Personel Paskibra Dari Banyuwangi

0
186

personelBeban Lebih Berat, Tetap Latihan saat Istirahat


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

MEREKA tak ubahnya seperti anak sekolah pada umumnya ketika hari-hari pertama dipilih sebagai Paskibra. Namun, setelah 20 hari mengikuti pelatihan dan karantina bersama siswa lain, penampilan mereka berubah. Lebih hitam, lebih tegap, dan tentu saja lebih tegas. Awalnya, 75 siswa yang ikut karantina dibagi menjadi tiga peleton.Sepuluh hari kemudian, mereka disatukan dalam satu kompi. Kemudian, mereka dibagi menjadi pasukan 45, pasukan 17, dan pasukan 8.

Formasi itu melambangkan tanggal kemerdekaan Republik Indonesia, yaitu tanggal 17, bulan 8, dan tahun 45. Dari ketiga bagian tersebut, pasukan delapan-lah yang paling menentukan kesuksesan upacara. Sebab, mereka bertugas mengibarkan bendera. Ada dua pasukan delapan yang dibentuk dalam upacara 17 Agustus 2014 lalu, yakni pasukan pengibaran bendera dan pasukan penurunan. Pasukan pengibaran diberi nama Pasukan Delapan A dan pasukan penurunan diberi nama Pasukan Delapan B.  

Pasukan Delapan A terdiri atas Jelvin Novetami, Kusrian Dian, Evi Ratnasari, Ghozy Alfiantika, Luki Andika, Agung Bimantara, Odi Ray Madinah, dan Majastyanata Raka. Pasukan Delapan B terdiri atas Anita Dwi P., Enggar Dwi N., Haryo Paradita W., Igo Fadilah I., Lina Dianti R., Dhany Abimanyu, I Gede Agung, dan Rega Fernando W. Satu anggota pasukan delapan, Haryo Paradita, menceritakan perjuangannya sebelum terpilih dalam pasukan delapan. Sebelum seleksi,pelatih memberikan materi yang cukup berat bagi mereka.

Setelah terpilih, tidak ada sedikit pun kompensasi yang didapat. Haryo merasa pasukan delapan selalu menjadi perhatian. Sebab, pasukan delapan memiliki beban yang lebih berat daripada pasukan lain. Tak jarang, kata Haryo, tim delapan terus berlatih meskipun di waktu istirahat. Hal tersebut, menurutnya, menyebabkan karakter pasukan delapan menjadi lebih kuat dan tidak cengeng. “Salah sedikit, kita disuruh jungkir balik dan dimarahi. Pokoknya lebih berat daripada yang lain,” jelas Haryo. 

Sementara itu, Anita Dewi, anggota Pasukan Delapan B mengungkapkan, menjadi pasukan delapan adalah hal yang sangat menyenangkan. Meskipun berat, tapi bagi anggota Paskibra yang ingin menjadi dokter gigi itu, dirinya mendapat banyak dukungan dan harapan saat masuk pasukan delapan. Itu membuat dirinya bersemangat. Dia mengaku, teman-teman dan orang tuanya memberikan support agar terus berlatih dengan baik. Ketika ditanya tentang apa yang membuat mereka terpilih dalam pasukan delapan, mereka hanya menerka-nerka.

Ghozy Alfiantika, anggota Pasukan Delapan A mengatakan, kemungkinan karena mereka mampu bertahan lebih lama daripada yang lain. “Meskipun capai, kami berusaha bertahan, dan tidak menurunkan konsentrasi. Mungkin itu yang membuat pelatih memilih kita,” ujar Ghozy. Meski menyadari tugas mereka cukup berat, ke-16 remaja itu tak terlihat terbebani. Mereka menceritakan, tangis kebanggaan orang tua menjadi pemacu apa yang mereka lakukan. Setelah mendapatkan materi pada acara renungan malam, mereka mengaku, jiwa mereka seolah terbakar api patriotisme. 

Mereka pun berjanji kepada diri sendiri akan berubah menjadi manusia yang lebih baik meskipun tugas sebagai Paskibra sudah selesai. Sementara itu, para anggota Paskibra tersebut juga memiliki pelatih favorit yang menurut mereka cukup memahami kondisi mereka saat berlatih. Serentak mereka mengatakan Pelatih Imam menjadi favorit. Ada satu pelatih yang menurut mereka selalu membuat tegang. Mereka hanya memberikan inisial E. Saat ditanya mengenai kemungkinan kegagalan dan keberhasilan saat upacara pengibaran bendera, mereka terlihat cukup tegang.

Satu per satu mereka mengeluarkan pendapat yang sama, yakni akan menyesal seumur hidup. Kemudian, tiba-tiba seorang anggota Paskibra mengubah suasana. Dia berjanji akan menyukseskan upacara itu. Anggota Paskibra tersebut mengatakan akan melakukan sujud syukur di tempat jika pengibaran dan penurunan sukses. Seperti yang dilihat semua hadirin dan masyarakat Banyuwangi, peringatan detik-detik proklamasi berjalan lancar. 

Napas berat yang ditahan para hadirin upacara dibayar Paskibra dengan bendera yang berkibar di lapangan Blambangan. Senyum pelatih yang menanti dengan cemas menandakan upacara itu berjalan sukses. Pada malam harinya, semua anggota Paskibra merayakan keberhasilan mereka. Berkibarnya bendera dengan tegak menunjukkan tegaknya kemerdekaan Indonesia di Bumi Blambangan. (radar)

Loading...