sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Memasuki bulan Januari hingga Februari, Banyuwangi diprakirakan memasuki puncak musim hujan.
Berdasarkan prediksi curah hujan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta kajian risiko bencana daerah dari BPBD Banyuwangi, sejumlah potensi bencana hidrometeorologi perlu mendapat perhatian serius dari masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD Banyuwangi, Danang Hartanto mengatakan, peningkatan curah hujan berpotensi memicu berbagai jenis bencana, terutama di wilayah-wilayah yang memiliki karakteristik rawan.
”Pada periode Januari hingga Februari ini, intensitas hujan diperkirakan meningkat. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi di beberapa wilayah Banyuwangi,” kata Danang Hartanto.
Berdasarkan Kajian Risiko Bencana Banyuwangi Tahun 2024–2029 serta data kejadian bencana periode 2012–2025 yang dihimpun BPBD Banyuwangi, terdapat sejumlah wilayah dengan potensi bencana hidrometeorologi yang perlu mendapat perhatian serius, khususnya pada puncak musim hujan saat ini.
Potensi banjir bandang tercatat berisiko terjadi di sejumlah kecamatan, yakni Banyuwangi, Giri, Glagah, Licin, Kalipuro, Kalibaru, Glenmore, Songgon, Sempu, Pesanggaran, Singojuruh, hingga Wongsorejo.
Wilayah-wilayah tersebut umumnya memiliki karakteristik daerah aliran sungai, topografi berbukit hingga lereng terjal, yang rentan terhadap peningkatan curah hujan.
Sementara itu, potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat, angin kencang, dan petir berisiko terjadi di seluruh kecamatan di Banyuwangi.
Kondisi ini berpotensi menimbulkan berbagai dampak, mulai dari pohon tumbang hingga gangguan aktivitas masyarakat.
Untuk potensi banjir, wilayah perkotaan dan pesisir seperti Kecamatan Banyuwangi, Muncar, dan Pesanggaran tercatat memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi.
Hal ini dipengaruhi oleh limpasan air permukaan serta interaksi antara curah hujan tinggi dan pasang air laut.
“Cuaca ekstrem bisa terjadi secara luas, sehingga masyarakat perlu lebih berhati-hati, terutama saat beraktivitas di luar ruangan,” ujarnya.
Selain itu, potensi tanah longsor berdasarkan kajian risiko dan riwayat kejadian bencana teridentifikasi di kecamatan Glenmore, Kalibaru, Kalipuro, Licin, dan Pesanggaran.
Daerah-daerah tersebut memiliki kontur perbukitan dengan kondisi tanah mudah rontok saat intensitas hujan meningkat.
Page 2
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Memasuki bulan Januari hingga Februari, Banyuwangi diprakirakan memasuki puncak musim hujan.
Berdasarkan prediksi curah hujan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta kajian risiko bencana daerah dari BPBD Banyuwangi, sejumlah potensi bencana hidrometeorologi perlu mendapat perhatian serius dari masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD Banyuwangi, Danang Hartanto mengatakan, peningkatan curah hujan berpotensi memicu berbagai jenis bencana, terutama di wilayah-wilayah yang memiliki karakteristik rawan.
”Pada periode Januari hingga Februari ini, intensitas hujan diperkirakan meningkat. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi di beberapa wilayah Banyuwangi,” kata Danang Hartanto.
Berdasarkan Kajian Risiko Bencana Banyuwangi Tahun 2024–2029 serta data kejadian bencana periode 2012–2025 yang dihimpun BPBD Banyuwangi, terdapat sejumlah wilayah dengan potensi bencana hidrometeorologi yang perlu mendapat perhatian serius, khususnya pada puncak musim hujan saat ini.
Potensi banjir bandang tercatat berisiko terjadi di sejumlah kecamatan, yakni Banyuwangi, Giri, Glagah, Licin, Kalipuro, Kalibaru, Glenmore, Songgon, Sempu, Pesanggaran, Singojuruh, hingga Wongsorejo.
Wilayah-wilayah tersebut umumnya memiliki karakteristik daerah aliran sungai, topografi berbukit hingga lereng terjal, yang rentan terhadap peningkatan curah hujan.
Sementara itu, potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat, angin kencang, dan petir berisiko terjadi di seluruh kecamatan di Banyuwangi.
Kondisi ini berpotensi menimbulkan berbagai dampak, mulai dari pohon tumbang hingga gangguan aktivitas masyarakat.
Untuk potensi banjir, wilayah perkotaan dan pesisir seperti Kecamatan Banyuwangi, Muncar, dan Pesanggaran tercatat memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi.
Hal ini dipengaruhi oleh limpasan air permukaan serta interaksi antara curah hujan tinggi dan pasang air laut.
“Cuaca ekstrem bisa terjadi secara luas, sehingga masyarakat perlu lebih berhati-hati, terutama saat beraktivitas di luar ruangan,” ujarnya.
Selain itu, potensi tanah longsor berdasarkan kajian risiko dan riwayat kejadian bencana teridentifikasi di kecamatan Glenmore, Kalibaru, Kalipuro, Licin, dan Pesanggaran.
Daerah-daerah tersebut memiliki kontur perbukitan dengan kondisi tanah mudah rontok saat intensitas hujan meningkat.








