Kondisi Terkini Bayi Kembar Siam

0
533

Berat Badan Sempat Turun, Kini Normal Kembali

Beberapa hari lalu, warga Banyuwangi dikejutkan dengan lahirnya bayi kembar tiga di Rumah Sakit Al-Huda, Kecamatan Gambiran. Dua di antara tiga bayi yang kembar tersebut ternyata dempet. Bagaimana kabarnya kini? MEMASUKI hari ke sembilan, kon disi kesehatan bayi perempuan kembar siam bernama Anindya Vina Nu rul Maulida dan Anindita Rahma Vany Maulida kian membaik. Meski tiga hari setelah kelahirannya (29/1), bo botnya sempat menurun, tapi saat ini berat badan anak pasangan su ami istri (pasutri) Yuda Winarno, 22, dan Siska Jayanti, 22, itu normal kem bali.

Sekadar tahu, saat baru lahir, dua bayi perempuan kembar siam itu me miliki berat badan dua kilogram. Satu bayi laki-laki memiliki berat badan 1,3 kilogram. Memasuki hari ketiga di RS Al-Huda, Gambiran, berat ba dan bayi kembar siam tersebut me nurun ke angka 1.810 kilogram, tapi sekarang mulai naik lagi ke angka 1.820 kilogram. Kemungkinan besar berat badan bayi kembar siam tersebut akan te rus naik seiring waktu. “Grafiknya bi asanya memang seperti itu, turun se bentar terus naik lagi,” kata Humas RS Al-Huda,Kecamatan Gambiran, dr. Sugeng. 

Ketiga bayi kembar tersebut akan terus dirawat di RS Al-Huda sampai berat badannya mencapai lima kilogram dan kondisinya me mungkinkan  dilakukan operasi pemisahan ba dan di RS dr. Soetomo, Surabaya. Ha nya saja, kapan berat badan bayi kembar siam tersebut mencapai lima kilogram, Sugeng belum bisa me mastikan. “Yang penting kita rawat saja dulu. Tim dari Surabaya akan terus memandu kita di sini,” jelasnya Selain berat badan terus membaik, tubuh bayi kembar siam yang lahir premature ter sebut kini tak lagi dibungkus tas keresek se bagaimana pada awal kelahirannya. Saat itu, ketika baru lahir, bayi kembar siam yang disimpan di inkubator tersebut dibungkus keresek, karena suhu badannya te rus menurun.

Sehingga, tim dokter dari Surabaya menganjurkan agar tubuh bayi tersebut dibungkus keresek dan dimasukkan inkubator. “Tujuannya, mengu rangi dehidrasi atau penurunan daya tahan tubuh si bayi. Sekarang karena su dah normal, maka tidak lagi dibungkus ke resek,” tandas Sugeng. Untuk mempercepat pertumbuhan berat ba dan bayi tersebut sebenarnya dibutuhkan for mula khusus yang didatangkan dari Jakarta. Namun, karena alasan teknis, hal itu belum bisa dilakukan. Sedangkan perawatan tali pusar, ada dermawan yang baik hati, yaitu disumbang dr. Tri Tapaningsih Sp.A yang tak lain istri mantan kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi (alm) dr. Basuki Setiawan. “Dokter Tri belanja sendiri di luar kota,” sebutnya.

Sementara itu, Yuda Winarno, kini merasa lebih tenang dengan perkembangan ke tiga bayinya itu. Sebab, selain kondisi ke sehatannya terus membaik, ternyata juga banyak yang peduli. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dan para dokter di RS Al- Huda, misalnya. Apalagi, tim dari RSUD dr. Soe tomo, Surabaya, telah menggratiskan biaya perawatan dan operasi pemisahan bayi mereka nanti. “Kalau masalah biaya katanya tim dari Surabaya nggak usah dipikir,” tutur Yuda ditemui koran ini di RS Al-Huda kemarin.

Awalnya, ketika mengetahui anaknya lahir kembar siam, dia kalut. Kala itu, Yuda berpikir akan menjual motornya untuk biaya perawatan dan operasi. Namun, setelah banyak yang peduli, dia merasa tenang. Apalagi, kini istrinya sudah sehat dan bukan lagi berstatus pasien. Meski saat ini berada di RS Al-Huda, Yuda dan istri hanya menunggu ketiga anaknya hingga memiliki berat lima kilogram atau siap dilakukan operasi pemisahan dempet badan. (radar)