwangi tetap lestari dan tidak sekadar menjadi legenda sejarah. (*)
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Penetapan Durian Merah Banyuwangi sebagai produk Indikasi Geografis (IG) pertama untuk komoditas buah durian di Indonesia menjadi kebanggaan besar bagi masyarakat Bumi Blambangan.
Pengakuan ini menegaskan keunikan rasa, warna, dan karakter durian merah yang tak dimiliki daerah lain.
Namun, di balik kabar membanggakan tersebut, terselip fakta yang cukup mengejutkan.
Salah satu pohon durian merah legendaris yang selama ini menjadi rujukan sejarah durian merah Banyuwangi di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, rupanya telah mati sejak 2019.
Pohon Si Wayut, Warisan Ratusan Tahun
Pohon durian merah yang dimaksud adalah durian Si Wayut, milik almarhum Mbah Serad.
Pohon ini dikenal sebagai durian merah tertua di Kemiren dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi buyut (wayut).
Selama bertahun-tahun, Si Wayut menjadi acuan utama dalam berbagai penelitian tentang durian merah Banyuwangi.
Kepala Desa Kemiren, M Arifin, membenarkan bahwa pohon durian merah tertua di desanya tersebut telah lama mati.
“Pohon itu memang sudah mati. Itu durian warisan buyut, Si Wayut namanya. Selama ini dikenal sebagai rujukan awal durian merah Banyuwangi,” kata Arifin.
Diduga Mati Akibat Perlakuan yang Kurang Tepat
Menurut Arifin, pohon Si Wayut sempat beberapa kali dijadikan objek penelitian. Selain itu, pohon tersebut juga mendapat perlakuan pemupukan dari dinas pertanian.
“Niatnya mungkin agar berbuah lebih optimal. Tapi justru pohonnya tidak kuat dan akhirnya mati,” ujarnya.
Tak hanya pemupukan, pengambilan bagian pohon untuk keperluan stek juga diduga memperparah kondisi tanaman.
Kombinasi perlakuan tersebut membuat pohon yang selama ratusan tahun tumbuh secara alami akhirnya tidak mampu bertahan.
Masih Ada Peranakan dengan Warna Oranye
Meski pohon induk Si Wayut telah mati, Arifin menyebut masih terdapat beberapa pohon durian milik warga lain yang diduga merupakan turunan atau peranakan.







