sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Proyek Jalan Tol Probolinggo–Situbondo-Banyuwangi (Prosiwangi) terus dikebut.
Di wilayah barat Kabupaten Situbondo, pembangunan fisik jalan tol sudah mulai tampak signifikan. Bahkan hampir rampung.
Namun, jika dicermati lebih jauh, satu aspek penting justru belum terlihat, yakni perencanaan penghijauan di kawasan simpang susun atau exit tol.
Pantauan di sejumlah titik simpang susun di Kabupaten Probolinggo, mulai Exit Gending, Exit Kraksaan, hingga Exit Paiton, menunjukkan bahwa seluruh area masih berfokus pada pekerjaan struktur jalan, badan tol, serta kelengkapan fasilitas pendukung lainnya. Elemen vegetasi nyaris belum tersentuh.
Kondisi serupa juga terlihat di Exit Besuki, Kabupaten Situbondo. Hingga saat ini, kawasan simpang susun tersebut masih tampak gersang, minim pepohonan, serta belum memiliki sentuhan estetika maupun fungsi ekologis yang memadai.
Padahal, keberadaan tanaman penghijauan di sekitar simpang susun jalan tol memiliki peran yang sangat vital.
Tidak hanya mempercantik lanskap, tanaman hijau juga berfungsi sebagai penyerap polusi udara, peredam kebisingan, hingga penambah kenyamanan bagi pengguna jalan.
“Simpang susun itu wajah sebuah wilayah. Kalau dibiarkan gersang, kesan pertama yang muncul justru kering dan panas,” ujar Rahman BS, warga Banyuwangi yang pernah lama tinggal di Situbondo.
Menurut Rahman, keberadaan pohon dan tanaman hijau di kawasan exit tol tidak semata persoalan estetika.
Lebih dari itu, penghijauan harus menjadi bagian dari konsep infrastruktur hijau yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
“Ini harus dipikirkan mulai dari sekarang. Kalau terlambat, kita kehilangan momentum menjadikan jalan tol ini sebagai contoh infrastruktur hijau,” tegasnya.
Hingga kini, pihak pengelola Tol Prosiwangi maupun instansi terkait belum mengumumkan secara resmi jenis tanaman apa yang akan digunakan untuk penghijauan di kawasan simpang susun.
Padahal, setiap wilayah memiliki karakteristik lingkungan yang berbeda dan membutuhkan pendekatan khusus.
Rahman menilai, idealnya setiap exit tol disesuaikan dengan kondisi geografis dan sosial wilayah masing-masing, terutama di kawasan Tapal Kuda Jawa Timur yang memiliki karakter pesisir, agraris, hingga permukiman padat.
Page 2
Ia pun mengusulkan beberapa jenis tanaman yang dinilai cocok ditanam di masing-masing simpang susun Tol Prosiwangi.
Untuk Exit Gending, yang berada dekat kawasan pertanian dan permukiman, tanaman seperti Tabebuya dinilai ideal karena bunganya mencolok, tahan panas, dan mampu memperindah kawasan.
Selain itu, Ketapang Kencana juga cocok karena berakar kuat, cepat tumbuh, dan memberikan keteduhan.
Sementara di Exit Kraksaan, yang berada di kawasan permukiman padat dan lalu lintas kendaraan tinggi, pohon Trembesi direkomendasikan sebagai peneduh sekaligus penyerap polusi udara.
Sebagai pelengkap, semak bunga Bougenville dapat dimanfaatkan sebagai pagar hidup yang estetik.
Berbeda dengan wilayah lainnya, Exit Paiton berada di kawasan pesisir. Karena itu, tanaman yang dipilih harus tahan terhadap angin kencang dan kadar garam tinggi.
Jenis tanaman seperti Kaliandra, Kelor, dan Nyamplung dinilai paling sesuai untuk kondisi tersebut.
Adapun Exit Besuki, yang berada di kawasan semi-agraris dekat persawahan, dinilai cocok ditanami Glodokan Tiang serta Mahoni.
Selain menyatu dengan lingkungan sekitar, tanaman tersebut juga dikenal mampu meningkatkan kualitas udara.
Dengan masih berlangsungnya pembangunan fisik Tol Prosiwangi, masyarakat berharap aspek penghijauan tidak hanya menjadi pelengkap di tahap akhir, tetapi dirancang sejak dini sebagai bagian integral dari pembangunan.
“Tol ini bukan hanya soal mempercepat mobilitas, tapi juga bagaimana membangun ruang yang nyaman, hijau, dan berkelanjutan,” pungkas Rahman.
Jika direncanakan dengan matang, kawasan simpang susun Tol Prosiwangi bukan hanya menjadi simpul transportasi, tetapi juga etalase wajah baru pembangunan ramah lingkungan di wilayah Tapal Kuda Jawa Timur. (*)
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Proyek Jalan Tol Probolinggo–Situbondo-Banyuwangi (Prosiwangi) terus dikebut.
Di wilayah barat Kabupaten Situbondo, pembangunan fisik jalan tol sudah mulai tampak signifikan. Bahkan hampir rampung.
Namun, jika dicermati lebih jauh, satu aspek penting justru belum terlihat, yakni perencanaan penghijauan di kawasan simpang susun atau exit tol.
Pantauan di sejumlah titik simpang susun di Kabupaten Probolinggo, mulai Exit Gending, Exit Kraksaan, hingga Exit Paiton, menunjukkan bahwa seluruh area masih berfokus pada pekerjaan struktur jalan, badan tol, serta kelengkapan fasilitas pendukung lainnya. Elemen vegetasi nyaris belum tersentuh.
Kondisi serupa juga terlihat di Exit Besuki, Kabupaten Situbondo. Hingga saat ini, kawasan simpang susun tersebut masih tampak gersang, minim pepohonan, serta belum memiliki sentuhan estetika maupun fungsi ekologis yang memadai.
Padahal, keberadaan tanaman penghijauan di sekitar simpang susun jalan tol memiliki peran yang sangat vital.
Tidak hanya mempercantik lanskap, tanaman hijau juga berfungsi sebagai penyerap polusi udara, peredam kebisingan, hingga penambah kenyamanan bagi pengguna jalan.
“Simpang susun itu wajah sebuah wilayah. Kalau dibiarkan gersang, kesan pertama yang muncul justru kering dan panas,” ujar Rahman BS, warga Banyuwangi yang pernah lama tinggal di Situbondo.
Menurut Rahman, keberadaan pohon dan tanaman hijau di kawasan exit tol tidak semata persoalan estetika.
Lebih dari itu, penghijauan harus menjadi bagian dari konsep infrastruktur hijau yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
“Ini harus dipikirkan mulai dari sekarang. Kalau terlambat, kita kehilangan momentum menjadikan jalan tol ini sebagai contoh infrastruktur hijau,” tegasnya.
Hingga kini, pihak pengelola Tol Prosiwangi maupun instansi terkait belum mengumumkan secara resmi jenis tanaman apa yang akan digunakan untuk penghijauan di kawasan simpang susun.
Padahal, setiap wilayah memiliki karakteristik lingkungan yang berbeda dan membutuhkan pendekatan khusus.
Rahman menilai, idealnya setiap exit tol disesuaikan dengan kondisi geografis dan sosial wilayah masing-masing, terutama di kawasan Tapal Kuda Jawa Timur yang memiliki karakter pesisir, agraris, hingga permukiman padat.








