Kisah-kisah Pilu Korban Selamat KMP Rafelia II

0
69

Penumpang-yang-selamat-dinaikkan-pikap-untuk-dibawa-ke-kantor-ASDP-Ketapang.

Sirine Baru Berbunyi setelah Separo Kapal Tenggelam

SIANG itu Akbar Fitrianto, 16, salah seorang menyeberang ke Banyuwangi, merasa sangat enggan tidur di dalam kendaraan. Padahal, biasanya ketika truk sudah naik ke dalam kapal, dirinya memilih tidur di bangku belakang sopir.

Tetapi, entah kenapa, saat Kapal Motor Penumpang  (KMP) Rafelia II yang mengangkut kendaraannya mulai mengangkat jangkar, dirinya  justru memilih duduk di dek atas bersama penumpang  lain. Ternyata pilihannya duduk bersama para penumpang itu sebuah firasat.

Beberapa saat kapal berjalan, tiba-tiba kondisi kapal tidak terkendali. Kapal yang sarat muatan kendaraan roda empat dan roda dua itu tiba-tiba oleng. Air laut pun dengan perlahan tapi pasti memasuki lambung kapal lalu merambat ke seluruh bagian kapal.

Akbar yang kebetulan berada di kursi yang dekat dengan kotak pelampung pun langsung mengambil rompi pelampung dan menceburkan diri ke dalam air bersama penumpang lain. Tak butuh waktu lama, lima menit kemudian sudah ada kapal yang menolongnya dengan sebuah tali yang dilempar kepadanya.

Musibah kecelakaan KMP Rafelia II itu, menurut Akbar, terjadi sangat cepat. Saking cepatnya, dia sampai tidak terpikir menyelamatkan benda apa pun yang dia bawa saat itu. Suasananya juga cukup ramai, sehingga yang ada dipikirannya hanya bagaimana cara menyelamatkan diri.

“Biasanya saya tidur di dalam truk, tapi kali ini entah kenapa perasaan saya tidak enak, jadi saya duduk bersama penumpang lain,” tutur Akbar. Erik, 30, sopir truk batu bara yang dikerneti Akbar, menambahkan sejak awal firasatnya sudah tidak enak karena kapal sudah tampak miring.

Namun, karena sebagian besar KMP kondisinya memang sudah seperti itu, Erik pun tidak ambil pusing. Dia tetap memasukkan truk yang dibawanya ke dalam kapal tersebut. Benar, tak lama setelah berlayar, KMP Rafelia II oleng dan tenggelam.

“Truk saya ya tenggelam bersama kapalnya. Saya luka-luka di bagian kaki karena menginjak tiram di lambung kapal,” ujar Erik sambil menunjukkan kakinya yang dibalut perban. Firasat yang sama juga dirasakan Ni Gusti Ayu Putu Yudiani, 48, yang juga menjadi penumpang KMP Rafelia II.

Sebelum berangkat, wanita asal Negara, Bali, itu sebenarnya sudah tak ingin menaiki KMP Rafelia II. Sebelumnya, dia ingin menaiki kapal lain. Tetapi, petugas pelabuhan mengarahkannya ke kapal yang kemudian mengalami musibah tersebut.

Saat kapal mulai tenggelam, Yudiani masih tertidur di bangku penumpang. Anak laki-lakinya I Komang Tiaja, 21, tiba-tiba membangunkannya dan memintanya menggunakan pelampung. Sambil setengah sadar, Yudiani yang masih terkejut langsung ikut berlari dan menceburkan diri.

“Dari awal perasaan saya sudah tidak enak. Inginnya ya tidak naik, ternyata seperti ini. Tidak ada peringatan juga jadi penumpang menyelamatkan diri sendiri,” kata Yudiani sambil menunjukkan kaki kirinya yang diikat perban.

I Komang, anak Yudiani, menambahkan saat kapal mulai tenggelam, petugas belum bergerak untuk memberi peringatan apapun. Baru setelah separo badan kapal tenggelam, petugas memberi peringatan sambil mengimbau para penumpang menggunakan pelampung.

Beruntung, kapal tersebut tenggelam secara perlahan, sehingga banyak penumpang yang selamat. Jika Akbar dan Yudiani sudah  memiliki firasat dari awal keberangkatan, Muhamad Sanusi, 43, salah seorang sopir dump truck bahkan sudah menduga sejak awal kapal yang dia tumpangi itu akan tenggelam.

Sejak dirinya memasukkan truk ke dalam kapal, Sanusi sudah melihat ada yang tidak beres dengan lambung kapal. Namun, karena dirinya hanya sebagai penumpang, dia tak berani protes. “Saya sudah terasa sebenarnya. Memang rata-rata kondisi kapal di sini kurang baik, tapi yang ini sudah kelihatan oleng dari awal. Makanya saya sudah yakin kalau  ini bakal tenggelam,” ungkap pria asal Nganjuk itu.

Benar, belum lama berlayar, air sudah menggenangi lambung kapal. Sanusi yang memang sejak awal sudah memprediksi kapal akan tenggelam pun hanya bisa tersenyum dan mencari sisi lambung kapal yang paling aman.  Sirine yang menurutnya harus berbunyi ketika air baru masuk, justru baru berbunyi setelah separo kapal sudah tenggelam. Jadi, banyak penumpang yang terkejut dan terlambat berlari.

“Kalau saya tenang saja, bahkan saya yang paling terakhir lompat. Saya melihat sampai seluruh badan kapal masuk ke dalam air. Baru setelah itu saya lompat,” cerita Sanusi. Kemudian, seluruh penumpang yang selamat dievakuasi di lantai dua kantor ASDP Ketapang.

Suasana panik semakin terasa ketika Banyak keluarga korban yang mencari penumpang. Lamhartini, 61, salah seorang keluarga penumpang. mengaku sedang mencari anaknya. Dia menuturkan, anaknya bekerja di KMP Rafelia. Namun, dia tidak mengerti anaknya bekerja sebagai apa.

“Anak saya namanya Puji Purnomo. Dari awal dia kerja di sini saya tidak tahu dia di bagian apa. Tadi saya ditelepon temannya, katanya ikut kapal yang tenggelam ini,” ucap Lamhartini sambil berkaca-kaca. (radar)

Loading...