PG Glenmore Resmi Beroperasi

3
158

Rombongan-Menteri-BUMN-Rini-Mariani-Soemarno-melihat-proses-giling-perdana-di-Pabrik-Gula-Glenmore-kemarin.

Disaksikan Langsung Menteri BUMN

GLENMORE – Pabrik Gula Glenmore (PGG) resmi beroperasi mulai kemarin (2/8). Peresmian itu ditandai dengan giling perdana yang disaksikan langsung Menteri BUMN, Rini Mariani Soemarno. Sebelum meresmikan PGG yang berlokasi di Kebun Kalirejo, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Menteri Rini Mariani Suwarno yang didampingi jajaran PTPN XII dan PTPN XI itu sempat keliling di lokasi pabrik.

“Saya bangga pabrik gula ini selesai,” katanya. Kepada wartawan, Menteri Rini berharap pabrik itu bisa memenuhi target yang diharapkan dan bisa menghasilkan rendemen yang tinggi. “Saya berharap kualitas gula baik dan rendemennya bisa mencapai yang diinginkan,” ucapnya.

Menteri Rini juga minta bahan baku tebu dari kebun sekitar pabrik harus ditingkatkan, termasuk dengan pemilihan bibit tebu unggul. “Tanaman tebunya kira-kira 90 ton per hektare, ke depan bisa 150 hingga 160 ton per hektare,” harapnya.

Harapan Menteri Rini itu karena pihak pabrik dan perkebunan, dalam hal ini PTPN XII, telah berkomitmen meningkatkan bahan baku tebu dan kualitas gula. “Kan sudah berjanji akan menggunakan bibit baru,” ungkapnya.

Pabrik Gula Glenmore ini merupakan pabrik terbaru yang di bangun BUMN. Menurutnya,  pembangunan pabrik gula terakhir kali dilakukan BUMN pada tahun 1982 dan penggilingan perdana pabrik itu dilakukan pada tahun 1985.

“Sebuah kebanggaan, setelah 31 tahun, hari ini dilakukan giling perdana di pabrik gula modern yang semua dikerjakan dari nol oleh putra-putri Indonesia,” ungkapnya. Oleh karena itu, dia berharap pabrik gula milik BUMN lain bisa melakukan berbagai inovasi agar  kinerjanya bisa meningkat.

“Saya harapkan, ke depan pabrik-pabrik gula milik PTPN itu biar tidak baru tapi bisa melakukan revitalisasi,” pintanya. Direktur Utama PTPN XII, Irwan Basri, dalam sambutannya mengatakan, pabrik gula Glenmore itu menggunakan mesin yang mampu  meningkatkan efisiensi hingga 80 persen. Di samping itu, rendemen  yang dihasilkan bisa cukup tinggi hingga mencapai delapan persen.

“Kami yakin rendemen atau kadar gula dalam tebu bisa mencapai 8,5 hingga 9 persen. Tentu produksi gula akan maksimal,” katanya. Sementara itu, Direktur Utama PGG, Ade Prasetyo, mengungkapkan giling perdana yang dilakukan  itu untuk mengetahui  sejauh mana pabrik bisa beroperasi setelah pemasangan selesai.

“Kita giling perdana, lihat apanya yang kurang. Ini giling perdana sambil evaluasi,” ucapnya. Pada giling perdana itu, jelas dia, rencananya tebu yang akan digiling untuk tahap pertama itu mencapai 800 ton. Karena melihat kesiapan mesin dan  komponen pabrik, jumlah yang digiling dikurangi cukup banyak.

“Kita giling 180 ton,” imbuhnya.  Menurut Ade, persoalan mesin itu hal biasa pada pembangunan pabrik baru. Saat ini tahap yang dilalui pabrik adalah commissioning atau pengujian operasional suatu  pekerjaan secara nyata dan secara simulasi. Itu untuk memastikan bahwa pengerjaan telah dilaksanakan dan memenuhi semua  peraturan yang berlaku. Sehingga, bisa diketahui kekurangan mesin  tersebut.

“Ini mesin baru, mereka mengajukan commissioning,” ucapnya. Seperti diketahui, nilai investasi PGG mencapai Rp 1,5 triliun. Pabrik gula yang disebut-sebut terbesar di Indonesia itu  dirancang berkapasitas giling  6.000 ton tebu per hari (TTH) dan dapat dikembangkan menjadi 9.000 TTH.

Areal yang dicadangkan untuk penanaman tebu guna memenuhi kebutuhan bahan baku PGG seluas 11.250 hektare. Pabrik tersebut merupakan PG terpadu yang akan memproduksi gula putih premium. PGG dirancang sebagai pabrik modern.

Limbah yang dihasilkan akan dikelola menjadi produk sampingan yang bermanfaat. PGG didirikan bersama PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) XII dan PTPN  XI. (radar)

Loading...