Berita Terkini Seputar Banyuwangi
Sosial  

Banyuwangi Kembangkan Destinasi Kreatif Berbasis Kopi

Foto: Facebook/Kabupaten Banyuwangi

BANYUWANGI – Perkebunan kopi Malangsari Banyuwangi dikenal sebagai salah satu penghasil kopi terbaik nusantara yang diminati pasar Italia.

Dilansir dari banyuwangikab.go.id. di lokasi tersebut, kini tengah dikembangkan sebuah wisata edukasi kopi. Wisatawan diajak melihat kebun kopi, proses pengolahan kopi dari hulu ke hilir, hingga mencecap cita rasa kopi “lanang” robusta.

Kebun kopi Malangsari yang dikelola oleh PTPN XII terletak di wilayah pegunungan selatan Banyuwangi yang terkenal dengan produk “kopi lanang”-nya.

Berada di ketinggian di atas 400 mdpl, hawa sejuk pegunungan akan mengiringi perjalanan ke kebun kopi yang berada di Desa Kalibaru Kulon, Kecamatan kalibaru, Banyuwangi tersebut.

Memasuki kawasan kebun seluas 2.600 hektar ini, para pengunjung akan melewati jalanan pedesaan yang dipenuhi dengan panorama hamparan sawah padi. Setelahnya, akan melintasi perkebunan karet dan kopi.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan pemkab terus berupaya mendorong perkembangan wisata di Banyuwangi. Salah satunya berkolaborasi dengan BUMN menciptakan destinasi kreatif dengan mengoptimalkan aset yang ada.

“Bersama dengan PTPN XII, Pemkab serius mengembangkan destinasi berbasis kopi,” ungkap Bupati Anas,” kata Anas, Jumat (20/12/2019).

“Ini merupakan destinasi kreatif,” imbuhnya.

Karena di hamparan kebun kopi ini, pengunjung bisa menyaksikan bagaimana proses pembibitan kopi yang unggul, hingga memproses biji kopi menjadi bubuk kopi premium. Tidak hanya sekadar menghasilkan produk mentah, tapi juga mampu melakukan hilirisasi yang menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.

Bupati Anas lalu menjelaskan ketertarikannya mengembangkan wisata kreatif berbasis agro ini lantaran kebun Malangsari salah satu penghasil kopi terbaik di Indonesia. Kopi produksi Malangsari memang sangat diminati pasar Italia.

“Di Italia ada distributor besar yang hanya mau menerima kopi Banyuwangi. 80 persen kopinya kiriman dari Malangsari Banyuwangi,” kata Bupati Anas.

Atas dasar itu, kami bersama PTPN XII berniat memaksimalkan potensinya, dengan menjadikan kebun ini sebagai destinasi kreatif.

“Ini akan memberikan manfaat yang lebih banyak, tidak hanya bagi BUMN tapi juga bagi masyarakat,” tuturnya.

Sebelumnya pada 13 Desember lalu, Perkebunan Malangsari mengirim 45 ton kopi robusta ke Italia yang merupakan tahap pertama dari rencana ekspor 1.300 ton pada akhir tahun ini. Selain Italia, kopi itu juga bakal diekspor ke Inggris, Swiss, Jerman, Australia dan Jepang.

Pada awal Desember 2019, kopi dari Perkebunan Selogiri Banyuwangi yang terletak di kaki Gunung Ijen juga telah mengekspor 378 ton kopi ke Italia dan Inggris.

Bahkan, Pemkab Banyuwangi akan menggelar Festival Kopi Robusta di tahun depan dan sudah dimasukkan ke dalam agenda Banyuwangi Festival 2020 karena pemerintah daerah serius mengembangkan hilirisasi kopi di Banyuwangi.

Pemkab Banyuwangi sendiri telah menggelar berbagai pelatihan proses pengolahan kopi berkolaborasi dengan berbagai intitusi, termasuk dengan BPPT.

BPPT menurunkan ahlinya untuk membantu sejumlah SMK jurusan agro kopi mengembangkan usaha kopi. Sejumlah bank-bank nasional juga ajeg menggelar pelatihan kopi dan pengolahan coklat untuk anak muda yang tertarik mengembangkan bisnis kopi.

Secara terpisah, Direktur Utama PTPN XII M. Cholidi bahwa PTPN XII terus bersinergi dengan pemkab Banyuwangi mengembangan destinasi agrotourism edukatif. Mulai dari pendirian pabrik coklat di kebun kakao Kendeng Lembu Glenmore, wisata agro industri pabrik gula, dan kini wisata kreatif kopi robusta di Kebun Malangsari.

“Di tempat ini, akan didesain wisata edukatif yang kreatif. Kami rancang menjadi tempat belajar bersama. Petani-petani kopi lain juga bisa belajar di sini bagaimana menghasilkan kopi yang berkualitas tinggi,” ujar Cholidi.

“Ini akan menghasilkan pengalaman unik bagi wisatawan,” ungkapnya.

Sementara itu, manajer Perkebunan Malangsari, Sanuri, menjelaskan, kebun Malangsari memproduksi kopi yang premium karena secara topografi sangat pas untuk pengembangan kopi robusta.

“Selain itu, bibit kopi yang ditanam di Malangsari serta proses tanam dan petik kopi di sini diperhatikan dengan baik,” tutur Sanuri.

“Di kebun ini kita tanam tiga jenis bibit kopi. Ini sangat disarankan untuk penyerbukan agar menghasilkan cita rasa yang kaya,” imbuhnya.

Sanuri menjelaskan, ditopang bibit unggul dan topografi, kopi di kawasan setempat dinilai mampu menghasilkan cita rasa unik yang digemari pasar. Semacam ada kombinasi rasa asam dengan karamel coklatnya yang terasa di lidah.

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE