sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Bencana longsor yang melanda Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada Sabtu dini hari (24/1) menimbulkan dampak besar.
Hingga Sabtu siang, tercatat sebanyak 82 warga dilaporkan hilang tertimbun material longsor.
Selain mengerahkan Tim SAR Gabungan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga melakukan langkah antisipatif melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna menekan potensi bencana susulan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menjelaskan bahwa intensitas bencana hidrometeorologi basah di wilayah Jawa Barat dalam beberapa pekan terakhir mengalami peningkatan signifikan.
Kondisi tersebut mendorong BNPB untuk mengoptimalkan berbagai upaya mitigasi, termasuk rekayasa cuaca.
“Belakangan ini bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan longsor cukup dominan terjadi di Jawa Barat. Karena itu, BNPB melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca sebagai upaya pengurangan risiko,” ujar Abdul Muhari, Sabtu (24/1).
OMC Sudah Berjalan Sejak Awal Januari
Menurut Abdul Muhari, Operasi Modifikasi Cuaca di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya sejatinya telah dilaksanakan sejak 12 Januari 2026.
Operasi tersebut juga mencakup wilayah DKI Jakarta sebagai kawasan penyangga dengan tingkat kerawanan banjir yang tinggi.
Dalam pelaksanaannya, BNPB mengerahkan dua unit pesawat, yakni PK-JVH dan CASA 212 A-2105, yang beroperasi dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Pesawat tersebut digunakan untuk menyemai bahan higroskopis guna mengendalikan intensitas hujan di wilayah sasaran.
“Pesawat PK-JVH telah melaksanakan 32 sortie penerbangan di wilayah Jawa Barat dengan total bahan semai sebanyak 32 kilogram selama periode 13 hingga 22 Januari 2026,” jelasnya.
Sementara itu, pesawat CASA 212 A-2105 menjalankan 19 sortie penerbangan di wilayah Jakarta dengan total bahan semai mencapai 12.400 kilogram pada periode 16 hingga 22 Januari 2026.
Tambah Armada, Siap Diperluas ke Banten
Untuk mengoptimalkan pengendalian curah hujan, BNPB sejak 23 Januari 2026 menambah kekuatan armada OMC dengan mengerahkan dua unit pesawat Caravan.
Penambahan ini dilakukan menyusul prediksi cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi di wilayah Jawa bagian barat.
Page 2
“Apabila potensi cuaca ekstrem meningkat, Operasi Modifikasi Cuaca juga dapat diperluas ke wilayah Provinsi Banten,” terang Abdul Muhari.
Langkah tersebut diharapkan mampu menurunkan intensitas hujan di wilayah rawan, sehingga proses pencarian korban dan evakuasi dapat berlangsung lebih aman serta meminimalkan risiko longsor susulan.
Data Korban Terus Berkembang
Sementara itu, Basarnas menyampaikan bahwa berdasarkan asesmen terakhir hingga pukul 12.30 WIB, jumlah warga terdampak longsor di Bandung Barat mencapai 113 orang dari 34 kepala keluarga.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 23 orang dinyatakan selamat, delapan orang ditemukan meninggal dunia, dan 82 orang lainnya masih dalam pencarian.
Proses pencarian korban hilang terus dilakukan oleh Tim SAR Gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, relawan, serta masyarakat setempat.
Medan yang berat dan kondisi tanah yang masih labil menjadi tantangan utama dalam operasi pencarian.
Imbauan Kewaspadaan bagi Warga
BNPB mengimbau masyarakat yang bermukim di wilayah rawan banjir dan longsor agar tetap meningkatkan kewaspadaan.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi mengguyur sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat dan Jakarta.
“Kewaspadaan terutama diperlukan saat hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang lama. Masyarakat diimbau segera melakukan evakuasi mandiri apabila kondisi dinilai tidak aman,” tegas Abdul Muhari.
BNPB menegaskan bahwa keselamatan warga menjadi prioritas utama, sembari memastikan seluruh sumber daya dikerahkan untuk penanganan darurat dan upaya pencegahan bencana lanjutan. (*)
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Bencana longsor yang melanda Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada Sabtu dini hari (24/1) menimbulkan dampak besar.
Hingga Sabtu siang, tercatat sebanyak 82 warga dilaporkan hilang tertimbun material longsor.
Selain mengerahkan Tim SAR Gabungan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga melakukan langkah antisipatif melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna menekan potensi bencana susulan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menjelaskan bahwa intensitas bencana hidrometeorologi basah di wilayah Jawa Barat dalam beberapa pekan terakhir mengalami peningkatan signifikan.
Kondisi tersebut mendorong BNPB untuk mengoptimalkan berbagai upaya mitigasi, termasuk rekayasa cuaca.
“Belakangan ini bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan longsor cukup dominan terjadi di Jawa Barat. Karena itu, BNPB melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca sebagai upaya pengurangan risiko,” ujar Abdul Muhari, Sabtu (24/1).
OMC Sudah Berjalan Sejak Awal Januari
Menurut Abdul Muhari, Operasi Modifikasi Cuaca di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya sejatinya telah dilaksanakan sejak 12 Januari 2026.
Operasi tersebut juga mencakup wilayah DKI Jakarta sebagai kawasan penyangga dengan tingkat kerawanan banjir yang tinggi.
Dalam pelaksanaannya, BNPB mengerahkan dua unit pesawat, yakni PK-JVH dan CASA 212 A-2105, yang beroperasi dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Pesawat tersebut digunakan untuk menyemai bahan higroskopis guna mengendalikan intensitas hujan di wilayah sasaran.
“Pesawat PK-JVH telah melaksanakan 32 sortie penerbangan di wilayah Jawa Barat dengan total bahan semai sebanyak 32 kilogram selama periode 13 hingga 22 Januari 2026,” jelasnya.
Sementara itu, pesawat CASA 212 A-2105 menjalankan 19 sortie penerbangan di wilayah Jakarta dengan total bahan semai mencapai 12.400 kilogram pada periode 16 hingga 22 Januari 2026.
Tambah Armada, Siap Diperluas ke Banten
Untuk mengoptimalkan pengendalian curah hujan, BNPB sejak 23 Januari 2026 menambah kekuatan armada OMC dengan mengerahkan dua unit pesawat Caravan.
Penambahan ini dilakukan menyusul prediksi cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi di wilayah Jawa bagian barat.







