sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Upaya pengangkatan bangkai KMP Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di perairan Selat Bali pada awal Juli 2025 lalu mulai berdampak pada ditemukannya jenazah korban.
Hingga Senin (2/2), aparat gabungan telah mengevakuasi dua jenazah yang diduga kuat merupakan penumpang kapal nahas tersebut.
Kasatpolairud Polresta Banyuwangi, Kompol Muhammad Wahyudi, mengungkapkan bahwa sejak operasi pengangkatan bangkai kapal (salvage) dimulai, sudah ada dua temuan jenazah korban KMP Tunu Pratama Jaya.
Kedua jenazah tersebut ditemukan pada Minggu (1/2) dalam waktu yang berbeda.
“Jenazah pertama ditemukan sekitar pukul 06.30 WIB, kemudian jenazah kedua sekitar pukul 13.45 WIB. Dua temuan ini ditangani secara terpisah,” jelas Wahyudi, kemarin.
Untuk jenazah pertama, petugas langsung melakukan evakuasi ke RSUD Blambangan, Banyuwangi, guna menjalani proses identifikasi.
Sementara itu, jenazah kedua dievakuasi ke wilayah Bali dan hingga kini masih berada di RSUD Jembrana.
“Dari Gilimanuk dan Ketapang, seluruh stakeholder perairan bekerja sama. Temuan jenazah pertama dibawa ke Banyuwangi, sementara temuan kedua dibawa ke Bali,” terangnya.
Dari hasil pemeriksaan awal, pada jenazah pertama petugas menemukan sejumlah identitas, di antaranya KTP dan telepon genggam.
Secara administratif, identitas tersebut mengarah pada salah satu nama yang tercantum dalam daftar korban, yakni I Wayan Teja.
Namun demikian, Wahyudi menegaskan bahwa penetapan identitas secara resmi belum dapat dilakukan.
“Sesuai SOP DVI, belum bisa disebutkan siapa identitasnya. Tidak bisa langsung dinyatakan. Harus memenuhi beberapa persyaratan,” ujarnya.
Meski belum ada kepastian resmi, pihak keluarga disebut telah meyakini bahwa jenazah tersebut merupakan anggota keluarganya.
Untuk sementara, jenazah diserahkan kepada keluarga dengan status Mr X, sambil menunggu hasil resmi dari tim DVI Polda Jatim, termasuk pemeriksaan DNA.
Page 2
Page 3
“Sekarang masih proses lanjutan, termasuk pengecekan DNA,” imbuh Wahyudi.
Sementara itu, jenazah kedua hingga kini masih dalam proses pendalaman.
Petugas belum menemukan identitas apa pun yang dapat mengarah pada siapa korban tersebut. Penanganan lebih lanjut masih dikoordinasikan dengan pihak terkait di Bali.
“Untuk yang kedua masih kami komunikasikan. Belum ada titik terang. Mungkin nanti dari pihak Jembrana yang menyampaikan,” katanya.
Wahyudi menambahkan, kondisi jenazah kedua ditemukan dalam bentuk body part, hampir serupa dengan temuan sebelumnya.
Lokasi penemuan pun tidak jauh dari kawasan Gilimanuk. Menurutnya, faktor alam sangat berpengaruh terhadap pergerakan jenazah di laut.
Arus laut yang kuat di Selat Bali berpotensi membuat jenazah hanyut keluar dari radius pencarian. Hal ini terbukti dari uji coba yang dilakukan petugas di lapangan.
“Ini murni faktor alam. Kemarin saya coba menurunkan bandul sebagai pemberat, tapi tetap bergerak ke arah utara dan tidak sampai menyentuh dasar laut. Terus mengapung. Jadi potensi hanyut itu sangat ada,” ungkapnya.
Dengan kondisi tersebut, Wahyudi menyebut potensi ditemukannya jenazah lain masih terbuka.
Oleh karena itu, patroli laut terus ditingkatkan. Personel Polairud disiagakan di sejumlah titik rawan, mulai dari perairan Ketapang hingga Banyuwangi Selatan.
“Kami tingkatkan mobilitas. Anggota kami standby. Begitu ada informasi, langsung kami respons,” tegasnya.
Siapkan Kantong Jenazah
Dalam proses pencarian dan evakuasi, Polairud Polresta Banyuwangi mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, seperti Basarnas, KSOP, TNI AL, hingga unsur KPLP.
Untuk mempercepat penanganan di lapangan, kantong jenazah juga telah disiapkan.
“Ini menyangkut kemanusiaan. Polisi hadir untuk masyarakat dan berusaha secepat mungkin agar jenazah tidak hanyut terlalu jauh,” ucap Wahyudi.
Kepala Kantor SAR Banyuwangi, I Made Oka Astawa, menambahkan bahwa koordinasi dengan seluruh stakeholder, termasuk nelayan yang beroperasi di Selat Bali, terus dilakukan.







