Berita Terkini Seputar Banyuwangi

PKP Kenalkan Teknologi Padi Baru

pkpAntisipasi Terus Menyusutnya Lahan Pertanian

BANYUWANGI – Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Perkebunan (PKP) melakukan berbagai antisipasi terus menyusutnya lahan pertanian. Dalam beberapa tahun ini, alih fungsi lahan pertanian terus meningkat sehingga mengancam ketersediaan bahan pangan masyarakat. Pada saat konversi lahan pertanian terus meningkat, pertumbuhan penduduk terus meningkat pula dan perubahan iklim terus mengancam produktivitas lahan pertanian.

“Tantangan besar tersebut perlu disikapi dengan solusi implementasi teknologi dan kerja keras agar pangan senantiasa tersedia dalam jumlah dan harga yang cukup terjangkau kantong rakyat,” ujar Kepala Dinas PKP Ikrori Hudanto. Untuk mengantisipasi beberapa persoalan besar itu, menurut Ikrari, Dinas PKP memperkenalkan teknologi tepat guna pada masyarakat petani. Harapan mereka dapat menerapkannya secara langsung di lahan pertaniannya.

Menurut Ikrori, petani adalah pahlawan ketahanan pangan. Karena sehebat apapun teknologi namun tidak dapat diterapkan petani secara intensif, maka tidak akan optimal manfaatnya bagi masyarakat. Salah satu teknologi yang dapat dikembangkan petani saat ini adalah penggunaan padi hibrida. Saat ini, padi hibrida belum dikenal luas petani kita sebagaimana mereka mengenal jagung hibrida dengan baik.

Teknologi terkini telah menghasilkan padi hibrida cukup baik yang ditandai dengan potensi hasil besar mencapai 10 hingga 12 ton per hektare. Sejak teknologi padi hibrida diperkenalkan pertama kali di Indonesia, petani kurang menyukainya karena padi hasil teknologi persilangan ini dianggap rentan hama penyakit dan rasa nasi yang tidak enak. Pihaknya, lanjut Ikrori, terus berupaya mengenalkan teknologi terkini padi hibrida kepada masyarakat.

Saat ini, Dinas Pertanian telah menerapkan demplot padi hibrida di beberapa kecamatan dengan hasil produksi cukup memuaskan antara sembilan hingga 10 ton per hektare. Pada Rabu (11/9) dan Kamis (12/9) lalu, Dinas Pertanian memperkenalkan teknologi pada hibrida di areal padi hibrida Desa Pengantigan, Kecamatan Rogojampi. Kelompok tani dari beberapa kecamatan yaitu Wongsorejo, Rogojampi, Kabat, Cluring, Glenmore, Muncar, Licin, Bangorejo, Purwoharjo, dan Gambiran hadir dalam acara itu.

Di tempat saya padi biasa paling banyak menghasilkan panen tujuh ton per hektare,” ujar H. Hamidi, petani asal Wongsorejo. Pada kesempatan itu, setiap kelompok diajak berkeliling di lokasi padi hibrida untuk melihat tahapan pembibitan hingga tahapan panen. Dalam acara tersebut juga disedikan nasi hasil padi hibrida. Setiap petani diminta untuk mencoba langsung rasa nasi tersebut.

Ikrori menyampaikan apresiasi terhadap perkembangan teknologi padi hibrida. Teknologi padi hibrida perlu dilihat sebagai salah satu alternatif yang perlu dikembangkan untuk mencapai surplus beras. “Suksesnya ketahanan pangan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga para stake holder pihak swasta,” katanya. Karena itu, para petani mempunyai tugas berat ke depan agar produksi pangan dalam negeri berdaulat di negeri sendiri. Jika mampu dapat memenuhi kebutuhan pangan internasional. (radar)

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE