sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Nama Dwi Sasetyaningtyas atau yang akrab disapa Tyas kembali menjadi sorotan publik.
Alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) tersebut ramai diperbincangkan setelah unggahan videonya di media sosial memicu polemik di tengah masyarakat.
Video yang diunggah Tyas menampilkan dokumen resmi dari otoritas Inggris terkait status kewarganegaraan anak keduanya.
Dalam video tersebut, ia menyampaikan pernyataan yang kemudian viral dan menuai reaksi luas dari warganet.
“I know the world seems unfair. Tapi cukup aku saja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu,” ujar Tyas dalam video yang beredar di media sosial.
Pernyataan tersebut memicu kontroversi. Banyak warganet menilai ucapan tersebut tidak pantas disampaikan oleh seorang alumni penerima beasiswa negara yang dananya berasal dari publik.
Tuai Kritik dari Warganet
Tak butuh waktu lama, unggahan tersebut langsung menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Banyak netizen yang menyampaikan kritik keras kepada Tyas.
Sebagian warganet menilai sikap Tyas mencerminkan kurangnya rasa nasionalisme. Kritik tersebut semakin menguat karena Tyas diketahui merupakan penerima beasiswa LPDP yang dibiayai oleh negara.
Bagi sebagian publik, penerima beasiswa negara seharusnya menunjukkan komitmen dan rasa cinta terhadap Tanah Air, terutama setelah memperoleh pendidikan melalui program yang dibiayai dari dana publik.
Gelombang kritik itu pun membuat nama Tyas menjadi trending di sejumlah platform digital.
Tyas Berikan Klarifikasi
Menanggapi berbagai komentar dan tudingan yang beredar, Tyas akhirnya memberikan klarifikasi melalui unggahan di media sosial.
Ia menjelaskan bahwa setelah menyelesaikan studi di Belanda pada 2017, dirinya kembali ke Indonesia untuk menjalankan kewajiban sebagai penerima beasiswa LPDP.
Menurut Tyas, selama enam tahun setelah kelulusan, ia menetap di Indonesia untuk berkontribusi sesuai ketentuan yang berlaku bagi penerima beasiswa.
“Aku lulus kuliah di Belanda tahun 2017. Selama enam tahun (2017–2023) aku menetap di Indonesia untuk memenuhi kewajiban sebagai penerima beasiswa dan berkontribusi kembali untuk Indonesia,” tulis Tyas.
Page 2
Meski sudah memberikan klarifikasi, polemik terkait Tyas belum sepenuhnya mereda. Ia kembali menjadi sorotan setelah menanggapi sebuah unggahan di platform TikTok yang menyindir dirinya.
Dalam unggahan tersebut, seorang pengguna TikTok mengutip pernyataan Purbaya Yudhi Sadewa mengenai penggunaan dana negara.
Tyas merespons unggahan tersebut dengan nada tegas dan membantah tuduhan bahwa dirinya memanfaatkan dana publik untuk kepentingan pribadi.
Ia juga menyatakan telah mencatat sejumlah akun yang menurutnya menyebarkan fitnah di media sosial.
Pernyataan tersebut justru memicu perdebatan baru di kalangan warganet yang menilai respons tersebut semakin memperkeruh situasi.
Sampaikan Permintaan Maaf
Setelah polemik semakin meluas, Tyas akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada publik.
Ia berharap kontroversi yang terjadi tidak terus berlanjut dan dapat segera mereda.
Di akhir pernyataannya, Tyas juga menyampaikan ucapan selamat menjalankan ibadah puasa kepada masyarakat yang merayakan.
Latar Belakang Pendidikan
Di luar polemik yang terjadi, Tyas diketahui memiliki latar belakang pendidikan yang cukup mumpuni. Ia merupakan lulusan Teknik Kimia dari Institut Teknologi Bandung.
Pada 2015, ia melanjutkan studi magister bidang Sustainable Energy Technology di Delft University of Technology, Belanda, melalui program beasiswa LPDP.
Selama menjalani masa pengabdian di Indonesia pada 2017 hingga 2023, Tyas terlibat dalam berbagai kegiatan sosial.
Beberapa di antaranya meliputi penanaman mangrove di wilayah pesisir, pemberdayaan ekonomi perempuan, partisipasi dalam penanganan bencana di Sumatera, hingga pembangunan sekolah di Nusa Tenggara Timur.
Polemik yang terjadi kini menjadi pengingat bahwa pernyataan di ruang publik, terutama dari figur yang pernah menerima dukungan negara, dapat memicu perdebatan luas di masyarakat. (*)
Page 3
Ia juga menegaskan bahwa kepindahannya ke Inggris bukan untuk melanjutkan studi, melainkan mengikuti suaminya sebagai bagian dari tanggung jawab keluarga.
Kritik kepada Pemerintah
Dalam klarifikasinya, Tyas juga menyampaikan bahwa sebagai warga negara ia merasa memiliki hak untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah.
Menurutnya, kritik tersebut merupakan bentuk partisipasi masyarakat dalam mengawal kebijakan publik.
“Penerima beasiswa dengan uang rakyat sudah seharusnya melontarkan kritik terhadap kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat sebagai timbal balik kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menyinggung soal kekuatan paspor Indonesia yang menurutnya berkaitan dengan kebijakan diplomasi pemerintah.
Pernyataan tersebut kembali memancing perdebatan di kalangan warganet.
Disebut sebagai Ungkapan Kekecewaan
Tyas menjelaskan bahwa pernyataannya mengenai status kewarganegaraan anak sebenarnya merupakan ungkapan kekecewaan terhadap kondisi tertentu yang ia rasakan terhadap pemerintah.
Ia menegaskan tidak bermaksud menghina Indonesia seperti yang dituduhkan sebagian pihak.
“Ungkapan ‘cukup aku saja yang WNI, anak aku jangan’ adalah bentuk kekecewaan, kemarahan, dan kekesalan terhadap kebijakan pemerintah,” jelasnya.
Namun ia juga mengakui bahwa berbagai asumsi dan penilaian publik terhadap dirinya berada di luar kendalinya.
Mahfud MD Ikut Angkat Bicara
Polemik ini turut mendapat perhatian dari mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD.
Mahfud menyampaikan kritik sekaligus nasihat kepada Tyas agar tetap menjaga rasa cinta terhadap Indonesia.
“Saya marah pada Anda karena menghina republik ini. Tapi saya juga paham bahwa pernyataan itu muncul karena kekecewaan terhadap kondisi yang ada,” ujar Mahfud.
Ia menekankan bahwa kemajuan Indonesia tidak terlepas dari perjuangan panjang bangsa.
Mahfud juga mengingatkan bahwa pendidikan yang diperoleh generasi muda, termasuk melalui beasiswa negara, merupakan bagian dari hasil perjuangan bangsa yang merdeka.








