sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Bagi umat Islam, bulan Sya’ban kerap disebut sebagai gerbang emas menuju bulan suci Ramadan.
Di bulan inilah umat Muslim mempersiapkan diri, baik secara spiritual maupun sosial.
Tahun ini, Nisfu Sya’ban 2026 diprediksi menjadi momen istimewa karena adanya keseragaman perhitungan astronomis yang jarang terjadi.
Keseragaman ini membuat penentuan awal Sya’ban hingga malam Nisfu Sya’ban diperkirakan serentak di seluruh Indonesia, baik menurut metode hisab pemerintah, Nahdlatul Ulama (NU), maupun Muhammadiyah.
Titik Temu Astronomis Awal Sya’ban
Berdasarkan perhitungan hisab dengan kriteria Imkanur Rukyat MABIMS yang digunakan Kementerian Agama dan NU, serta kriteria Wujudul Hilal Muhammadiyah, 1 Sya’ban 1447 Hijriah jatuh pada Selasa, 20 Januari 2026.
Keseragaman ini terjadi karena konjungsi (ijtimak) bulan telah berlangsung pada 19 Januari 2026, dengan posisi hilal yang sudah cukup tinggi di atas ufuk saat matahari terbenam.
Secara astronomis, kondisi ini memenuhi seluruh kriteria penetapan awal bulan Hijriah.
Dengan demikian, penentuan pertengahan bulan pun menjadi jelas. Nisfu Sya’ban, yang jatuh pada tanggal 15 Sya’ban, dipastikan berada pada awal Februari 2026.
Jadwal Penting Nisfu Sya’ban 2026
Berdasarkan hitungan tersebut, berikut tanggal-tanggal penting yang perlu dicatat umat Islam:
-
Awal Sya’ban: Selasa, 20 Januari 2026
-
Puasa Ayyamul Bidh: 1–3 Februari 2026 (Minggu–Selasa)
-
Malam Nisfu Sya’ban: Senin malam, 2 Februari 2026
-
Puasa Nisfu Sya’ban: Selasa, 3 Februari 2026
Malam Nisfu Sya’ban dimulai sejak terbenam matahari pada Senin, 2 Februari 2026, dan menjadi puncak ibadah malam penuh ampunan.
Sumber: Radar Semarang, NU Online, jawapos.com
Page 2
Page 3
Dalam ilmu falak (astronomi Islam), penentuan pertengahan bulan tidak sekadar mengacu pada kalender. Secara matematis, bulan mencapai fase purnama pada malam ke-15 Hijriah.
Dengan asumsi siklus sinodik bulan rata-rata 29,53 hari, puncak iluminasi atau kecerahan bulan terjadi di pertengahan siklus tersebut.
Itulah sebabnya malam Nisfu Sya’ban hampir selalu bertepatan dengan bulan purnama, yang secara simbolik dimaknai sebagai terang dan bersihnya hati setelah mendapat ampunan.
Secara visual, bulan di malam Nisfu Sya’ban tampak bulat sempurna, menjadi penanda alami bahwa bulan telah mencapai titik tengah perjalanannya.
Malam Nisfu Sya’ban sering disebut sebagai Laylatul Maghfirah atau malam pengampunan.
Dalam hadis riwayat Mu’adz bin Jabal, yang dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani, disebutkan bahwa Allah SWT memberikan ampunan kepada seluruh makhluk-Nya pada malam ini, kecuali bagi orang musyrik dan orang yang saling bermusuhan.
Di Indonesia, khususnya di kalangan warga Nahdliyin, terdapat tradisi membaca Surah Yasin sebanyak tiga kali setelah salat Maghrib.
Tradisi ini merupakan hasil ijtihad ulama sebagai sarana memperbanyak doa dan munajat.
Bacaan Yasin biasanya disertai niat yang berbeda-beda, mulai dari memohon umur panjang dalam ketaatan, kelapangan rezeki, hingga keteguhan iman.
Kearifan Lokal Jawa Timur
Di Jawa Timur, Nisfu Sya’ban tidak hanya dimaknai secara ritual, tetapi juga dirayakan melalui tradisi budaya yang sarat simbol.
Di wilayah Surabaya dan Gresik, dikenal tradisi Kupatan. Ketupat dimaknai sebagai “ngaku lepat”, simbol pengakuan kesalahan dan upaya saling memaafkan. Ketupat dibelah sebagai lambang hati yang kembali bersih.
Sementara itu, tradisi Megengan dan pembagian kue apem juga marak dilakukan. Kata “apem” diyakini berasal dari bahasa Arab afwun yang berarti ampunan.
Membagi kue apem menjadi simbol memohon ampun kepada Allah SWT sekaligus mempererat silaturahmi antarwarga.
Di Lamongan, masyarakat mengenal tradisi Sego Langgi, yakni makan bersama dengan tujuh macam lauk.
Angka tujuh dimaknai sebagai simbol pitulungan atau pertolongan dari Tuhan.
Sumber: Radar Semarang, NU Online, jawapos.com







