sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Rencana pembangunan jalan tol pendukung akses menuju Bandara Internasional Yogyakarta atau Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kabupaten Kulonprogo mulai memasuki tahap studi kelayakan (feasibility study).
Kajian tersebut dilakukan Direktorat Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sebagai langkah awal sebelum proyek masuk tahap perencanaan teknis dan penetapan trase.
Proyek ini menjadi bagian penting dari penguatan konektivitas menuju bandara yang berlokasi di wilayah pesisir selatan DIY.
Sejak beroperasi penuh, bandara tersebut menjadi pintu gerbang utama transportasi udara di Yogyakarta dan sekitarnya.
Akses Bandara Kulonprogo Diproyeksikan Lebih Cepat
Dilansir dari laman dishub.jogjaprov.go.id, kehadiran tol pendukung bandara diharapkan memangkas waktu tempuh dari pusat Kota Yogyakarta menuju NYIA.
Selama ini, akses utama masih mengandalkan jalur nasional dan jalur lintas selatan yang kerap mengalami kepadatan saat musim liburan dan akhir pekan.
Direktorat Bina Marga Kementerian PUPR melakukan studi kelayakan untuk memastikan aspek teknis, lingkungan, serta keekonomian proyek terpenuhi.
Kajian ini juga mencakup analisis lalu lintas, proyeksi pertumbuhan kendaraan, hingga potensi dampak sosial terhadap masyarakat terdampak trase.
Jika hasil studi dinyatakan layak, proyek akan masuk tahap penetapan lokasi dan pengadaan lahan sebelum konstruksi dimulai.
Tol Bawen–Yogya dan Solo–Yogya Ikut Dipersiapkan
Selain tol pendukung bandara, pemerintah pusat juga menggulirkan rencana pembangunan ruas Jalan Tol Bawen–Yogyakarta dan Jalan Tol Solo–Yogyakarta.
Kedua ruas tersebut diproyeksikan memperkuat konektivitas DIY dengan Jawa Tengah.
Ruas Bawen–Yogyakarta akan menghubungkan wilayah Semarang dan sekitarnya langsung ke DIY, sementara Solo–Yogyakarta mempercepat akses dari arah timur, termasuk kawasan Solo Raya.
Sumber: dishub.jogjaprov.go.id
Page 2
Page 3
Namun, Pemerintah Daerah DIY mengajukan satu syarat khusus apabila pembangunan tol Yogyakarta–Solo direalisasikan.
Pemda meminta agar proyek tersebut tetap memperhatikan aspek tata ruang, kelestarian lingkungan, serta tidak merusak kawasan pertanian produktif dan cagar budaya.
Lima Alternatif Exit Tol Solo–Yogyakarta
Pemerintah Provinsi DIY juga telah menyiapkan lima alternatif pintu keluar (exit tol) untuk ruas Solo–Yogyakarta.
Alternatif ini disusun guna meminimalkan dampak kepadatan lalu lintas di dalam kota serta memastikan distribusi kendaraan tidak menumpuk di satu titik.
Penentuan exit tol menjadi krusial karena akan memengaruhi pola pergerakan kendaraan, pengembangan kawasan ekonomi baru, serta potensi pertumbuhan pusat bisnis dan permukiman di sekitarnya.
Sejumlah opsi exit tol mempertimbangkan akses menuju kawasan pendidikan, pusat pemerintahan, hingga jalur wisata.
Kajian mendalam akan dilakukan bersama pemerintah pusat sebelum ditetapkan secara final.
Terintegrasi dengan Kawasan Candi Borobudur
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menjelaskan bahwa pembangunan tol Yogyakarta–Solo dan Yogyakarta–Bawen nantinya dirancang terintegrasi dengan kawasan Candi Borobudur.
Integrasi tersebut bertujuan mendukung pengembangan kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN) Borobudur.
Dengan konektivitas tol yang memadai, wisatawan dari berbagai daerah dapat menjangkau destinasi unggulan tersebut dengan waktu tempuh lebih singkat.
“Tol ini nantinya bukan sekadar jalur transportasi, tetapi juga bagian dari pengembangan kawasan wisata dan ekonomi,” ujar Sultan dalam sejumlah kesempatan.
Dorong Pertumbuhan Ekonomi dan Pariwisata
Rangkaian proyek tol di DIY dan sekitarnya diproyeksikan memberikan efek berganda (multiplier effect) terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Sumber: dishub.jogjaprov.go.id







