Banyuwangi, Jurnalnews.com – Misteri menyelimuti kantor Desa Alasrejo, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi. Oknum perangkat desa berinisial A, yang namanya viral setelah dituding melakukan pelecehan terhadap seorang bidan berinisial AN, mendadak menghilang dari kantor. Hingga Rabu, 7 Januari 2026, sosok A tak terlihat menjalankan tugas sebagaimana biasanya.
Pantauan Jurnalnews di Kantor Desa Alasrejo menunjukkan kursi kerja terduga pelaku kosong. Upaya konfirmasi kepada Kepala Desa maupun Sekretaris Desa pun berujung nihil. Keduanya tidak berada di tempat saat awak media datang.
Keterangan justru diperoleh dari Sumiani, salah satu staf desa. Ia memastikan bahwa A tidak masuk kerja dan tidak memberikan keterangan apa pun.
“A tidak masuk kerja, Mas. Tidak ada kabar atau izin di grup. Tidak tahu juga kalau izinnya langsung ke Pak Kades,” ujarnya singkat.
Kondisi ini memicu tanda tanya besar di tengah masyarakat. Apalagi kasus yang menyeret nama A telah menyedot perhatian publik dan menuai kecaman luas di media sosial.
Sementara itu, Camat Wongsorejo, Ahmad Nuril Falah, mengaku terkejut saat dikonfirmasi terkait kasus tersebut. Ia menyatakan belum menerima laporan resmi dari pihak desa.
“Loh, saya kok belum dengar kabar itu. Nanti saya hubungi kepala desanya. Ini harus segera diselesaikan,” tegas Nuril.
Seperti diketahui, publik sebelumnya dihebohkan oleh pengakuan seorang bidan berinisial AN, tenaga medis yang bertugas di Puskesmas Wongsorejo, yang mengaku menjadi korban dugaan pelecehan oleh oknum perangkat Desa Alasrejo.
Peristiwa itu terjadi Senin siang (5/1/ 2026, sekitar pukul 13.00 WIB, di ruas jalan sepi kawasan TPU Kebunrejo. Dalam penuturannya, AN mengaku tengah mengendarai sepeda motor seorang diri ke arah timur. Situasi jalan yang lengang membuatnya lengah.
Namun tiba-tiba, dari arah belakang, seseorang menepuk paha bagian depan tubuhnya.
Pelaku langsung tancap gas dan kabur ke arah timur. Dari ciri-ciri dan keyakinannya, AN meyakini pelaku adalah A, oknum perangkat desa yang dikenalnya.
Trauma mendalam pun dialami korban. Baru pada sore harinya, AN menceritakan kejadian itu kepada sang suami. Mendengar pengakuan tersebut, suami AN naik pitam dan berniat melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian.
AN menyebut peristiwa yang dialaminya bukanlah perkara sepele. Ia mengaku terpukul secara psikis. Namun di tengah badai yang menerpanya, AN masih berharap adanya itikad baik dari terduga pelaku. Ia hanya menginginkan permintaan maaf kepada dirinya dan keluarga.
Kini, publik menanti langkah tegas dari pemerintah desa dan aparat penegak hukum. Menghilangnya terduga pelaku dari kantor justru menambah panjang daftar pertanyaan dan desakan agar kasus ini tidak disapu di bawah karpet. (Venus Hadi)








