Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Panduan Aman Mendaki Kawah Ijen: Tips dari Guide Profesional dan Aturan Buang Hajat

panduan-aman-mendaki-kawah-ijen:-tips-dari-guide-profesional-dan-aturan-buang-hajat
Panduan Aman Mendaki Kawah Ijen: Tips dari Guide Profesional dan Aturan Buang Hajat

KOMPAS.com – Jalur pendakian Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen yang terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, dikenal memiliki medan yang cukup ramah bagi pendaki pemula.

Namun, peristiwa hilangnya seorang pendaki remaja baru-baru ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan, terutama saat menuju titik Sunrise Point.

Jalur Lebih Lebar dan Ramah Pemula

Guide profesional yang kerap mendampingi wisatawan mancanegara, Suci Diah Handayani, menjelaskan bahwa infrastruktur jalur pendakian Ijen telah mengalami banyak perubahan positif dalam satu dekade terakhir.

“Dibandingkan 10 tahun lalu, jalur pendakian Gunung Ijen yang sekarang sangat ramah untuk pendaki pemula,” kata Suci saat dihubungi Kompas.com, Jumat (20/2/2026).

Menurut perempuan yang aktif mendaki Ijen sejak 2014 ini, jalur saat ini jauh lebih lebar dan rapi. Hal ini dikarenakan aktivitas rutin para penambang belerang yang membersihkan jalur sehingga mudah dilalui wisatawan.

“Hanya satu jalur dan tidak ada jalan bercabang. Jadi sebenarnya kemungkinan tersesat sangat kecil,” tambah perempuan yang juga fasih berbahasa Yunani tersebut.

Baca juga: 2 Hari Hilang di TWA Kawah Ijen, Dzikri Ditemukan Selamat di Tebing yang Rimbun

Bahaya Disorientasi di Jalur Sunrise Point

Meski jalur utama tergolong aman, Suci memberikan catatan khusus untuk area menuju Sunrise Point yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari puncak (summit). Di titik inilah risiko disorientasi atau kehilangan arah sangat tinggi, terutama saat cuaca buruk.

“Dari summit ke titik sunrise point awalnya lebar, tapi kemudian jalurnya menyempit. Selain itu, vegetasi juga akan semakin rimbun sehingga jika tidak terbiasa akan disorientasi, terutama saat kabut,” jelas Suci.

Ia menceritakan pengalamannya saat menghadapi kabut tebal dengan jarak pandang kurang dari 5 meter. Dalam kondisi tersebut, semua benda termasuk vegetasi dan bebatuan akan terlihat serupa.

“Jika hanya satu atau dua kali ke sunrise point dan kabut, semuanya akan terlihat sama. Vegetasi, batu-batuannya. Sehingga tidak boleh sendiri,” tegasnya.

Baca juga: Momen Penyelamatan Pendaki yang Hilang di TWA Kawah Ijen, Ini Permintaan Pertamanya

Aturan “Buang Hajat” dan Keselamatan

Pendaki TWA Kawah Ijen yang hilang saat ditemukan di area tebing oleh tim SAR.KOMPAS.COM/Dokumentasi Basarnas Pendaki TWA Kawah Ijen yang hilang saat ditemukan di area tebing oleh tim SAR.

Suci menekankan bahwa kelelahan, kabut, dan posisi sendirian adalah kombinasi berbahaya yang memicu disorientasi. Ia pun membagikan aturan tidak tertulis (rules) yang harus dipatuhi pendaki, bahkan saat ingin buang air.

  • Buang Air Kecil (BAK): Maksimal tiga langkah dari jalur utama.
  • Buang Air Besar (BAB): Maksimal 10 langkah dari jalur utama.
  • Wajib Didampingi

“Tidak boleh sendirian termasuk saat buang hajat. Harus ada rekan yang menemani untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,” tuturnya.

Kilas Balik: Evakuasi Dramatis Pendaki Hilang

Peringatan ini menyusul insiden yang menimpa Muhammad Dzikri Maulana (16). Pendaki asal Desa Tamansari, Kecamatan Licin ini dilaporkan hilang pada Rabu (18/2/2026) dan baru ditemukan tim SAR gabungan pada Kamis (19/2/2026).

Kepala TWA Kawah Ijen, Rusdi Santoso, menjelaskan bahwa Dzikri terpisah dari rombongannya yang terdiri dari lima orang.

“Berdasarkan keterangan teman korban, korban sudah tidak ada ketika mereka selesai istirahat di pertigaan menuju kawah dan sunrise point,” kata Rusdi dikutip dari Kompas.com.

Dzikri ditemukan dalam kondisi lemas di area tebing dengan radial 6,7 derajat, berjarak sekitar 890 meter dari lokasi terakhir terlihat.

Tubuhnya tersembunyi di balik rimbunnya tanaman cantigi dan pakis gunung. Tim SAR bahkan harus menggunakan drone thermal dan peralatan jungle rescue untuk menembus vegetasi yang rapat.

Baca juga: TWA Kawah Ijen Ditutup Selama Operasi Pencarian Pendaki yang Hilang

Tips Mendaki Gunung Ijen agar Tetap Aman

Bagi Anda yang berencana mengunjungi Kawah Ijen untuk melihat Blue Fire atau matahari terbit, berikut ringkasan tips persiapan yang diberikan oleh Suci:

  • Gunakan Sepatu Proper: Gunakan sepatu gunung atau sepatu dengan daya cengkram (grip) yang kuat untuk medan berpasir.
  • Jaket Tebal dan Windbreaker: Suhu di puncak sangat dingin ditambah angin kencang yang bisa memicu hipotermia ringan.
  • Persiapan Fisik: Lakukan olahraga kardio minimal seminggu sebelum mendaki agar jantung tidak kaget saat menghadapi tanjakan.
  • Jangan Memisahkan Diri: Tetaplah bersama rombongan atau gunakan jasa guide jika belum pernah ke jalur sunrise.
  • Bawa Senter dan Masker: Senter penting untuk pendaki dini hari, sementara masker gas wajib untuk melindungi diri dari asap belerang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang