detik.com
Patola atau yang juga akrab disebut petulo menjadi jajanan khas warga Banyuwangi yang banyak diburu selama Ramadan. Para produsennya pun kebanjiran pesanan. Dalam sehari, adonan yang diproduksi bisa mencapai 60 kilogram.
Kue menyerupai mi berwarna-warni ini memiliki cita rasa gurih dan manis. Jajanan berbahan dasar tepung beras tersebut laris diburu pembeli, baik dari dalam maupun luar Banyuwangi.
Istifala (58), perajin kue patola, mengaku mampu mengolah hingga 60 kilogram adonan setiap hari. Produksi biasanya dibagi dalam dua waktu, pagi dan sore.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Patola, takjil khas Banyuwangi yang jadi primadona saat Ramadan Foto: Eka Rimawati/detikJatim |
“Sehari bisa buat 60 kilogram adonan. Paginya sedikit, sorenya buat lebih banyak,” ujar Istifala, Kamis (26/2/2026).
Adonan patola dibuat dari tepung beras yang diolah dengan pewarna makanan alami, kemudian dikukus hingga matang. Dalam satu lembar patola berisi 15 biji dan dijual seharga Rp 8.000.
“Ini bahannya dari tepung beras lalu diolah jadi kue patola. Lakunya memang paling keras saat Ramadan saja. Pesanan dari Banyuwangi sampai Situbondo,” terangnya.
Dalam sehari, omzet kotor yang diperoleh bisa mencapai Rp 2 juta dengan keuntungan bersih sekitar Rp 1,5 juta. Usaha yang dirintis secara turun-temurun tersebut kini telah memasuki generasi ketiga dan berjalan sekitar 20 tahun.
Istifala juga memberdayakan lima karyawan yang merupakan keluarga dan kerabat untuk membantu proses produksi.
“Harus telaten dan tidak boleh terburu-buru saat proses pengukusan supaya hasilnya bagus,” tambahnya.
Kelezatan patola juga diakui para pembeli. Ismawati mengaku hampir setiap hari membeli kue tersebut untuk hidangan berbuka puasa.
“Rasanya maknyus, patolanya enak, gurih manis. Harganya Rp 8.000, ini saya beli dua. Hampir setiap hari beli untuk hidangan puasa. Biasanya dicampur gula, santan, dan sedikit garam,” ungkap Ismawati.
Sementara itu, Dwi Sri asal Bulusan, Ketapang, mengaku baru pertama kali mencoba patola setelah melihatnya di media sosial. Rasa penasaran membawanya langsung ke dapur produsen patola.
“Isinya lebih banyak, 15 biji dengan harga Rp 8.000. Baru kali ini nyoba karena tahu lewat TikTok, kelihatan menggiurkan,” katanya.
Selama Ramadan, produsen kue patola di Banyuwangi nyaris tak pernah sepi pembeli. Patola yang dijajakan selalu ludes terjual.
(auh/hil)









