sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Kasus pengeroyokan yang diduga melibatkan anggota salah satu perguruan silat di wilayah Kecamatan Genteng, Banyuwangi, terus berkembang.
Jumlah korban kini bertambah. Selain tiga remaja yang lebih dulu melapor, kepolisian kembali menerima laporan dari dua korban lain yang dikeroyok di lokasi berbeda pada malam yang sama, Kamis (15/1).
Dua korban terbaru tersebut diketahui merupakan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam Blokagung.
Mereka adalah MFA (18), warga Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh, serta AF (18), santri asal Kabupaten Pringsewu, Lampung.
Keduanya menjadi korban pengeroyokan di depan Hotel Agung, Dusun Krajan, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng.
LEBAM: Kanitreskrim Polsek Genteng Ipda Sujarwadi melihat kondisi dua santri yang jadi korban pengeroyokan pendekar silat, Sabtu (17/1). (SUJARWADI FOR RADAR BANYUWANGI)
Polisi menduga, para pelaku merupakan rombongan yang sama dengan kelompok yang sebelumnya melakukan pengeroyokan di simpang empat Traffic Light Dusun Maron, Desa Genteng Kulon, pada malam kejadian.
Kapolsek Genteng, Kompol Edy Priswanto, melalui Kanitreskrim Ipda Sujarwadi membenarkan adanya tambahan korban dalam peristiwa tersebut.
Kasus pengeroyokan terhadap dua santri ini telah tercatat dalam laporan polisi dengan Nomor LP-B/08/I/2026/SPKT/Polsek Genteng/Polresta Banyuwangi/Polda Jawa Timur.
“Ada korban lain yang melapor. Dari hasil pendalaman sementara, kuat dugaan masih satu rangkaian dengan kejadian sebelumnya,” ujar Ipda Sujarwadi.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun kepolisian, pengeroyokan bermula saat kedua santri tersebut melintas di depan Hotel Agung sepulang menghadiri acara hajatan di Desa Temuasri, Kecamatan Sempu, sekitar pukul 22.43 WIB.
Saat melintas, mereka berpapasan dengan sekelompok pemuda yang tengah melakukan konvoi sepeda motor.
Melihat kedua korban mengenakan sarung dan peci, rombongan tersebut tiba-tiba menghentikan laju kendaraan dan menanyai asal-usul para santri.
Para pelaku diduga mengira korban merupakan anggota perguruan silat tertentu.
Page 2
“Setelah menanyai korban, para pelaku langsung melakukan pengeroyokan di lokasi,” jelas Sujarwadi.
Aksi kekerasan tersebut akhirnya terhenti setelah warga sekitar turun tangan. Kedua korban kemudian dievakuasi dan dibawa ke RS Al Huda Gambiran untuk mendapatkan perawatan medis.
“Korban mengalami luka lebam di bagian kepala. Anggota kami sudah melakukan visum dan mendatangi korban di rumah sakit,” tambahnya.
Tak hanya melakukan pengeroyokan, rombongan tersebut juga dilaporkan melakukan aksi anarkis di sepanjang jalur yang dilalui.
Sejumlah rumah warga di Dusun Cangaan hingga Dusun Resomulyo, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, menjadi sasaran lemparan batu.
“Informasi dari warga, ada beberapa rumah yang dilempari batu oleh rombongan tersebut, terutama di Dusun Resomulyo dan Dusun Cangaan,” ungkap Kepala Dusun Resomulyo, Bisri.
Seperti diberitakan sebelumnya, aksi pengeroyokan juga terjadi di Traffic Light Dusun Maron, Desa Genteng Kulon, sekitar pukul 23.00 WIB.
Dalam kejadian itu, tiga remaja masing-masing RAI (17) asal Desa Karangsari, GAS (17) asal Desa Temuasri, serta IM (17) asal Desa Karangsari, Kecamatan Genteng, menjadi korban.
Ketiganya mengalami luka memar akibat dikeroyok oleh gerombolan pendekar yang tengah melakukan konvoi sekitar 50 sepeda motor.
Ipda Sujarwadi menjelaskan, saat kejadian di simpang empat tersebut, rombongan konvoi datang dari arah selatan.
Sementara para korban sedang berada di pinggir jalan, tepat di area lampu merah.
“Konvoi melibatkan sekitar 50 kendaraan. Saat melintas, terjadi pengeroyokan terhadap korban yang berada di sekitar traffic light,” jelasnya.
Saat ini, kepolisian masih melakukan penyelidikan intensif untuk mengungkap identitas para pelaku dan memastikan keterkaitan antar lokasi kejadian.
Polisi juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan segera melapor jika mengetahui informasi yang berkaitan dengan insiden tersebut.
“Kami serius menangani kasus ini. Semua laporan akan kami tindaklanjuti demi menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat,” pungkas Sujarwadi. (*)
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Kasus pengeroyokan yang diduga melibatkan anggota salah satu perguruan silat di wilayah Kecamatan Genteng, Banyuwangi, terus berkembang.
Jumlah korban kini bertambah. Selain tiga remaja yang lebih dulu melapor, kepolisian kembali menerima laporan dari dua korban lain yang dikeroyok di lokasi berbeda pada malam yang sama, Kamis (15/1).
Dua korban terbaru tersebut diketahui merupakan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam Blokagung.
Mereka adalah MFA (18), warga Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh, serta AF (18), santri asal Kabupaten Pringsewu, Lampung.
Keduanya menjadi korban pengeroyokan di depan Hotel Agung, Dusun Krajan, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng.
LEBAM: Kanitreskrim Polsek Genteng Ipda Sujarwadi melihat kondisi dua santri yang jadi korban pengeroyokan pendekar silat, Sabtu (17/1). (SUJARWADI FOR RADAR BANYUWANGI)
Polisi menduga, para pelaku merupakan rombongan yang sama dengan kelompok yang sebelumnya melakukan pengeroyokan di simpang empat Traffic Light Dusun Maron, Desa Genteng Kulon, pada malam kejadian.
Kapolsek Genteng, Kompol Edy Priswanto, melalui Kanitreskrim Ipda Sujarwadi membenarkan adanya tambahan korban dalam peristiwa tersebut.
Kasus pengeroyokan terhadap dua santri ini telah tercatat dalam laporan polisi dengan Nomor LP-B/08/I/2026/SPKT/Polsek Genteng/Polresta Banyuwangi/Polda Jawa Timur.
“Ada korban lain yang melapor. Dari hasil pendalaman sementara, kuat dugaan masih satu rangkaian dengan kejadian sebelumnya,” ujar Ipda Sujarwadi.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun kepolisian, pengeroyokan bermula saat kedua santri tersebut melintas di depan Hotel Agung sepulang menghadiri acara hajatan di Desa Temuasri, Kecamatan Sempu, sekitar pukul 22.43 WIB.
Saat melintas, mereka berpapasan dengan sekelompok pemuda yang tengah melakukan konvoi sepeda motor.
Melihat kedua korban mengenakan sarung dan peci, rombongan tersebut tiba-tiba menghentikan laju kendaraan dan menanyai asal-usul para santri.
Para pelaku diduga mengira korban merupakan anggota perguruan silat tertentu.








