sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Wilayah Banyuwangi mulai memasuki masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.
Meski demikian, potensi cuaca ekstrem masih berpeluang terjadi dalam beberapa hari ke depan dan perlu diwaspadai masyarakat di kabupaten ujung timur Pulau Jawa tersebut.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda, Taufiq Hermawan, dalam laporan resmi yang dirilis Minggu (1/3) menyampaikan bahwa sebagian wilayah Jawa Timur saat ini mulai memasuki masa transisi atau pancaroba.
Namun demikian, kondisi atmosfer yang belum stabil membuat potensi cuaca ekstrem masih cukup tinggi.
“Diperkirakan dalam 10 hari ke depan akan terjadi peningkatan cuaca ekstrem yang berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat,” ujarnya.
Dipengaruhi Gangguan Atmosfer
Taufiq menjelaskan, potensi cuaca ekstrem tersebut dipicu sejumlah faktor dinamika atmosfer.
Di antaranya adanya gangguan gelombang atmosfer seperti Madden Julian Oscillation (MJO), Low Frequency, serta Gelombang Rossby yang melintasi wilayah Jawa Timur.
Selain itu, suhu muka laut di perairan selatan Jawa Timur yang masih cukup hangat turut memperkuat suplai uap air ke atmosfer.
Ditambah lagi kondisi atmosfer lokal yang labil, sehingga mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif secara signifikan.
“Kondisi cuaca saat ini berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang,” lanjutnya.
Banyuwangi Masuk Wilayah Rawan
Secara khusus, Banyuwangi termasuk dalam daftar wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan sedang hingga lebat.
Hujan tersebut berpeluang disertai petir, angin kencang, bahkan hujan es di sejumlah titik.
Dampak lanjutan yang harus diantisipasi antara lain banjir, banjir bandang, tanah longsor, jalan licin, pohon tumbang, hingga berkurangnya jarak pandang yang bisa mengganggu aktivitas transportasi darat, laut, maupun udara.
“Wilayah dengan topografi curam, pegunungan, maupun tebing di Banyuwangi diimbau untuk lebih waspada terhadap risiko longsor dan banjir bandang. Perubahan cuaca mendadak juga berpotensi mengganggu aktivitas transportasi dan kegiatan masyarakat di ruang terbuka,” tegas Taufiq.
Page 2
Kamis, 5 Maret 2026 | 04:02 WIB
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Wilayah Banyuwangi mulai memasuki masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.
Meski demikian, potensi cuaca ekstrem masih berpeluang terjadi dalam beberapa hari ke depan dan perlu diwaspadai masyarakat di kabupaten ujung timur Pulau Jawa tersebut.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda, Taufiq Hermawan, dalam laporan resmi yang dirilis Minggu (1/3) menyampaikan bahwa sebagian wilayah Jawa Timur saat ini mulai memasuki masa transisi atau pancaroba.
Namun demikian, kondisi atmosfer yang belum stabil membuat potensi cuaca ekstrem masih cukup tinggi.
“Diperkirakan dalam 10 hari ke depan akan terjadi peningkatan cuaca ekstrem yang berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat,” ujarnya.
Dipengaruhi Gangguan Atmosfer
Taufiq menjelaskan, potensi cuaca ekstrem tersebut dipicu sejumlah faktor dinamika atmosfer.
Di antaranya adanya gangguan gelombang atmosfer seperti Madden Julian Oscillation (MJO), Low Frequency, serta Gelombang Rossby yang melintasi wilayah Jawa Timur.
Selain itu, suhu muka laut di perairan selatan Jawa Timur yang masih cukup hangat turut memperkuat suplai uap air ke atmosfer.
Ditambah lagi kondisi atmosfer lokal yang labil, sehingga mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif secara signifikan.
“Kondisi cuaca saat ini berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang,” lanjutnya.
Banyuwangi Masuk Wilayah Rawan
Secara khusus, Banyuwangi termasuk dalam daftar wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan sedang hingga lebat.
Hujan tersebut berpeluang disertai petir, angin kencang, bahkan hujan es di sejumlah titik.
Dampak lanjutan yang harus diantisipasi antara lain banjir, banjir bandang, tanah longsor, jalan licin, pohon tumbang, hingga berkurangnya jarak pandang yang bisa mengganggu aktivitas transportasi darat, laut, maupun udara.
“Wilayah dengan topografi curam, pegunungan, maupun tebing di Banyuwangi diimbau untuk lebih waspada terhadap risiko longsor dan banjir bandang. Perubahan cuaca mendadak juga berpotensi mengganggu aktivitas transportasi dan kegiatan masyarakat di ruang terbuka,” tegas Taufiq.







