Berita Terkini Seputar Banyuwangi

Redam Harga, Mutu Kedelai Dibakukan

BANYUWANGI – Demi meredam gejolak harga kedelai, Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan (Dispertahutbun) dan Perum Bulog melakukan program stabilitas harga kedelai. Disperta dan Perum Bulog melakukan road show ke sejumlah kelompok tani untuk menstabilkan harga kedelai.

Kepala Dispertahutbun Banyuwangi, Ikrori Hudanto mengatakan, dalam program stabilisasi harga kedelai, pihaknya bersama Bulog menyampaikan harga resmi kedelai yang ditetapkan pemerintah. Harga resmi kedelai yang ditetapkan berdasar Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor: 25/M-DAG/ PER/6/2013 telah ditetapkan harga pembelian kedelai petani sebesar Rp 7.000 per kilogram.

Dalam Peraturan Menteri Perdagangan RI itu juga diatur secara detail harga penjualan kedelai di tingkat perajin tahu/tempe sebesar Rp 7.450 per Kg. Pembelian kedelai dari kelompok tani atau gabungan kelompok tani, utamanya pada panen raya kedelai, harus memenuhi standar mutu kedelai konsumsi sesuai SNI 01-3922-1995. Standar SNI itu, ungkap Ikrori, harus memenuhi beberapa hal.

Kadar air paling banyak 14 persen, butir belah paling banyak tiga persen, dan kotoran maksimal dua persen. Selain mengatur harga kedelai, permendag itu juga mengatur standar mutu produksi kedelai. “Sayang, peraturan menteri perdagangan itu hanya berlaku sampai September 2013. Mestinya permendag itu berlaku selama satu tahun demi stabilisasi harga kedelai,” katanya.

Ikrori mengungkapkan, Banyuwangi merupakan penghasil kedelai terbesar di Jatim. Pada tahun 2010 produksi kedelai Banyuwangi mencapai 64.857 ton dan pada tahun 2011 66.094 ton. Pada tahun 2012 produksinya turun menjadi hanya 53.648 ton. “Selama tiga tahun terakhir provitas kedelai terus meningkat hingga mencapai 19,68 kuintal per hektare. Angka itu merupakan provitas tertinggi di Jatim,” jelas Ikrori.

Ikrori mengungkapkan, salah satu penyebab turunnya produksi kedelai adalah terjadinya penurunan areal tanam kedelai. Menurunnya luas lahan pertanian kedelai itu dipicu harga kedelai yang tidak berpihak kepada petani. Karena harga kedelai anjlok, petani beralih ke tanam jagung atau jeruk yang jauh lebih menguntungkan. (radar)

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE