Banyuwangi, Jurnalnews.com – Di tengah dinamika dan situasi yang sempat menghangat, Musyawarah Desa Khusus (Musdesus) Desa Bengkak, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, Kamis (29/1/2026), justru menjadi ruang pertemuan yang meneduhkan. Forum yang digelar di pendopo desa itu menghadirkan semangat baru di bawah kepemimpinan Camat Wongsorejo yang baru, Mohammad Mahfud, dengan nuansa dialog, keterbukaan, dan kebersamaan.
Musdesus yang diinisiasi oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD), difasilitasi Pemerintah Desa Bengkak, serta melibatkan pengurus BUMDes, pendamping desa, dan tokoh masyarakat ini bertujuan mengevaluasi kinerja BUMDes sekaligus mencari jalan terbaik demi kemajuan desa.
Membuka kegiatan, Camat Mohammad Mahfud menyampaikan pesan yang menenangkan sekaligus membangun. Ia mengajak seluruh elemen desa untuk menatap masa depan dengan semangat musyawarah dan kebersamaan.
“Mari Desa Bengkak dibangun dengan baik. Masyarakat diajak diskusi, dimusyawarahkan bersama, demi kemajuan dan kesejahteraan bersama. Yang lalu biarlah berlalu, tetap dipertanggungjawabkan, dan ke depan harus ditata lebih baik,” ujar Camat Mahfud.
Ia juga menekankan pentingnya transparansi dan ketertiban administrasi, khususnya dalam pengelolaan keuangan desa dan BUMDes. Menurutnya, administrasi bukan sekadar formalitas, tetapi fondasi utama tata kelola yang sehat dan berkeadilan.
“Kesalahan harus menjadi pelajaran, bukan alasan. Administrasi dan keuangan tidak boleh diremehkan. Aspirasi masyarakat harus ditampung, karena di situlah kepercayaan publik dibangun,” tegasnya dengan nada membina.
Sementara itu, Pj. Kepala Desa Bengkak, Suryanto, menyampaikan komitmennya untuk membuka ruang komunikasi seluas-luasnya dengan masyarakat. Ia menegaskan bahwa meskipun berstatus sebagai PJ, dirinya tetap memiliki tanggung jawab moral dan komitmen penuh untuk membangun Desa Bengkak.
“Monggo kita musyawarahkan bersama apa yang terbaik untuk desa. Saya terbuka untuk kritik, masukan, dan komunikasi. Ke depan, anggaran akan kita pampang secara terbuka—diterima untuk apa, digunakan untuk apa. Tujuannya satu, membangun Desa Bengkak,” ujarnya.
Forum kemudian berlanjut dalam diskusi yang dinamis. Sejumlah warga menyampaikan harapan akan adanya klarifikasi terkait data kepengurusan BUMDes tahun 2025, pencatatan sebelumnya, serta munculnya struktur BUMDes baru. Meski suasana sempat menghangat, dialog tetap berjalan dalam koridor musyawarah dan saling menghormati.
Hasil evaluasi akhirnya melahirkan kesepakatan bersama:
Musyawarah desa lanjutan (musdes) akan kembali digelar dengan agenda pembentukan pengurus BUMDes yang baru serta penyampaian LPJ BUMDes sebelumnya. Pemerintah desa juga berkomitmen bahwa pengelolaan program ketahanan pangan tahun-tahun sebelumnya ke depan akan diserahkan kepada pengurus baru yang dibentuk secara musyawarah.
Musdesus Bengkak pun menjadi momentum penting: bukan hanya sebagai ruang evaluasi, tetapi juga sebagai titik awal rekonsiliasi, penataan, dan harapan baru. Di bawah kepemimpinan Camat Mohammad Mahfud, suasana hangat berhasil diarahkan menjadi dialog yang teduh—menguatkan semangat bahwa persoalan desa dapat diselesaikan dengan musyawarah, keterbukaan, dan kebersamaan. (Venus Hadi)







