sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Ruas Jalan Tol Jambi–Rengat kembali menjadi sorotan dalam beberapa pekan terakhir.
Proyek strategis nasional ini diproyeksikan menjadi penghubung vital antara Provinsi Jambi dan Riau, sekaligus memperkuat jaringan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) di wilayah Sumatera bagian tengah.
Pemerintah menargetkan tol ini dapat beroperasi penuh pada tahun 2029.
Jalan tol Jambi–Rengat dirancang memiliki panjang total mencapai 198,13 kilometer dengan kecepatan rencana hingga 100 kilometer per jam.
Pada tahap awal pembangunan, tol ini akan dibangun dengan konfigurasi 2×2 lajur.
Seiring dengan meningkatnya volume lalu lintas, jalan tol tersebut akan dikembangkan menjadi 2×3 lajur guna mengakomodasi pertumbuhan mobilitas kendaraan.
Dari sisi fasilitas, pemerintah menyiapkan empat simpang susun strategis yang akan menjadi titik utama keluar-masuk tol.
Keempat simpang susun tersebut meliputi Simpang Susun Cinto Kenang, Merlung, Sentjalang, dan Rengat.
Keberadaan simpang susun ini diharapkan mampu menghubungkan kawasan-kawasan ekonomi penting di sepanjang koridor Jambi–Riau.
Selain simpang susun, Tol Jambi–Rengat juga akan dilengkapi empat pasang rest area.
Fasilitas tersebut disiapkan untuk menunjang kenyamanan pengguna jalan, khususnya pengemudi kendaraan logistik dan pelaku perjalanan jarak jauh.
Rest area diharapkan menjadi titik istirahat yang aman sekaligus mendorong aktivitas ekonomi lokal.
Pemerintah pusat memastikan kelanjutan pembangunan Tol Jambi–Rengat melalui skema pembiayaan internasional.
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyebut proyek ini mendapat dukungan pendanaan dari Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB).
Page 2
Page 3
Kepastian tersebut disampaikan dalam paparan resmi Kementerian PU kepada Komisi V DPR RI saat kunjungan kerja spesifik di Provinsi Jambi.
Direktur Jalan Bebas Hambatan Kementerian PU, Dedy Gunawan, menjelaskan bahwa pembangunan tol akan dilakukan secara bertahap.
Tahap awal difokuskan pada segmen Simpang Ness atau Pijoan hingga Merlung dengan panjang sekitar 67 kilometer.
“Setelah Simpang Ness–Merlung, pembangunan akan dilanjutkan menuju Sentjalang hingga Rengat. Minat pendanaan dari AIIB sangat kuat, bahkan untuk keseluruhan ruas,” ujar Dedy dalam paparannya.
Meski demikian, saat ini Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) masih memprioritaskan pendanaan untuk segmen awal Simpang Ness–Merlung.
Kementerian PU terus mendorong agar pembangunan dapat diperpanjang hingga mendekati Rengat seiring terbukanya peluang anggaran dan dukungan pendanaan lanjutan.
Dari sisi jadwal, proses administrasi proyek diperkirakan rampung pada awal 2027. Sepanjang tahun 2026, pemerintah akan menyelesaikan sejumlah tahapan penting, mulai dari finalisasi Green Book Bappenas, revisi Detail Engineering Design (DED), hingga penyusunan dan penyempurnaan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).
“Target kuartal I 2027 sudah dilakukan penandatanganan loan agreement dengan AIIB. Setelah itu proses lelang dan konstruksi dimulai di tahun yang sama. Harapannya 2029 tol sudah operasional,” jelas Dedy.
Secara teknis, medan pembangunan Tol Jambi–Rengat dinilai relatif tidak terlalu berat.
Tantangan utama terletak pada pembangunan jembatan bentang panjang yang melintasi Sungai Batanghari.
Pembangunan jembatan ini memerlukan perencanaan konstruksi khusus agar tetap aman, efisien, dan ramah lingkungan.
Dari sisi lahan, penetapan lokasi (penlok) telah dilakukan dan proses pembebasan lahan sempat berjalan sekitar 10 persen.
Namun, proses tersebut sempat terhambat akibat pemblokiran anggaran oleh Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN).
Kementerian PU kini tengah menyiapkan nota kesepahaman agar dana pembebasan lahan dapat kembali dicairkan dan proses pengadaan lahan bisa dilanjutkan.
Anggota DPRD Provinsi Jambi, H. Bakri, menyatakan optimisme tinggi terhadap kelanjutan proyek Tol Jambi–Rengat.







