detik.com
Pencarian pendaki yang hilang di Gunung Ijen, Banyuwangi, diwarnai kumandang adzan. Suara adzan dikumandangkan tim pencari di titik hilangnya Muhammad Dzikri Maulana di sunrise point Gunung Ijen, Kamis (19/2/2026).
Dzikri sebelumnya dilaporkan hilang saat mendaki di Gunung Ijen pada Rabu (18/2/2026). Upaya pencarian dilakukan sejak pagi oleh tim gabungan.
Yadi, salah satu relawan, mengatakan adzan dikumandangkan sebagai bentuk ikhtiar untuk memudahkan proses pencarian yang telah berlangsung sehari semalam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Azan itu dikumandangkan tim pencari pagi yang sudah memulai pencarian di pagi hari,” terang Yadi, Jumat (20/2/2026).
Sejumlah tim pencari mulai dari instansi resmi seperti Basarnas, BPBD, BKSDA, TNI, dan POLRI melakukan pencarian secara bergantian dengan berbagai metode. Sementara Yudi tergabung dalam relawan yang sengaja ikut terlibat karena hafal jalur pendakian dan struktur bebatuan di Gunung Ijen tersebut.
Salah satu relawan, Herri, menyebut kondisi cuaca saat pencarian cukup ekstrem. Kabut tebal dan angin kencang membuat jarak pandang terbatas sehingga proses pencarian sedikit terkendala.
Berkali kali sunrise point dikelilingi oleh tim pencari, teriakan demi teriakan silih berganti memanggil nama Dzikri namun korban tak juga menjawab. Hingga pada sekitar waktu samar wulu, dalam istilah osing disebut sebagai waktu pergantian dari sore ke magrib, Dzikri lamat-lamat menjawab panggilan tim relawan.
“Saya dan tim yang menemukan sore itu, di sunrise point tempat diduga korban menghilang,” kata Herri.
Sebelumnya, sudah pernah ada kasus serupa terjadi di puncak Ijen. Herri menduga ada unsur mistis pada setiap peristiwa orang hilang di puncak Ijen.
“Memang ada campuran mistisnya kak,” ucap Herri.
Pasalnya, Dzikri yang mengaku tidak pingsan sama sekali tidak mendengar panggilan tim pencari yang berjumlah puluhan orang. Bahkan, saat melihat tim pencari Dzikri tampak linglung dan ketakutan hingga tubuhnya gemetaran.
“Sama sekali dia gak mendengar panggilan tim pencari. Pertama kali kita temukan korban bingung dan raut wajahnya ketakutan,” tambah Herri.
Jarak antara tim pencari dan Dzikri saat ditemukan tidak sampai 100 meter, korban tampak duduk mendekam dengan menggenggam ranting rerumputan di lereng gunung ijen. Dengan kaos hitam, celana jeans dan sepatu yang masih terpasang sempurna, Dzikri diketemukan oleh Herri dan relawan pencari lainnya.
“Saat peristiwa hilangnya itu cuaca memang ekstrem, kabut sangat tebal. Jadi, saran saya taati aturan dan berdoa,” jelas Herri.
Saat ini, Dzikri telah berkumpul bersama keluarga. Meski masih tampak trauma dan enggan berbicara, Dzikri dinyatakan sehat.
(auh/abq)






