Lindungi Laut, Disperiklut Buat Dua Zona

0
137

lindungilautHasil Sarasehan di Pantai Cemara Udang, Pakis, Muncul Ide Wisata Bahari


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

BANYUWANGI—Dinas Perikanan dan Kelautan dan (Disperiklut) Kabupaten Banyuwangi menggelar pembinaan kelompok ekonomi masyarakat pesisir, Jumat (13/6). Kegiatan dengan tema Pengelolaan Pantai Cemara Pakis untuk Konservasi Penyu, digelar di Pantai Cemara, Kelurahan Pakis, Kecamatan Banyuwangi. Dalam pertemuan itu hadir Kepala Disperiklut Banyuwangi, Ir Pudjo Hartanto bersama kelompok masyarakat pesisir.

Selain itu, hadir Lurah Pakis Joko Handoko, Lurah Kampung Mandar Bambang Puwanto, perwakilan Bappeda, perwakilan Badan Lingkungan Hidup (BLH). Ada pula dari kantor Konservasi Sumber Daya Alam Banyuwangi, Banyuwangi Sea Turtle Foundation, BPJS, Dinas Kesehatan, serta beberapa undangan lainnya. Dalam sambutannya, Kepala Disperiklut, Ir Pudjo Hartanto mengatakan, pertemuan ini didasarkan atas keprihatinan Disperiklut terhadap kondisi kelautan di sepanjang Kabupaten Banyuwangi. 

Padahal, terang dia, luas perairan di Banyuwangi dapat membantu pengembangan ekonomi, khususnya di bidang perikanan. Dikatakan, sejak tahun 2011 hingga saat ini, produksi tangkap ikan tidak bertambah naik. Padahal Banyuwangi itu identik dengan Muncar, dan Muncar identik dengan ikan. Namun faktanya, jelas dia, kuantitas ikan yang dihasilkan Banyuwangi menurun drastis, khususnya ikan lemuru. “Dulu sebelum tahun 2002, hasil tangkapan ikan di Muncar itu 80 persen adalah ikan lemuru.

Namun sekarang hanya menghasilkan tidak kurang dari 20 persen. Yang mengkhawatirkan, saat ini produksi ikan lemuru malah import,” terang Pudjo kemarin. Oleh sebab itu, Disperiklut akan berupaya mencari solusi agar kondisi kelautan Banyuwangi kembali normal. Salah satunya, jelas dia, membuat peringatan agar tidak menangkap ikan dengan potas maupun bom. Langkah lain, membuat zona. Zona ini terbagi menjadi dua, yaitu zona pemanfaatan dan zona perlindungan.  

Zona pemanfaatan ini, terang dia, zona dimana nelayan boleh mencari ikan tertentu yang diizinkan. Sedang zona perlindungan wilayah yang tidak boleh dijamah oleh nelayan maupun pemancing. “Kita harapkan dengan adanya zona ini ada Bank Ikan. Konsep Bank ikan yaitu Laut lindung sebagai modal pokok dan laut sekitarnya adalah bunganya, jadi nelayan boleh mengambil bunganya jangan pokoknya,” katanya. Tidak hanya itu, Pantai Cemara yang ada di kawasan Pakis Rowo itu juga sangat pas untuk dijadikan destinasi wisata bahari baru.

Sebab, disepanjang Pantai Cemara yang mencapai 2 kilometer itu sering menjadi tempat persinggahan penyu untuk bertelur. “Ada peningkatan sarang Penyu di wilayah Pantai Cemara, dari empat sarang permusiman, pada tahun ini terdapat 21 sarang peneluran penyu,” ungkapnya. Pernyataan Kepala Disperiklut itu diamini oleh Kelompok Usaha Bersama (KUB) Pantai Rejo, Muhyi. Menurut dia, Pantai Cemara sangat cocok dijadikan destinasi wisata bahari. Sebab pohon cemara udang yang dirintis sejak tahun 2011, memberikan keindahan tersendiri. 

Tahun 2011, ada sekitar 5.000 pohon cemara udang yang ditanam, dan hidup sekitar 75 persen. Sementara tahun 2012, ada sekitar 8.000 pohon yang ditanam, dan tahun 2013 ada 600 pohon dan hidup 98 persen. “Lokasi pantai ini sangat cocok untuk budi daya cemara udang,  apalagi pantainya sering dijadikan tempat bertelur penyu,” terang Muhyi. Lurah Pakis, Kecamatan Banyuwangi, Joko Handoko mendukung ide Disperiklut. Menurut Joko, pihaknya akan senang sekali jika Pantai Cemara di Pakis Rowo itu menjadi destinasi bahari baru.

“Oleh sebab itu, saya memberikan apresiasi terhadap ide tersebut,” ujar Joko. Sementara itu, perwakilan Balai Konservasi Sumber Daya Alam, Purwanto memberikan apresiasi terhadap pertemuan itu. Menurut dia, keberadaan masyarakat pesisir sangat membantu dalam melestarikan habitat yang ada di sekitar pantai. “Jangan sampai warga ada yang bermasalah  dengan hukum gara-gara satwa yang dilindungi, penyu termasuk satwa yang dilindungi,” katanya. 

Praktisi penyu dari Banyuwangi Sea Turtle Foundation, Kuswaya mengatakan di kawasan Pantai Cemara ada 21 sarang penyu. Ini berarti, menambah sarang penyu dari kawasan sebelumnya. Seperti kawasan Pantai Cacalan ada dua sarang, Pulau Santen dua sarang, dan Pantai Boom 11 sarang. “Total ada 36 sarang dengan jumlah telur 3.000 lebih. Mudah-mudahan 70 persen dari telur itu lahir tukik dan akan kembali menstabilkan laut,” ujarnya. (radar)

Loading...