Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Banyuwangi Gelar Festival Kita Bisa 2023 di Hari Disabilitas Internasional

banyuwangi-gelar-festival-kita-bisa-2023-di-hari-disabilitas-internasional
Banyuwangi Gelar Festival Kita Bisa 2023 di Hari Disabilitas Internasional
Daftarkan email Anda untuk Berlangganan berita dikirim langsung ke mailbox Anda
Banyuwangi

Puluhan anak-anak penyandang disabilitas di Kabupaten Banyuwangi mendapat apresiasi ruang kreasi melalui Festival Kita Bisa, yang digelar di Sekolah Dasar Negeri (SD) Model Banyuwangi.

Festival tersebut dimeriahkan dengan tari gandrung yang dimainkan anak-anak penyandang disabilitas. Mereka menari dengan lihai dan gemulai mengundang decak kagum undangan yang hadir dan serentak bertepuk tangan tanda apresiasi.

Karya kerajinan puluhan anak inklusi dipamerkan. Ada berbagai produk seperti kain batik, anyaman dari limbah plastik, aneka kerupuk, snack, hingga robot pendeteksi sampah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani tampak mengunjungi seluruh stan pameran dan memberikan semangat kepada seluruh anak difabel agar terus berkarya. Dalam kesempatan tersebut, Pemkab Banyuwangi juga meluncurkan platform data peserta didik berkebutuhan khusus.

Festival Kita Bisa yang digelar pada Sabtu (2/12/2023) dimeriahkan siswa-siswi penyandang disabilitas tingkat SD dan SMP se-Banyuwangi. Mereka adalah para peserta dan pemenang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) serta Olimpiade Olahraga Siswa Nasional untuk kategori disabilitas.

Di antara puluhan anak tersebut ada yang memiliki kemampuan di bidang coding. Sementara M. Qiandra Valeri, penyandang cerebral palsy dari kelas 1 SDN 1 pakis menjadi salah satu pemenang lomba baca puisi pada rangkaian Festival Kita Bisa.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menjelaskan sejak 2013 Banyuwangi telah mewujudkan sekolah inklusi yang ramah bagi para penyandang disabilitas. Hingga hari ini, semua sekolah negeri dari tingkat PAUD sampai SMA sederajat telah berstatus inklusi.

“Tidak hanya dalam bidang pendidikan saja, kami juga terus mengupayakan memenuhi hak-hak disabilitas. Seperti dalam pelayanan umum, terpenuhinya fasilitas disabilitas di tempat-tempat publik, hingga terbukanya peluang di dunia kerja. Bertahap terus kami perbaiki layanan dan fasilitas ramah disabilitas,” terang Ipuk.

Dalam kesempatan itu, Bupati Ipuk juga meluncurkan inovasi Si-Denakwangi, yang merupakan Aplikasi Identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus Kabupaten Banyuwangi. Aplikasi ini untuk mendeteksi jenis ketunaan peserta didik berkebutuhan khusus.

Aplikasi berisikan berbagai fitur, yang di dalamnya memuat berbagai kriteria skrining untuk ABK. Dari skrining tersebut, akan keluar asesmen terhadap ABK yang bersangkutan. Laporan ini menjadi bahan bagi guru pendamping khusus untuk membuat program pembelajaran individual (PPI) sesuai kondisi.

“Dengan demikian, layanan dan pembelajaran yang diterapkan para GPK betul-betul tepat sesuai kondisi anak didik berkebutuhan khusus-nya. Harapannya ini bisa memaksimalkan prestasi mereka,” kata Ipuk.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi Suratno menambahkan, di Banyuwangi saat ini terdapat 181 sekolah penyelenggara pendidikan inklusi, mulai dari tingkat PAUD, SD, SMP, hingga SMA/sederajat.

Sekolah-sekolah ini didampingi 11 Sekolah Luar Biasa (SLB) yang bertindak sebagai konsultan. Adapun jumlah guru pendamping khusus (GPK) sebanyak 250 orang.

“Secara berkala para GPK ini kami berikan bimtek untuk meningkatkan kapasitasnya. Sehingga mereka bisa menjalankan tugasnya dengan baik dalam menjembatani kesulitan belajar ABK di sekolah inklusi,” ungkap Suratno.

Salah satu sekolah di Banyuwangi, yakni SMPN 3 Banyuwangi telah memenangi Top 45 Pelayanan Publik Terbaik Nasional atas inovasi Lebur Seketi (Layanan Inklusif Peserta Didik Berkebutuhan Khusus dengan Pendekatan Hati). Sebuah program layanan bagi peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) untuk tetap bisa belajar di sekolah reguler dengan kurikulum yang telah disesuaikan.

Para pendidiknya juga melakukan jemput bola mendatangi rumah calon PDBK untuk melakukan registrasi. Bahkan setelah lulus, sekolah akan mendampingi dan mengantarkan mereka untuk mendaftar ke jenjang berikutnya.

“Ini menjadi role model bagi sekolah lain di Banyuwangi,” pungkasnya.

Simak Video “Keindahan Alam Tabuhan, Pulau Pemisah Jawa dan Bali, Banyuwangi [Gambas:Video 20detik] (irb/sun)