Bikin Peralatan Sendiri, Kembangkan Jaranan untuk Dakwah

0
328

Supiyan-menyelesaikan-pembuatan-borong-di-rumahnya-Dusun-Truko,-Desa-Karangsari,-Kecamatan-Sempu,-kemarin

USIANYA sudah lebih setengah abad, kulitnya mulai keriput, dan rambutnya banyak yang beruban. Lelaki tua adalah Supiyan, 60. Kakek empat cucu yang tinggal di Dusun Truko, Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, itu sudah lebih dari  20 tahun menekuni kerajinan pembuatan  perlengkapan jaranan, seperti kuda lumping  dari anyaman bambu, cakilan untuk jaranan buto, kepala barong, dan sejumlah peralatan kesenian jaranan lain.

Keahlian membuat perlengkapan kesenian jaranan itu bukan kebetulan. Bakat seni mengalir dalam darahnya dari ayah kandungnya almarhum Sumarto yang dulu dikenal seniman tari di Kabupaten Banyuwangi.

Di tengah kesibukannya sebagai buruh tani, suami Muslimah, 52, itu masih menyempatkan diri membuat kerajinan untuk kesenian jaranan di rumahnya. Kegiatan itu dilakukan bersama anak, cucu, dan keponakannya.

“Daripada menganggur di rumah, nyambi buat kerajinan sambil mengajari anak-anak agar terampil,” ujarnya. Supiyan memiliki satu set perangkat jaranan campursari mulai kuda lumping, cakilan, barong sumur, singo wulung, kebo marcuet, beserta kostum lengkap dengan perangkat gamelan, seperti saron, kendang, kempul,   gong, biola, terompet, dan kecrek.

Bukan hanya itu, dia juga mempunyai 16 penari dan 16 penabuh gamelan atau wiyogo. Meski telah menjadi juragan dalam kesenian jaranan, Supiyan tidak jemawa. Dia masih menerima pembuatan kerajinan kuda lumping dan barong khas Banyuwangi.

Loading...

“Pemesannya masih ada, tapi tidak seramai dulu,” katanya. Di salah satu ruangan dalam rumahnya yang berukuran tiga meter kali delapan meter, Supiyan bersama anak, cucu, dan keponakannya mengerjakan pembuatan barong celengan.

Barongan hasil kreasi yang dibuat, itu untuk melengkapi pertunjukan kesenian jaranan miliknya. Barongan celengan dibuat tak ubahnya barong Banyuwangi. Bagian kepala menyerupai binatang babi hutan. Pada bagian tubuhnya menyerupai barong Bali dengan dua punuk dan ekor di bagian belakang.

Barong celengan akan dimainkan oleh dua orang pemain, yakni di depan dengan memegang kepala celengan dan  belakang. Perbedaannya, pada bagian punggung barong dibuat mahkota burung Garuda menyerupai barong Banyuwangi.  “Ini kreasi saya yang terbaru, dan masih  proses setengah jadi,” jelasnya.

Barongan celengan itu dibuatnya sekitar dua minggu lalu. Ide pembuatan barong celengan dari atraksi pertunjukan barong-barongan yang sudah ada. Sebelumnya, dia juga pernah membuat barong kebo marcuet, yakni barong berkepala kerbau.

Pertunjukan kesenian jaranan memang tidak lepas dari unsur klenik dan seram. Tapi sejatinya, pembuatan berbagai barongan itu hanya untuk hiburan semata. Bahkan, agar penonton jaranan tidak bosan, diselipkan kesenian campursari.

“Kalau tidak di kolaborasi, penonton cepat bosan dan enggan menyaksikan kesenian daerah,” ujarnya. Dalam pembuatan barong celengan, Supiyan menggunakan bahan yang mudah dicari dan tersedia di pasar, seperti potongan bambu, karpet, kain, serta manik-manik.

Untuk pembuatan satu barong menghabiskan biaya lumayan. Mulai  dari rangka hingga jadi, menghabiskan biaya sekitar Rp 7 juta, itu  pun masih belum termasuk ongkos  untuk biaya pembuatan. “Butuh kesabaran, ketelitian, dan ketelatenan,”  terangnya.

Meski sudah 20 tahun lebih berkecimpung di dunia seni jaranan, kakek empat cucu itu tidak pernah mengalami peristiwa aneh yang berbau mistik. Baginya, peralatan kesenian jaranan itu sarana dakwah yang memiliki pesan tersirat.

Itu seperti yang telah dilakukan Wali Songo dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa.  Sebagai pekerja seni, Supiyan akan terus berbuat dan mewariskan kesenian leluhurnya itu kepada generasi penerus, terutama dalam  keluarganya. Makanya, setiap pertunjukan  dan pembuatan perlengkapan  jaranan selalu melibatkan keluarga. “Saya harap keluarga ada yang mewarisi,” harapnya. (radar)

loading...


Kata kunci yang digunakan :