sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – PT Jakarta Propertindo (Perseroda) atau Jakpro mendorong pembangunan Stasiun Manggarai LRT Jakarta Fase 1B rute Velodrome–Manggarai sebagai langkah konkret menekan emisi karbon dan polusi udara di kawasan perkotaan.
Proyek ini dinilai tidak hanya meningkatkan mobilitas warga, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan Ibu Kota.
Direktur Teknik dan Pengembangan Jakpro, Dian Takdir, menegaskan bahwa transportasi berbasis listrik menjadi solusi strategis bagi Jakarta.
“Pengembangan LRT Jakarta bukan hanya soal mobilitas, tetapi juga bagian dari tanggung jawab kami dalam menjaga lingkungan,” ujarnya, dikutip Antara, Minggu (8/2/2026).
Menurut Dian, penggunaan energi listrik mampu mengurangi emisi gas rumah kaca yang selama ini didominasi kendaraan pribadi.
Pengembangan kawasan Manggarai dirancang sebagai pusat integrasi antarmoda.
Stasiun Manggarai LRT Jakarta akan terhubung dengan KRL Commuter Line, Kereta Api Bandara, dan Transjakarta.
Integrasi ini diharapkan mendorong peralihan masyarakat ke transportasi massal.
“Sehingga, tidak hanya bertujuan meningkatkan konektivitas transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menekan emisi karbon dan polusi udara,” kata Dian.
Secara kumulatif, pengoperasian LRT Jakarta Fase 1A dan 1B diproyeksikan mampu menurunkan emisi hingga 2.927.250 ton CO₂e.
Penurunan ini berasal dari berkurangnya penggunaan kendaraan bermotor pribadi yang menjadi penyumbang utama pencemaran udara di Jakarta.
Selain itu, kawasan Manggarai dikembangkan dengan konsep Transit Oriented Development (TOD) yang ramah pejalan kaki dan pesepeda.
Konsep ini mendorong pola mobilitas yang lebih sehat dan berkelanjutan.
“Pengoperasian LRT Jakarta berbasis listrik menjadi salah satu bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan,” tutur Dian.
Page 2
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – PT Jakarta Propertindo (Perseroda) atau Jakpro mendorong pembangunan Stasiun Manggarai LRT Jakarta Fase 1B rute Velodrome–Manggarai sebagai langkah konkret menekan emisi karbon dan polusi udara di kawasan perkotaan.
Proyek ini dinilai tidak hanya meningkatkan mobilitas warga, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan Ibu Kota.
Direktur Teknik dan Pengembangan Jakpro, Dian Takdir, menegaskan bahwa transportasi berbasis listrik menjadi solusi strategis bagi Jakarta.
“Pengembangan LRT Jakarta bukan hanya soal mobilitas, tetapi juga bagian dari tanggung jawab kami dalam menjaga lingkungan,” ujarnya, dikutip Antara, Minggu (8/2/2026).
Menurut Dian, penggunaan energi listrik mampu mengurangi emisi gas rumah kaca yang selama ini didominasi kendaraan pribadi.
Pengembangan kawasan Manggarai dirancang sebagai pusat integrasi antarmoda.
Stasiun Manggarai LRT Jakarta akan terhubung dengan KRL Commuter Line, Kereta Api Bandara, dan Transjakarta.
Integrasi ini diharapkan mendorong peralihan masyarakat ke transportasi massal.
“Sehingga, tidak hanya bertujuan meningkatkan konektivitas transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menekan emisi karbon dan polusi udara,” kata Dian.
Secara kumulatif, pengoperasian LRT Jakarta Fase 1A dan 1B diproyeksikan mampu menurunkan emisi hingga 2.927.250 ton CO₂e.
Penurunan ini berasal dari berkurangnya penggunaan kendaraan bermotor pribadi yang menjadi penyumbang utama pencemaran udara di Jakarta.
Selain itu, kawasan Manggarai dikembangkan dengan konsep Transit Oriented Development (TOD) yang ramah pejalan kaki dan pesepeda.
Konsep ini mendorong pola mobilitas yang lebih sehat dan berkelanjutan.
“Pengoperasian LRT Jakarta berbasis listrik menjadi salah satu bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan,” tutur Dian.







