Bangunan Mirip Pagoda, Berkat Iuran Anak Muda

0
721
Wijianto dan beberapa temannya berada di teras musala Mukasyafah yang mirip pagoda di Dusun Krajan, Dasa Baqorejo, kemarin (16/6).

BANGUNAN cukup mentereng berdiri di pinggir sungai, tepatnya di Dusun Krajan, Bagorejo, Srono. Secara sepintas, orang yang melintas di jalan raya depan bangunan itu tak akan mengira jika itu musala pada umunya. Sebab, bangunan dan warnanya berbeda dengan musala pada umumnya.

Musala Mukasyafah, itu nama musala yang didirikan oleh sekelompok anak muda yang ada di dusun itu. Menurut Wijianto, 35, salah seorang pemuda setempat, musala dengan bentuk pagoda dan dicat merah itu dibangun pada tahun 2010.

“Awalnya musala ini sangat kecil. Kemudian anak-anak muda di sini kumpul dan membahas pembangunan musala, karena kami ingin punya musala yang bisa dibuat untuk tempat mengaji,” kata Wijianto.

Loading...

Musala yang kini menjadi tempat berkumpul dan mengaji anak-anak muda itu, dibangun dengan proses yang cukup panjang. Sebelum pembangunan dilakukan, mereka berkomunikasi dengan anak-anak muda yang sudah sukses. “Sekarang ini menjadi tempat anak-anak muda mengaji,” terangnya.

Saat ini ada sekitar 20 anak muda yang usianya antara 17 sampai 30 tahun mengaji di musala mukasyafah itu. Yang mengaji itu, anak-anak jumlahnya malah sedikit. “Yang menjadi guru mengaji pak Joko Triyono,” terangnya.

Saat akan membangun musala di tahun 2010, para pemuda yang ada di dusun itu berhasil menjalin komunikasi dengan sejumlah anak muda yang bekerja di luar daerah dan sukses. Bahkan, ada tenaga kerja Indonesia (TKI) yang ikut membantu dalam pembangunannya.

“Ini murni iuran anak-anak muda dusun, anak muda yang kerja di Taiwan, Malaysia, dan negara lain banyak yang ikut membantu,” jelasnya. Setelah dana pembangunan musala terkumpul cukup banyak para pemuda mengadakan musyawarah untuk mencari bentuk bangunan musala yang diinginkan.

“Akhirnya disepakati membangun musala dengan bentuk yang unik. Maka bangunan yang mirip pagoda,” ungkapnya. Meski bangunan mirip pagoda, tapi untuk ruangan di dalam tetap lebar seperti musala pada umumnya. Sedangkan semua bangunan di luar sampai ke menara, itu dibentuk layaknya pagoda.

“Jadi ini perpaduan masala dengan pagoda,” cetusnya. Musala yang dibangun cukup lama, itu kemudian menjadi tempat anak-anak muda bersantai. Selain beraktivitas mengaji, mereka juga kerap bicarakan tentang pembangunan di desanya.

“Mengaii tetap dilakukan meski ada yang sudah menikah. Kami senang kumpul di sini karena tidak mungkin akan nakal seperti tongkrongan yang sering dilakukan anak muda di tempat lain,” terangnya.

Selama Ramadan ini, Wijianto menyebut sejumlah anak muda di dusunnya juga melaksanakan tarawih dan tadarus di musala Mukasyafah itu. “Diberi nama Mukasyafah itu agar orang yang berada di sini bisa memisahkan sifat-sifat buruk dan tercela demi keselamatan jiwa,” katanya. (radar)

loading...