Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Matangkan Rangkaian Puncak Haji 2024, PPIH dan PHD Rakor Persiapan Armuzna: Berikan Perlindungan dan Layanan Jemaah Haji Banyuwangi

matangkan-rangkaian-puncak-haji-2024,-ppih-dan-phd-rakor-persiapan-armuzna:-berikan-perlindungan-dan-layanan-jemaah-haji-banyuwangi
Matangkan Rangkaian Puncak Haji 2024, PPIH dan PHD Rakor Persiapan Armuzna: Berikan Perlindungan dan Layanan Jemaah Haji Banyuwangi
Daftarkan email Anda untuk Berlangganan berita dikirim langsung ke mailbox Anda

Radarbanyuwangi.id – Panitia Penyelenggaraan Ibadah Haji (PPIH) dan Petugas Haji Daerah (PHD) Kabupaten Banyuwangi menggelar rapat koordinasi bersama, Senin (10/6). Pertemuan itu untuk mematangkan persiapan pada rangkaian puncak haji, Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Rapat koordinasi itu, juga untuk memberikan pelayanan dan pelindungan kepada jemaah haji asal Banyuwangi yang tergabung dalam kloter SUB-57, 58, 59, dan kloter SUB-60. Dalam rapat bersama itu, juga meminta para jemaah mempersiapkan diri sebaik mungkin, terutama kesehatan fisik.

“Jemaah dapat memaksimalkan musala hotel dan masjid di sekitar hotel untuk aktivitas ibadahnya. Membatasi bepergian ke luar hotel dan salat di Masjidilharam yang saat ini mulai padat oleh jemaah haji dari seluruh dunia,” ujar PHD Banyuwangi, Bibin Widiatmoko.

Pada rapat itu juga meminta para PPIH dan PHD untuk terus mengingatkan pada para jemaah, agar menjaga dokumen penting berupa smart card, gelang jemaah, dan dokumen penting lainnya. “Itu dibuat syarat masuk Armuzna,” cetusnya.

Ketua kloter SUB- 59, Mustain Hakim menambahkan, untuk pergerakan jemaah haji dari Arafah ke Muzdalifah, ada dua skema, yakni murur bagi jemaah yang sakit dan tidak kuat berdiri.

“Bagi jemaah murur ini saat mabit atau bermalam di Muzdalifah, tetap berada di atas bus, begitu melewati tengah malam diteruskan ke Mina,” jelasnya.

Setiap kloter, kata Hakim, diperkenankan mengajukan 25 persen dari jumlah kloter, bagi jemaah yang sakit dan pendampingnya. Adapun kriteria murur ini bagi jemaah risti, lansia, dan disabilitas yang disertai dengan pendamping.

“Untuk kloter 59 tidak ada jemaah yang tanazul selama di Mina (dipindah ke hotel Misfalah), dan tidak ada yang program tarwiyah,” tegasnya.

Sementara itu, anggota jemaah kloter SUB-60 Syukroini melaporkan, menjelang Armuzna dan penghentian sementara bus selawat, mulai Selasa (11/6) terjadi kemacetan memasuki terminal bus menuju ke Masjidilharam, baik yang masuk maupun keluar.  

Jika biasanya dari hotel Al Bilal, tempat jemaah haji Banyuwangi bermalam, bisa ditempuh dalam waktu 10 hingga 15 menit, kini perjalanan bisa hampir satu jam. “Terjadinya kemacetan ini karena jemaah mulai membeludak,” tandasnya.(ddy/abi)