Pesta Penutup Masa Jabatan

  • Bagikan

GLAGAH – Kampung adat Oseng di Dasa Kemiren, Kccamatan Glagah, menjelma menjadi lautan kopi tadi malam. Ribuan orang menyemut menghadiri Fesival Ngopi Sepuluh Ewu. Ngopi gratis itu berlangsung di sepanjang utama desa tersebut.

Masing-masing rumah yang berdiri di sepanjang jalan desa adat Banyuwangi itu dilengkapi pondok mirip kopi, lengkap meja, kursi, lengkap teko, dan cangkir berisi kopi seduhan yang masih panas. Total ada sekitar 300 Kg bubuk kopi yang disediakan panitia untuk diseduh dalam sebuah cangkir dan diminum secara bersama-sama.

Yang terasa istimewa, Festival Ngopi Sepuluh Ewu tersebut juga dihadiri Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Dia datang didampingi wakilnya, Yusuf Widyatmoko, serta jajaran kepala SKPD. Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Samsudin Adlawi juga hadir di tengah-tengah ribuan warga yang ikut ngopi gratis.

Pemilik sanggar Genjah Arum, lwan Subekti, beserta kepala Desa Kemiren juga hadir. Festival Ngopi Sepuluh Ewu tahun ini merupakan ketiga kalinya digelar. Festival pertama digelar pada tahun 2013 lalu. Pada tahun 2013 festival tersebut bertajuk Festival Seribu Kopi.

Karena dirasa peminat dan wargi yang datang pada festival tersebut sangat banyak, akhimya sejak tahun 2014 diganti menjadi Festival Ngopi Sepuluh Ewu. Tajuk tersebut bertahan hingga sampai ini. Acara festival tahun ini dimulai pukul 20.00.

Sebelum membuka festival, Anas lebih dulu melakukan peresmian art shop Osing Kemiren yang lokasinya di sebelah barat pertigaan Desa Kemiren. Kemudian, acara dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti sebagai tanda bahwa art shop tersebut telah diresmikan.

Dengan penuangan kopi pertama ke dalam cangcir, Anas akhirnya membuka festival.  Bagi Anas, festival kali ini terasa istimewa karena bersamaan dengan masa jabatannya sebagai Bupati Banyuwangi habis. Kemarin (20/19) merupakan hari terakhir Anas yang berduet dengan Yusuf Widyatmoko menjabat bupati Banyuwangi periode 2010-2015.

Tak salah jika Festival Ngopi Sepuluh Ewu tersebut menjadi pesta penutup masa jabatan mereka. Anas dalam sambutannya mengatakan, Festival Ngopi Sepuluh Ewu merupakan teladan yang cukup baik bagi masyarakat lain.

Sebab, dalam festival tersebut meski warga Kemiren tidak kaya semua, tapi mereka bisa menyuguhkan kopi secara gratis kepada masyarakat yang datang. “Orang Kemiren ini subuh dan gupuh terhadap warga daerah lain yang datang, ini bisa jadi teladan.

Festival ini juga sebagai ajang silaturahmi bagi warga Desa Kemiren dengan warga lain,” kata Anas. Festival Ngopi Sepuluh Ewu kemarin berlangsung sangat meriah. Jumlah warga yang datang semakin meningkat dibanding tahun lalu.

Warga tampak menikmati seduhan kopi yang disediakan warga Kemiren secara gratis itu. Uniknya, seluruh warga yang datang menikmati kopi dengan cangkir yang sama. Sebab, hampir seluruh warga Desa Kemiren memiliki cangkir kopi yang serupa.

“Seluruh warga Kemiren ini pasti punya cangkir kopi. Minimal satu kepala keluarga (KK) punya satu lusin kopi. Warga sudah menggoreng kopi sejak kemarin (19/10),” ujar Supri, salah satu warga Kemiren.  Selain itu, pada festival kopi tahun ini juga diadakan lomba fotografi.

Objek foto yang dilombakan adalah tentang kehidupan masyarakat Kemiren dan Festival Ngopi Sepuluh Ewu. Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi Festival Ngopi Sepuluh Ewu di desa adat Suku Oseng menyajikan kopi dan aneka jajan pelengkap kopi gratis untuk semua pengunjung.

Siapa pun yang berkunjung ke Desa Kemiren malam itu diperlakan meminum kopi tradisional kebanggaan masyarakat setempat secara cuma-cuma alias gratis.  Tidak hanya itu, dalam Festival Ngopi Sepuluh Ewu kemarin jajan tradisional juga disuguhkan untuk masyarakat yang datang. Ada keripik gadung, ketan, pisang rebus, serabi, lanun, lupis, dan klemben. (radar)

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: