sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Satuan Polisi Air dan Udara (Satpolairud) Polresta Banyuwangi meningkatkan pengawasan terhadap proses pengangkatan bangkai KMP Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di perairan Selat Bali pada awal Juli 2025.
Pengawasan intensif ini dilakukan untuk memastikan seluruh tahapan evakuasi berjalan aman, tertib, serta tidak membahayakan keselamatan pelayaran maupun infrastruktur vital di perairan tersebut.
Kemarin (30/1), sejumlah personel Satpolairud Polresta Banyuwangi yang dipimpin langsung Kasatpolairud Kompol Wahyudi melaksanakan patroli laut menggunakan kapal Rigid Buoyancy Boat (RBB).
Patroli difokuskan di wilayah Selat Bali, khususnya pada jalur penyeberangan padat Ketapang–Gilimanuk, yang menjadi salah satu urat nadi transportasi laut nasional.
Pengawasan diawali dengan patroli rutin di sepanjang jalur penyeberangan Ketapang–Bali.
Dalam patroli tersebut, petugas memberikan imbauan kepada pengguna jasa laut terkait kondisi cuaca perairan serta mengingatkan pentingnya memperhatikan aspek keselamatan berlayar.
Setelah itu, patroli dilanjutkan dengan pemantauan wilayah perairan sekitar lokasi tenggelamnya kapal hingga pengecekan area lego jangkar.
Dalam rangkaian patroli itu, Satpolairud juga melakukan pemeriksaan di sekitar kapal Pioneer 88 berkapasitas GT 2.256.
Kapal crane tersebut saat ini lego jangkar di Selat Bali dan disiapkan sebagai sarana pendukung utama dalam proses pengangkatan bangkai KMP Tunu Pratama Jaya.
Selain memantau kapal pendukung, petugas juga melakukan pengawasan ketat pada titik koordinat buih yang telah ditetapkan sebagai area terbatas.
Zona ini diberlakukan untuk mencegah kapal lain melintas di wilayah operasi pengangkatan bangkai kapal, sekaligus meminimalkan potensi gangguan terhadap proses evakuasi.
“Sebagai pengawas utama seluruh kegiatan di perairan Selat Bali, kami melakukan operasi kelautan berskala besar. Pengawasan dilakukan bersama stakeholder terkait guna memastikan seluruh tahapan persiapan pengangkatan kapal berjalan sesuai prosedur keselamatan pelayaran,” ujar Kompol Wahyudi.
Ia menjelaskan, langkah evakuasi bangkai kapal ini sangat penting sebagai upaya pencegahan terhadap kemungkinan pergeseran posisi kapal yang tenggelam.
Pergeseran bangkai kapal dikhawatirkan dapat mendekati jalur kabel bawah laut, yang merupakan infrastruktur vital penunjang sistem kelistrikan dan komunikasi antarpulau.
Page 2
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Satuan Polisi Air dan Udara (Satpolairud) Polresta Banyuwangi meningkatkan pengawasan terhadap proses pengangkatan bangkai KMP Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di perairan Selat Bali pada awal Juli 2025.
Pengawasan intensif ini dilakukan untuk memastikan seluruh tahapan evakuasi berjalan aman, tertib, serta tidak membahayakan keselamatan pelayaran maupun infrastruktur vital di perairan tersebut.
Kemarin (30/1), sejumlah personel Satpolairud Polresta Banyuwangi yang dipimpin langsung Kasatpolairud Kompol Wahyudi melaksanakan patroli laut menggunakan kapal Rigid Buoyancy Boat (RBB).
Patroli difokuskan di wilayah Selat Bali, khususnya pada jalur penyeberangan padat Ketapang–Gilimanuk, yang menjadi salah satu urat nadi transportasi laut nasional.
Pengawasan diawali dengan patroli rutin di sepanjang jalur penyeberangan Ketapang–Bali.
Dalam patroli tersebut, petugas memberikan imbauan kepada pengguna jasa laut terkait kondisi cuaca perairan serta mengingatkan pentingnya memperhatikan aspek keselamatan berlayar.
Setelah itu, patroli dilanjutkan dengan pemantauan wilayah perairan sekitar lokasi tenggelamnya kapal hingga pengecekan area lego jangkar.
Dalam rangkaian patroli itu, Satpolairud juga melakukan pemeriksaan di sekitar kapal Pioneer 88 berkapasitas GT 2.256.
Kapal crane tersebut saat ini lego jangkar di Selat Bali dan disiapkan sebagai sarana pendukung utama dalam proses pengangkatan bangkai KMP Tunu Pratama Jaya.
Selain memantau kapal pendukung, petugas juga melakukan pengawasan ketat pada titik koordinat buih yang telah ditetapkan sebagai area terbatas.
Zona ini diberlakukan untuk mencegah kapal lain melintas di wilayah operasi pengangkatan bangkai kapal, sekaligus meminimalkan potensi gangguan terhadap proses evakuasi.
“Sebagai pengawas utama seluruh kegiatan di perairan Selat Bali, kami melakukan operasi kelautan berskala besar. Pengawasan dilakukan bersama stakeholder terkait guna memastikan seluruh tahapan persiapan pengangkatan kapal berjalan sesuai prosedur keselamatan pelayaran,” ujar Kompol Wahyudi.
Ia menjelaskan, langkah evakuasi bangkai kapal ini sangat penting sebagai upaya pencegahan terhadap kemungkinan pergeseran posisi kapal yang tenggelam.
Pergeseran bangkai kapal dikhawatirkan dapat mendekati jalur kabel bawah laut, yang merupakan infrastruktur vital penunjang sistem kelistrikan dan komunikasi antarpulau.








